Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Faktor Preferensi Mahasiswa dalam Memilih Kampus STIKIP Abdi Wacana Wamena Berbasis Marketing Mix 7P: Analysis of Student Preference Factors in Choosing STKIP Abdi Wacana Wamena Campus Based on Marketing Mix 7P Paramma; Dasilva, Yohanes Lose; Kaisiepo, Amelia; Borean, Sutarman; Naja, Febronius Densius; Cahyo, Septian Tri
EduCurio: Education Curiosity Vol 4 No 1 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/ecu.v4i1.1540

Abstract

Tingginya kompetisi di sektor pendidikan tinggi swasta menuntut perguruan tinggi menerapkan strategi pemasaran yang efektif, terutama dalam memahami faktor-faktor yang memengaruhi preferensi calon mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengelompokkan faktor dominan preferensi mahasiswa dalam memilih STKIP Abdi Wacana Wamena berdasarkan konsep Marketing Mix 7P. Penelitian kuantitatif ini melibatkan 94 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Abdi Wacana Wamena tahun akademik 2024/2025. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert (32 butir pernyataan) dan dianalisis menggunakan Analisis Faktor Konfirmatori (CFA) dengan bantuan SPSS. Uji validitas dan reliabilitas dilakukan secara bertahap untuk memurnikan instrumen. Dari 32 butir pernyataan awal, proses eliminasi CFA menghasilkan 8 butir valid (nilai KMO-MSA akhir 0.566 dan Cronbach's Alpha 0.937). Analisis faktor selanjutnya (metode Principal Component Analysis dan rotasi Varimax) berhasil mereduksi 8 butir valid tersebut menjadi 3 faktor utama yang memengaruhi preferensi mahasiswa, yaitu: (1) Faktor Orang (People), diwakili oleh kualitas dosen dan intensitas interaksi langsung kampus dengan calon mahasiswa; (2) Faktor Promosi (Promotion), diwakili oleh efektivitas kegiatan promosi kampus dan faktor sumber daya manusia yang terlibat; dan (3) Faktor Citra/Reputasi (Image), diwakili oleh citra, reputasi, kredibilitas kampus, dan faktor proses pelayanan. Faktor yang paling dominan dalam memengaruhi preferensi mahasiswa STKIP Abdi Wacana Wamena adalah Faktor Orang (People), yang menyerap varians terbesar sebesar 23.489%. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia, terutama dosen, merupakan keunggulan kompetitif utama dan penentu keputusan bagi calon mahasiswa. Perguruan tinggi disarankan memprioritaskan investasi pada kualitas dan kompetensi dosen serta memperkuat interaksi personal dalam strategi penerimaan mahasiswa baru.
Frasa Adjektiva dalam Bahasa Bolakme: Kajian Semantik Yohanes Lose Dasilva; Febronius Densius Naja; Amelia Kaisiepo; Sutarman Borean
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i2.1539

Abstract

This research aims to analyze adjectival phrases in the Bolakme language from a semantic perspective. The main focus of this research is on the form, structure, and meaning of adjectival phrases, as well as their comparison with equivalents in Indonesian to reveal the distinctive nuances of meaning in the Bolakme language. This research uses a descriptive qualitative approach, with data sources consisting of 30 adjectival phrases obtained through interviews, direct observation, and documentation. The sample was taken using purposive sampling with a total of 10 native Bolakme speakers as informants. The analysis technique uses meaning and context analysis methods. The research results show that adjectival phrases in the Bolakme language have a wealth of forms and meanings. Some phrases are formed by the repetition of morphemes to emphasize meaning, such as arek-arek which means "suddenly”. Phrases like maluk ekerak (failed) depict a combination of the meanings "dishonorable" and "fall," indicating a total failure. The phrase in egen amberi, which means "original," reflects a strong cultural identity. The phrases porok jegerak (absorbed) and wagangge (accepted) have deep semantic meanings related to the processes of social and psychological acceptance. In some cases, a word like maluk has a dual meaning, namely "despicable," "ugly," or "damaged," depending on the context. Thus, it can be concluded that adjectival phrases in the Bolakme language not only contain descriptive information but also reflect the worldview, cultural values, and collective experiences of its speakers. This research is expected to contribute to the preservation of regional languages in Papua and enrich semantic studies in local linguistics.
Frasa Penolakan dalam Bahasa Suku Walak: Kajian Sintaksis Yohanes Lose Dasilva; Sutarman Borean; Lemurah Wenda; Paramma Paramma
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i2.1573

Abstract

Tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk dan struktur frasa negasi dalam bahasa Walak yang digunakan oleh masyarakat di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Bahasa Walak sebagai salah satu khazanah bahasa daerah memiliki ciri sintaksis yang unik dan belum banyak dikaji secara ilmiah. Penelitian-penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada leksikon dasar atau sistem fonologi bahasa Walak, tetapi belum menyentuh aspek sintaksisnya, khususnya pada frasa negasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnolinguistik. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan penutur asli, dan pencatatan kosakata yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frasa tolakan dalam bahasa Walak terbentuk dengan menggabungkan kata-kata negasi seperti inggudlek, dlek, negen, atau madluk dengan kata sifat atau kata kerja. Terdapat struktur tetap dan struktur fleksibel dalam pembentukan frasa negasi yang mencerminkan logika tutur masyarakat Walak yang unik. Pembahasan hasil penelitian menunjukkan bahwa frasa penolakan dalam bahasa Walak tidak hanya memiliki fungsi linguistik, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya dan hubungan sosial yang kuat dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya dokumentasi bahasa daerah dan menjadi rujukan sintaksis dalam kajian linguistik lokal.