Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analyzing Facebook as a Promotional Tool for Umrah Services: A Study of PT. Jasiyah Travel Service Makassar Rahmadia Aulia; Margaretha Wadid Rante; Wayan Suardana
Proceedings International Conference on Marine Tourism and Hospitality Studies Vol. 1 No. 1 (2024): Proceedings International Conference on Marine Tourism and Hospitality Studies
Publisher : Politeknik Pariwisata Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33649/iconmths.v1i1.386

Abstract

The demand for Umrah or Umrah worship by Muslims has increased, especially in Indonesia. Travel agencies are also increasing their promotional efforts to provide Umrah services. This research aims to 1) analyse the use of Facebook social media in promoting Umrah packages and 2) describe the constraints or obstacles in promoting Umrah packages by travel agencies. The research uses a qualitative approach to understanding travel agencies' use of social media. The research was carried out at PT. Jasiyah Travel Service, Makassar City, is one of the companies that provide Umrah services for Muslims in Indonesia—the research utilized interview data from company staff, especially those responsible for managing Facebook. The research results show that the company has utilised Facebook to promote Umrah packages. The company's target is adult and elderly customers, where there is a tendency to understand that adults and the elderly mostly use Facebook. The company admin staff has used Facebook to optimise its use as a promotional tool. Utilizing Facebook features are friends, pages, Facebook walls, captions, reels, stories, geotags or locations, likes, comments, messengers, and live broadcasts. However, the company still has features that need to be utilised properly. Company staff experienced problems utilising social media, namely, limited knowledge regarding Facebook's features and a need for updated information regarding the company's tourism products. This research proposes the importance of updating information based on new data, for example, company logos, Facebook, Instagram, website and email usernames. Detailed information about company products can be an effective promotional tool for reaching Umrah customers
Peran Interpretasi Non-Personal Terhadap Kualitas Pengalaman Wisata Edukasi di Museum Karaeng Pattingalloang Venesia dewi Lestari; Amirullah; Margaretha Wadid Rante
ITINERARY: Journal of Travel Operation and Travel Business Vol. 1 No. 2 (2025): ITINERARY: Journal of Travel Operation and Travel Business
Publisher : Politeknik Pariwisata Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33649/14n8bm15

Abstract

Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mengetahui efektivitas media interpretasi non-personal dalam memberikan pengalaman dan pemahaman kepada pengunjung Museum Karaeng Pattingaloang , dan (2) untuk mengetahui faktor-faktor penghambat pemanfaatan media interpretasi non-personal di Museum Karaeng Pattingaloang penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Fokus kajian diarahkan pada tiga dimensi pengalaman pengunjung, yaitu dimensi kognitif, afektif, serta reflektif. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Hasil penelitian menunjukkan bahwa media interpretasi non-personal, seperti vitrin, panel informasi, brosur, lukisan, dan QR Code, berperan penting sebagai sarana penyampai informasi sejarah, namun efektivitasnya belum optimal. Pada dimensi kognitif, informasi yang disajikan masih bersifat deskriptif dan minim konteks sehingga belum mampu membangun pemahaman historis secara kritis. Pada dimensi afektif, tampilan visual yang kaku serta minimnya elemen interaktif tidak mampu membangkitkan emosi dan rasa ingin tahu pengunjung. Sedangkan pada dimensi reflektif, museum belum menyediakan ruang atau media yang mendorong pengunjung untuk memikirkan nilai sejarah. (2) Faktor-faktor penghambat yang teridentifikasi meliputi keterbatasan desain visual, kurangnya pendekatan naratif, terbatasnya teknologi partisipatif, serta minimnya ruang reflektif. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media interpretasi non-personal di Museum Karaeng Pattingaloang belum sepenuhnya efektif dalam memberikan pengalaman edukatif yang menyeluruh dan bermakna.
Pengemasan Paket Wisata Budaya Berbasis Pengalaman di Kampung Adat Ammatoa Kajang Rinjani Chersamanuru; Dhea Ananda; Margaretha Wadid Rante; Masri Ridwan
ITINERARY: Journal of Travel Operation and Travel Business Vol. 2 No. 1 (2026): ITINERARY: Journal of Travel Operation and Travel Business
Publisher : Politeknik Pariwisata Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33649/itinerary.v1i1.1253

