Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PELATIHAN KAIDAH DAQU DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN DI PONDOK PESANTREN ASHABUS SYUFFAH Karnita Maharani; Ridhani Ayu Nur Hikmah; Khoirun Nidhom
Khadimul Mujtama’: Journal of Community Service Vol. 1 No. 1 (2025): Khadimul Mujtama': Journal of Community Service
Publisher : LPPM Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51875/khadimulmujtama.v1i1.452

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi metode Kaidah Daqu dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an para santri di Pondok Pesantren Ashabus Syuffah. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian meliputi santri, ustadz/ustadzah, dan pengelola pondok pesantren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kaidah Daqu yang mencakup metode pembelajaran berbasis talaqqi, nadzhom, serta pembiasaan membaca Al-Qur'an secara intensif terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an santri. Faktor-faktor pendukung keberhasilan implementasi kaidah Daqu meliputi dukungan penuh dari pengasuh pesantren, serta komitmen santri dalam belajar. Adapun tantangan yang dihadapi meliputi perbedaan latar belakang kemampuan santri, kurangnya media pembelajaran,dan keterbatasan waktu belajar. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu kekurangan yang ada akan tertutupi dengan semangat dari para pengajar dan para santri dalam proses pembelajaran.Temuan ini memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan metode pembelajaran Al-Qur'an di pondok pesantren untuk membentuk generasi yang unggul dalam pemahaman dan pengamalan Al-Qur'an.
Analisis Semantik Istilah Umm dan Wālidah dalam Al-Qur’an (Menurut Teori Toshihiko Izutsu) Siti Hajar; Ida Kurnia Shofa; Khoirun Nidhom
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 10 No. 1 (2026): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v10i1.578

Abstract

Istilah umm dan wālidah dalam Al-Qur’an umumnya diterjemahkan dengan makna yang sama, yaitu “ibu”. Namun, keduanya memiliki perbedaan makna, fungsi, dan konteks penggunaan yang berpotensi mempengaruhi pemahaman terhadap pesan Al-Qur’an. Penelitia ini bertujuan menganalisis makna istilah umm dan wālidah dalam Al-Qur’an melalui pendekatan semantik Toshihiko Izutsu berdasarkan data yang diperoleh dari kitab tafsir dan kamus bahasa Arab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa istilah umm di dalam Al-Qur’an mempunyai makna yang lebih luas karena tidak hanya merujuk pada ibu, tetapi juga bermakna asal, sumber, pusat, induk, serta tempat kembali. Sedangkan istilah wālidah mempunyai makna yang lebih spesifik yaitu merujuk pada ibu biologis. Istilah umm dan wālidah mempunyai medan makna dan fungsi semantik yang berbeda di dalam Al-Qur’an. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian semantik Al-Qur’an, khususnya terkait dengan analisis perbedaan makna kosakata yang diterjemahkan penggunaannya secara serupa melalui pendekatan semantik Toshihiko Izutsu. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya memahami istilah-istilah Al-Qur’an berdasarkan konteks sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami secara lebih komprehensif.
Konsep Banān dalam QS Al-Qiyāmah Ayat 3–4 Perspektif Tafsir al-Jawāhir dan Relevansinya dengan Biometrik Modern Amanda Utari; Khoirun Nidhom; Mohamad Mualim
Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an, Tafsir dan Pemikiran Islam Vol. 7 No. 2 (2026): Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Qur'an, as the holy book of Muslims, contains scientific allusions whose relevance to modern scientific developments continues to be studied. One such allusion is found in QS. Al-Qiyāmah verses 3–4, specifically in the mention of the term banān (fingertips), which is often associated with the concept of fingerprints in modern biometrics. This study aims to analyze Ṭanṭāwī Jawharī's interpretation of these verses in Tafsir al-Jawāhir and to examine its relevance to contemporary biometric technology. The research employs a library research method with a thematic exegesis approach (mauḍū‘ī) and descriptive-analytical analysis. The primary data sources are QS. Al-Qiyāmah verses 3–4 and Ṭanṭāwī Jawharī's Tafsir al-Jawāhir. The results reveal that Ṭanṭāwī Jawharī interpreted the term banān as a symbol of the perfection and precision of human creation, demonstrating Allah's power to resurrect humans in complete form. The scientific exegesis style he employed opens a space for contextual understanding, wherein the mention of fingertips can be perceived as an allusion to the uniqueness of human biological identity, which has since been scientifically proven through fingerprint technology in modern biometric systems. This relevance highlights the dimension of i'jāz 'ilmī (scientific inimitability) within the verse. Nevertheless, this study emphasizes that the relationship between the verse and science must be understood proportionally as a reflective correlation, rather than an apologetic attempt to fit sacred text to scientific theory, thereby preserving the primary function of the Qur'an as a book of guidance.
A QIRA'AH MUBADALAH PERSPECTIVE ON Q.S. AR-RŪM [30]:21 IN UNDERSTANDING THE MARITAL RELATIONSHIP IN THE CASE OF DHI AND LYANA Vania Hanifa; Mohamad Mualim; Khoirun Nidhom
JIQTA: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (JIQTA)
Publisher : STAI Asy-Syukriyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36769/jiqta.v5i2.2244

