Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konservasi pesisir berbasis komunitas: penanaman pandan laut (Pandanus tectorius) untuk perlindungan habitat dan edukasi lingkungan di Batu Hiu, Pangandaran Herawati, Titin; Rahayu, Indriyani; Prihadi , Donny Juliandri; Anggraeni, Santi R.; Ismail, M. Rudyansyah; Maqbul, Ismail; Zallesa, Sheila; Bachtiar, Eri; Umar Abdurrahman
PERDIKAN (Journal of Community Engagement) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/pjce.v7i2.22150

Abstract

Coastal areas play a crucial role in sustaining marine ecosystems and the livelihoods of local communities. However, pressures from abrasion, vegetation degradation, and human activities threaten the sustainability of ecosystems. This Community Service and Empowerment program aimed to encourage direct community involvement in coastal conservation through the planting of Pandanus tectorius in Batu Hiu, Pangandaran. The methods applied were participatory approaches, including community coordination, environmental education, planting activities, and initial monitoring. The results showed the successful planting of hundreds of Pandanus tectorius seedlings in coastal areas vulnerable to abrasion, the release of 129 turtle hatchlings over three years of activities, and an increase in community knowledge about the ecological functions of Pandanus tectorius. Discussions with the community revealed the growth of collective awareness and concern for coastal conservation. This program demonstrates that marine ecotourism with a community-based conservation approach can serve as an effective strategy to protect coastal habitats while instilling environmental sustainability values.[Kawasan pesisir memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut dan kehidupan masyarakat. Namun, tekanan akibat abrasi, degradasi vegetasi, serta aktivitas manusia mengancam keberlanjutan ekosistem. Kegiatan Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) ini bertujuan mendorong keterlibatan langsung masyarakat dalam konservasi pesisir melalui penanaman pandan laut (Pandanus tectorius) di kawasan Batu Hiu, Pangandaran. Metode yang digunakan adalah pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development) partisipatif berupa koordinasi dengan masyarakat, edukasi lingkungan, aksi penanaman, dan monitoring awal. Hasil kegiatan menunjukkan keberhasilan penanaman ratusan bibit pandan laut di area pesisir rawan abrasi, pelepasan 129 ekor tukik, serta peningkatan pengetahuan masyarakat tentang fungsi ekologis pandan laut. Diskusi dengan masyarakat menunjukkan tumbuhnya kesadaran dan kepedulian kolektif terhadap konservasi pesisir. Kegiatan ini membuktikan bahwa ekowisata laut dengan pendekatan konservasi berbasis komunitas dapat menjadi strategi efektif untuk melindungi habitat pesisir sekaligus menanamkan nilai keberlanjutan lingkungan.]
Kepedulian Perusahaan Terhadap Tujuan SDGS 14 (Life Below Water): Bukti Empiris dan Implikasinya Bagi Kebijakan Kelautan Nasional Dining Nika Alina; Ahmad Hambali; Umar Abdurrahman; Ismail Maqbul; Ernawati Ernawati; Neng Tanty Sofyana
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jksekp.v16i1.15895

Abstract

Peran perusahaan semakin krusial dalam pencapaian SDGs 14 (Life Below Water) karena aktivitas bisnis dapat mempercepat degradasi ekosistem laut maupun mendorong praktik keberlanjutan. Namun, bukti empiris tentang sejauh mana perusahaan berkomitmen pada SDGs 14 dan faktor internal yang memengaruhinya masih terbatas, khususnya di negara berkembang dan konteks Indonesia, karena riset terdahulu lebih banyak menyoroti SDGs secara umum atau isu lingkungan yang tidak spesifik pada ekosistem laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah tersebut dengan menganalisis perusahaan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2016–2023. Kepedulian terhadap SDGs 14 diukur menggunakan variabel dummy SDGs14 yakni 1 jika perusahaan memuat deklarasi, strategi, atau aksi eksplisit terkait SDG 14; 0 jika tidak. Analisis utama menggunakan regresi logistik (logit). Studi ini menemukan bahwa komitmen perusahaan terhadap SDGs 14 masih relatif terbatas dan cenderung bervariasi antar sektor. Temuan lainnya menunjukkan bahwa perusahaan yang lebih besar, memiliki skor ESG (Enviromental, Social, and Governance) tinggi, serta berasal dari sektor berdampak tinggi terhadap laut seperti energi dan infrastruktur, cenderung lebih peduli terhadap isu keberlanjutan laut. Sebaliknya, perusahaan dengan leverage tinggi dan usia lebih tua menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Implikasi praktis dari temuan ini menekankan perlunya pendekatan kebijakan yang lebih berbasis sektor, pemberian insentif terhadap praktik ESG yang baik, serta intervensi pemerintah untuk mendorong keterlibatan korporasi secara lebih merata dalam pelestarian ekosistem laut nasional. Title: Analysis of Corporate Concerns Towards SDGS Goal 14: Implications for National Marine PoliciesThe role of corporations has become increasingly critical in achieving SDG 14 (Life Below Water) because business activities can both accelerate the degradation of marine ecosystems and promote sustainability practices. However, empirical evidence on the extent of corporate commitment to SDG 14 and the internal factors influencing it remains limited, particularly in developing countries and in the Indonesian context, since prior studies have tended to focus on the SDGs in general or on environmental issues that are not specific to marine ecosystems. This study aims to fill this gap by examining firms listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) over the 2016–2023 period. Concern for SDG 14 is measured using an SDGs14 dummy variable coded 1 if the firm reports explicit declarations, strategies, or actions related to SDG 14, and 0 otherwise. The main analysis employs logistic regression (logit). The study finds that corporate commitment to SDG 14 remains relatively limited and varies across sectors. The results further show that larger companies, those with high ESG (Enviromental, Social, and Governance) scores, and those from sectors with high impacts on the ocean such as energy and infrastructure, tend to be more concerned about marine sustainability issues. In contrast, companies with high leverage and older age show the opposite tendency. The practical implications of these findings emphasize the need for a more sector-based policy approach, incentives for good ESG practices, and government intervention to encourage more equitable corporate involvement in preserving national marine ecosystems.