Abstract

Kampung Adat Ammatoa Kajang di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, merupakan salah satu destinasi wisata budaya yang memiliki potensi besar namun belum dikelola secara optimal dalam bentuk paket wisata yang terstruktur dan marketable. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi pengembangan paket wisata budaya yang bernilai jual tinggi (marketable cultural tour package) di Kampung Adat Ammatoa Kajang berdasarkan persepsi dan minat wisatawan, serta merumuskan konsep paket wisata yang berorientasi pasar sekaligus berbasis komunitas dan berkelanjutan. Metode survei deskriptif kuantitatif digunakan dengan kuesioner Google Form yang disebarkan kepada 94 informan, dengan 86 responden yang mengenal destinasi dan 43 responden yang telah berkunjung memberikan penilaian mendalam. Hasil menunjukkan seluruh indikator daya tarik wisata budaya mendapat respons sangat positif: keunikan budaya (100%), potensi edukasi (100%), kelayakan wisata keluarga (97,6%), dan kelayakan promosi internasional (100%). Aktivitas paling diminati adalah pengamatan Tenun Kajang (79,1%), trekking hutan adat (62,8%), dan diskusi hukum adat Pasang ri Kajang (48,8%). Durasi ideal adalah 1 hari penuh (53,5%) dengan budget Rp100.000–Rp300.000 (55,8%). Media sosial (Instagram dan TikTok) menjadi sumber informasi utama (76,7%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kampung Adat Ammatoa Kajang sangat layak dikembangkan menjadi paket wisata budaya edukasi yang marketable, berkelanjutan, dan berdampak positif secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Transformasi Warisan Arkeologi Menjadi Wisata Edukasi Berbasis Pengalaman yang Berkelanjutan: Studi pada Taman Arkeologi Leang-Leang Sadina Az Zahra; Margaretha Wadid Rante; Masri Ridwan; Andi Sri Zulhajri Tenriulang
ITINERARY: Journal of Travel Operation and Travel Business Vol. 2 No. 1 (2026): ITINERARY: Journal of Travel Operation and Travel Business
Publisher : Politeknik Pariwisata Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33649/itinerary.v1i1.1361

Abstract

Taman Arkeologi Leang-Leang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, merupakan salah satu situs prasejarah penting dunia yang menyimpan lukisan gua berusia lebih dari 45.000 tahun. Meskipun memiliki nilai warisan budaya yang tinggi, destinasi ini belum dikelola secara optimal sebagai wisata edukasi berkelanjutan yang mampu menarik wisatawan Gen-Z dan milenial. Penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi wisatawan dan masyarakat terhadap potensi transformasi Taman Arkeologi Leang-Leang berbasis experience design sebagai destinasi edukasi berkelanjutan dalam konteks smart tourism. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner skala Likert 1–4 yang disebarkan secara daring kepada 51 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh dimensi penilaian berada pada kategori tinggi dengan rata-rata keseluruhan 3,66. Nilai tertinggi diperoleh pada dimensi keindahan alam kawasan karst (3,82) dan minat terhadap wisata berbasis pengalaman terpadu (3,78), sedangkan fasilitas wisata memperoleh nilai terendah (3,40). Sebanyak 88% responden pernah mengunjungi Leang-Leang, 90% merupakan pelajar/mahasiswa, dan 86% berusia 18–22 tahun. Mayoritas responden mendukung inovasi pengemasan wisata, peningkatan promosi digital, dan pengembangan paket wisata edukasi interaktif. Penelitian ini merekomendasikan penerapan teknologi AR/VR, storytelling prasejarah interaktif, pengembangan paket wisata terpadu, serta peningkatan keterlibatan masyarakat lokal untuk mendukung transformasi Leang-Leang sebagai destinasi edukasi berkelanjutan yang cerdas dan inklusif.