Abstract

This study examines the marital relationship between Dhi and Lyana through the lens of Qirā'ah Mubādalah in interpreting Q.S. Ar-Rūm [30]:21. This study is motivated by the limited integration of Qirā'ah Mubādalah into interpretations of Q.S. Ar-Rūm [30]:21, as previous studies have generally interpreted the verse from a normative perspective or applied Qira'ah Mubadalah primarily to discussions of nushūz in Q.S. An-Nisā' [4]:34 and [4]:128. This study employs a qualitative case study design based on one year of participant observation complemented by library research. The findings demonstrate that sakinah, mawaddah, and raḥmah constitute shared rights and shared responsibilities of both spouses grounded in the principle of reciprocity. The case of Dhi and Lyana further shows that unilateral polygamy, arranged marriage without a strong emotional bond, and nushūz understood as a relational problem undermine the foundation of an egalitarian marital relationship. This study demonstrates that Qira'ah Mubadalah provides a more contextual interpretation of Q.S. Ar-Rūm [30]:21 by positioning it as a theological foundation for understanding and fostering marital relationships that are just, reciprocal, and oriented toward maṣlaḥah within contemporary Muslim families.
Otoritas Keagamaan dalam Tafsir al-Ibriz Karya KH. Bisri Mustofa: Analisis terhadap QS. al-Baqarah (2):34 dan QS. al-Ḥujurat (49):13 Junita Agustin; Ida Kurnia Shofa; Khoirun Nidhom
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 10 No. 2 (2026): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v10i2.577

Abstract

Artikel ini mengkaji bagaimana ta‘ẓīm dalam tradisi pesantren dapat bergeser dari bentuk penghormatan etis menjadi otoritas keagamaan yang dominatif dan hierarkis. Penelitian ini memusatkan perhatian pada Tafsir al-Ibrīz karya KH. Bisri Mustofa sebagai tafsir pesantren yang lahir dari kultur keilmuan Islam Jawa. Artikel ini bertujuan menelaah apakah penafsiran QS. al-Baqarah [2]:34 dan QS. al-Ḥujurāt [49]:13 dalam al-Ibrīz memperkuat otoritas keagamaan yang dominatif atau justru menyediakan batas etik terhadapnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif kepustakaan melalui analisis wacana kritis terhadap Tafsir al-Ibrīz dengan dukungan kajian-kajian tentang ta‘ẓīm, kesetaraan, otoritas keagamaan, dan tradisi pesantren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bisri Mustofa tidak menolak ta‘ẓīm, tetapi menempatkannya dalam batas etis yang tegas. Pada QS. al-Baqarah [2]:34, penghormatan kepada Adam dipahami sebagai ketaatan kepada Allah, bukan penghambaan kepada makhluk, sedangkan QS. al-Ḥujurāt [49]:13 menolak superioritas berbasis nasab dan status sosial dengan menegaskan takwa sebagai ukuran kemuliaan manusia. Dengan demikian, al-Ibrīz mengonstruksi otoritas keagamaan melalui keseimbangan antara penghormatan dan kesetaraan: figur berilmu tetap dihormati, tetapi kedudukannya tidak bersifat mutlak dan tetap tunduk pada tanggung jawab.