Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Evaluasi Akurasi Aplikasi Simulasi Perancangan PLTS Berbasis WEB Studi Kasus : Dinas ESDM PRovinsi Jawa Tengah Rizky Adi Nugraha; Muhammad Rifqy Arya Marendra
Knowledge on Sustainability, Longevity, and Interdisciplinary Vol. 1 No. 2 (2025): KONSULI: Knowledge on Sustainability, Longevity, and Interdisciplinary
Publisher : PT Konsuli Corpora Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Listrik merupakan kebutuhan utama manusia modern, namun pembangkitannya masih didominasi energi fosil. Energi terbarukan, khususnya tenaga surya, kontribusinya masih kecil dalam bauran energi nasional. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui inisiatif Jateng Solar Province mendorong penggunaan energi bersih dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah. Dinas ESDM berperan penting dalam implementasi program ini, seperti pemasangan PLTS di gedung pemerintahan, contohnya PLTS 30,94 kWp yang menghasilkan energi signifikan dan mengurangi emisi karbon. Penelitian ini mengevaluasi deviasi hasil simulasi dari aplikasi PVGIS, PVWatts, dan Global Solar Atlas (GSA) dibandingkan data produksi energi aktual PLTS di gedung pemerintahan tersebut. Analisis menunjukkan deviasi signifikan dengan Mean Bias Error (MBE) tahunan negatif, menandakan simulasi cenderung melebih lebihkan produksi energi. Pada 2023, MBE tahunan untuk PVWatts, PVGIS, dan GSA berturut-turut -6,33%, -8,46%, dan -3,51%, dengan Root Mean Square Error (RMSE) mencapai 11,71%, 11,20%, dan 8,43%. Pada 2024, deviasi meningkat dengan MBE -13,27%, -16,41%, dan -14,07%, serta RMSE sekitar 17-18%. Simulasi paling akurat pada musim kemarau, khususnya GSA dengan MBE 0,16% pada 2023, sementara musim hujan dan peralihan menunjukkan deviasi lebih besar. Analisis data BMKG terkait suhu, kelembapan, lama penyinaran, dan curah hujan mengungkapkan penurunan produksi aktual pada musim hujan disebabkan oleh faktor lingkungan yang tidak sepenuhnya tercermin dalam simulasi. Kesimpulannya, aplikasi simulasi memberikan estimasi awal baik pada musim kemarau, namun akurasi menurun saat musim hujan dan peralihan. Kalibrasi dengan data aktual dan variabel lingkungan diperlukan untuk meningkatkan akurasi prediksi. Pendekatan ini penting untuk mendukung perencanaan PLTS yang realistis dan adaptif, serta memperkuat peran Dinas ESDM Jawa Tengah dalam mendorong transisi energi bersih yang inklusif dan berkelanjutan.
Perancangan Sistem hibrida PLTS-PLTB-PLTD-BESS di Daerah 3T (Studi Kasus Pulau Semau) Mohamad Isnaeni Romadhon; Rizky Adi Nugraha
Knowledge on Sustainability, Longevity, and Interdisciplinary Vol. 2 No. 3 (2026): KONSULI: Knowledge on Sustainability, Longevity, and Interdisciplinary
Publisher : PT Konsuli Corpora Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Semau merupakan salah satu wilayah kepulauan di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki potensi energi baru terbarukan cukup besar, khususnya energi surya dan energi angin. Namun, sistem kelistrikan di pulau tersebut masih bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang memiliki biaya operasional tinggi sehingga penyaluran listrik kepada masyarakat masih dibatasi selama 12 jam per hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis performa teknis dan keekonomian sistem Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (PLTH) berbasis PLTS, PLTB, PLTD, dan Battery Energy Storage System (BESS) di Pulau Semau menggunakan perangkat lunak HOMER Pro.Metode penelitian dilakukan dengan memodelkan sistem kelistrikan berdasarkan data profil beban, potensi energi surya, kecepatan angin, spesifikasi pembangkit, serta parameter biaya pembangkitan. Total kebutuhan energi listrik Pulau Semau sebesar 5415 kWh/hari dengan rata-rata beban harian sebesar 225,625 kW dan beban puncak mencapai 1005,38 kW. Penelitian ini membandingkan dua skenario sistem pembangkit hibrid yaitu skenario 1 (PLTS-PLTB-BESS) dan skenario 2 (PLTS-PLTB-PLTDBESS).Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem eksisting berbasis PLTD menghasilkan energi listrik sebesar 2,8 GWh/tahun dengan konsumsi bahan bakar mencapai 843.221 liter/tahun dan nilai Levelized Cost of Energy (LCOE) sebesar 27,02 USD/kWh. Pada skenario 1 diperoleh renewable fraction sebesar 100% dengan nilai unmet electrical load sebesar 50.129 kWh/tahun dan nilai Net Present Cost (NPC) sebesar 26,4 juta USD. Sedangkan pada skenario 2 diperoleh renewable fraction sebesar 98,7% dengan unmet electrical load sebesar 0 kWh/tahun dan nilai NPC sebesar 32,2 juta USD.Berdasarkan hasil analisis, sistem PLTS-PLTB-PLTDBESS dinilai lebih optimal untuk diterapkan di Pulau Semau karena mampu memenuhi kebutuhan energi listrik secara penuh dengan tingkat keandalan sistem yang lebih baik meskipun memiliki nilai NPC sedikit lebih tinggi. Implementasi sistem pembangkit listrik hibrid berbasis energi terbarukan di Pulau Semau diharapkan dapat mendukung percepatan transisi energi serta meningkatkan rasio elektrifikasi pada wilayah kepulauan terpencil di Indonesia. 
