Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

OPTIMALISASI KUALITAS QIROATUL QURAN MELALUI TAHSIN DI DESA GUNUNG SARI Angga Aditya; Aulia Roudotul Jannah; Rachmat Alfisyahar; Ida Kurnia Shofa
Khadimul Mujtama’: Journal of Community Service Vol. 1 No. 1 (2025): Khadimul Mujtama': Journal of Community Service
Publisher : LPPM Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51875/khadimulmujtama.v1i1.405

Abstract

Permasalahan utama yang dihadapi TPQ Al-Ikhlas dan TPQ Nurul Ahmad Desa Gunung Sari adalah lemahnya kualitas bacaan Al-Qur’an santri, khususnya dalam aspek makhraj, tajwid, dan kelancaran membaca. Hal ini terjadi karena keterbatasan guru dalam menguasai metode tahsin secara komprehensif dan kurangnya pendampingan sistematis dalam pembelajaran Al-Qur’an. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kualitas qiroatul Qur’an santri melalui pendampingan tahsin. Metode yang digunakan meliputi talaqqi, musyafahah, dan pendekatan partisipatif dalam halaqah Al-Qur’an. Evaluasi kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca santri, baik dalam aspek tajwid maupun kelancaran bacaan. Selain itu, guru TPQ juga memperoleh pemahaman baru dalam mengajarkan metode tahsin dengan lebih sistematis dan aplikatif. Kegiatan ini berkontribusi terhadap penguatan kualitas pendidikan Al-Qur’an di tingkat masyarakat serta memberikan model pemberdayaan berbasis majelis ta’lim yang dapat direplikasi di tempat lain
Analisis Semantik Istilah Umm dan Wālidah dalam Al-Qur’an (Menurut Teori Toshihiko Izutsu) Siti Hajar; Ida Kurnia Shofa; Khoirun Nidhom
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 10 No. 1 (2026): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v10i1.578

Abstract

Istilah umm dan wālidah dalam Al-Qur’an umumnya diterjemahkan dengan makna yang sama, yaitu “ibu”. Namun, keduanya memiliki perbedaan makna, fungsi, dan konteks penggunaan yang berpotensi mempengaruhi pemahaman terhadap pesan Al-Qur’an. Penelitia ini bertujuan menganalisis makna istilah umm dan wālidah dalam Al-Qur’an melalui pendekatan semantik Toshihiko Izutsu berdasarkan data yang diperoleh dari kitab tafsir dan kamus bahasa Arab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa istilah umm di dalam Al-Qur’an mempunyai makna yang lebih luas karena tidak hanya merujuk pada ibu, tetapi juga bermakna asal, sumber, pusat, induk, serta tempat kembali. Sedangkan istilah wālidah mempunyai makna yang lebih spesifik yaitu merujuk pada ibu biologis. Istilah umm dan wālidah mempunyai medan makna dan fungsi semantik yang berbeda di dalam Al-Qur’an. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian semantik Al-Qur’an, khususnya terkait dengan analisis perbedaan makna kosakata yang diterjemahkan penggunaannya secara serupa melalui pendekatan semantik Toshihiko Izutsu. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya memahami istilah-istilah Al-Qur’an berdasarkan konteks sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami secara lebih komprehensif.
Kecerdasan Emosional Perempuan dalam Kisah Maryam: Analisis QS. Maryam Ayat 23–26 dalam Tafsir Al-Tahrir Wa Al-Tanwir Rahmania Azahra; Ida Kurnia Shofa; Jaka Ghianovan
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v16i1.1424

Abstract

Penelitian ini membahas kecerdasan emosional perempuan yang terdapat dalam kisah Maryam pada QS. Maryam ayat 23–26, dengan menggunakan perspektif Al-Tahrir wa Al-Tanwir karya Muhammad al-Tahir Ibn Ashur. Fokus dari penelitian ini adalah pentingnya kecerdasan emosional bagi kehidupan perempuan modern yang sering kali menghadapi berbagai tekanan sosial, psikologis, dan emosional. Al-Qur’an melalui kisah Maryam menggambarkan pengelolaan emosi, keteguhan hati, serta bentuk ketahanan diri ketika menghadapi ujian dalam hidup. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi bentuk kecerdasan emosional perempuan dalam QS. Maryam ayat 23–26 dan menganalisis penafsiran Ibn ‘Asyur terhadap ayat-ayat tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu’i). Sumber utama dari penelitian ini adalah kitab Al-Tahrir wa Al-Tanwir, sedangkan sumber pendukungnya meliputi buku, jurnal, dan literatur lain yang berhubungan dengan kecerdasan emosional dan tafsir Al-Qu’ran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisah Maryam dalam QS. Maryam ayat 23–26 mengandung nilai-nilai kecerdasan emosional, seperti kesadaran emosi (self-awareness), pengendalian diri (self-regulation), ketahanan mental (emotional resilience), dan sikap tawakal kepada Allah. Dalam penafsiran Ibn ‘Asyur, kondisi emosional Maryam dipahami sebagai bentuk tekanan psikologis dan sosial yang tetap dihadapi dengan keteguhan iman serta kepasrahan kepada Allah Swt. Nilai-nilai tersebut relevan dengan kehidupan perempuan masa kini dalam menghadapi berbagai tekanan emosional secara bijaksana dan spiritual.
Otoritas Keagamaan dalam Tafsir al-Ibriz Karya KH. Bisri Mustofa: Analisis terhadap QS. al-Baqarah (2):34 dan QS. al-Ḥujurat (49):13 Junita Agustin; Ida Kurnia Shofa; Khoirun Nidhom
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 10 No. 2 (2026): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v10i2.577

Abstract

Artikel ini mengkaji bagaimana ta‘ẓīm dalam tradisi pesantren dapat bergeser dari bentuk penghormatan etis menjadi otoritas keagamaan yang dominatif dan hierarkis. Penelitian ini memusatkan perhatian pada Tafsir al-Ibrīz karya KH. Bisri Mustofa sebagai tafsir pesantren yang lahir dari kultur keilmuan Islam Jawa. Artikel ini bertujuan menelaah apakah penafsiran QS. al-Baqarah [2]:34 dan QS. al-Ḥujurāt [49]:13 dalam al-Ibrīz memperkuat otoritas keagamaan yang dominatif atau justru menyediakan batas etik terhadapnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif kepustakaan melalui analisis wacana kritis terhadap Tafsir al-Ibrīz dengan dukungan kajian-kajian tentang ta‘ẓīm, kesetaraan, otoritas keagamaan, dan tradisi pesantren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bisri Mustofa tidak menolak ta‘ẓīm, tetapi menempatkannya dalam batas etis yang tegas. Pada QS. al-Baqarah [2]:34, penghormatan kepada Adam dipahami sebagai ketaatan kepada Allah, bukan penghambaan kepada makhluk, sedangkan QS. al-Ḥujurāt [49]:13 menolak superioritas berbasis nasab dan status sosial dengan menegaskan takwa sebagai ukuran kemuliaan manusia. Dengan demikian, al-Ibrīz mengonstruksi otoritas keagamaan melalui keseimbangan antara penghormatan dan kesetaraan: figur berilmu tetap dihormati, tetapi kedudukannya tidak bersifat mutlak dan tetap tunduk pada tanggung jawab.