Studi Kajian Literatur Teknologi Purifikasi Biogas Skala Rumah Tangga (10–20 m³) Sandra Aditya Kurniawan; Rizky Adi Nugraha
Knowledge on Sustainability, Longevity, and Interdisciplinary Vol. 2 No. 1 (2026): KONSULI: Knowledge on Sustainability, Longevity, and Interdisciplinary
Publisher : PT Konsuli Corpora Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengolahan dan pemurnian biogas skala rumah tangga dengan kapasitas 10–20 m³ menghadapi tantangan teknis terkait kandungan H₂S, kelembapan, serta tekanan operasi yang rendah. Penelitian ini membahas kinerja berbagai teknologi purifikasi sederhana, termasuk water trap, H₂S filter berbasis besi oksida, serta moisture remover, dan bagaimana konfigurasi terpadu dapat meningkatkan kualitas bahan bakar. Tinjauan literatur menunjukkan bahwa kombinasi iron oxide filter dan moisture trap memberikan efisiensi penyisihan H₂S yang tinggi (>90%) sekaligus menurunkan risiko korosi pada kompor maupun genset. Selain itu, sistem purifikasi berbiaya rendah terbukti cukup untuk meningkatkan nilai kalor  dan memperpanjang umur peralatan pada tekanan operasi tipikal 5–15 kPa. Kajian ini juga menyoroti aspek desain dan operasional, termasuk kebutuhan penggantian media, penyesuaian terhadap variasi aliran gas, serta potensi risiko keselamatan seperti kebocoran dan akumulasi gas. Berdasarkan hasil analisis, rekomendasi diberikan untuk pengembangan sistem modular, pemanfaatan adsorben lokal, dan perlunya pengujian lebih lanjut terkait tekanan serta flowrate aktual di lapangan.
Analisis Perbedaan Produksi Energi Akibat Pola Operasional pada Sistem PLTS Atap dengan Pembanding Simulasi PVWatts Nanang Aribowo; Rizky Adi Nugraha
Knowledge on Sustainability, Longevity, and Interdisciplinary Vol. 2 No. 1 (2026): KONSULI: Knowledge on Sustainability, Longevity, and Interdisciplinary
Publisher : PT Konsuli Corpora Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem fotovoltaik (PV) atap yang dipasang pada gedung pemerintah memiliki potensi besar dalam mendukung target transisi energi nasional. Namun, kinerja aktual sistem sering kali berbeda dari hasil simulasi akibat karakteristik operasional bangunan. Penelitian ini menganalisis kinerja sistem PV atap berkapasitas 30 kWp yang terpasang pada sebuah gedung pemerintah di Kota Semarang dengan membandingkan produksi energi aktual periode 2020–2024 terhadap hasil simulasi menggunakan PVWatts. Data selama lima tahun menunjukkan bahwa rata-rata produksi energi aktual harian sebesar 29,11 kWh/hari, sekitar 15–25% lebih rendah dibandingkan estimasi PVWatts. Penyebab utama deviasi ini meliputi pola operasional gedung yang hanya berlangsung lima hari kerja, sehingga mengurangi potensi penyerapan energi sekitar 28,6% pada akhir pekan, serta kondisi beban rendah selama masa pandemi COVID-19 yang menyebabkan inverter beroperasi pada daerah efisiensi yang lebih rendah. Faktor lain yang turut berkontribusi meliputi suhu lingkungan yang tinggi, penurunan kinerja modul akibat efek termal (thermal derating), serta asumsi PVWatts yang menganggap operasi sistem berlangsung penuh selama tujuh hari dalam seminggu. Meskipun demikian, analisis Performance Ratio (PR), khususnya PR terkoreksi, menunjukkan bahwa sistem beroperasi secara normal sesuai dengan kondisi operasional aktual. Temuan ini menegaskan bahwa perbedaan antara hasil simulasi dan kinerja aktual tidak selalu menunjukkan adanya gangguan sistem, melainkan mencerminkan realitas operasional di lapangan. Hasil penelitian ini memberikan wawasan penting dalam meningkatkan strategi pemantauan dan pengelolaan instalasi PV pada fasilitas pemerintah. 
Tinjauan Regulasi Pemanfaatan Pompa Air Tenaga Surya (PATS) di Indonesia: Integrasi Kebijakan Energi Terbarukan dan Pengelolaan Sumber Daya Air Rizky Adi Nugraha; Sandra Aditya Kurniawan
Knowledge on Sustainability, Longevity, and Interdisciplinary Vol. 2 No. 2 (2026): KONSULI: Knowledge on Sustainability, Longevity, and Interdisciplinary
Publisher : PT Konsuli Corpora Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan pompa air tenaga surya (PATS) di Indonesia semakin berkembang sebagai solusi penyediaan air bersih dan irigasi yang ramah lingkungan. Namun, implementasinya memerlukan kepatuhan terhadap berbagai regulasi energi dan sumber daya air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerangka hukum dan kebijakan yang mengatur penerapan PATS di Indonesia dengan menyoroti keterkaitan antara kebijakan energi terbarukan dan perizinan pengambilan air. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif melalui analisis dokumen hukum dan kebijakan nasional, termasuk Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, serta Peraturan Menteri PUPR Nomor 01/PRT/M/2016 tentang Tata Cara Perizinan Pengusahaan Sumber Daya Air. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun regulasi energi telah memberikan dasar hukum yang kuat bagi pemanfaatan teknologi surya, masih terdapat tantangan koordinasi lintas sektor antara Kementerian ESDM, PUPR, dan KLHK. Diperlukan harmonisasi kebijakan agar implementasi PATS dapat berjalan legal, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung ketahanan energi dan air nasional.