Budi Hartono
UPTD SMP Negeri 2 Budong-Budong

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Analisis Wacana Kritis Lirik Lagu “Mangu” Karya Ari Lesmana: Model Teun A. Van Dijk Budi Hartono; Masnita Massaguni
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i2.1601

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap makna ideologis, sosial, dan emosional dalam lirik lagu “Mangu” karya Ari Lesmana melalui pendekatan analisis wacana kritis model Teun A. van Dijk. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis isi terhadap lirik lagu sebagai data utama. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada struktur makro, lagu ini merepresentasikan konflik nilai dan keyakinan spiritual dalam hubungan personal. Superstruktur lirik membentuk narasi emosional yang meliputi pengenalan konflik, klimaks batin, hingga pemisahan ideologis. Pada struktur mikro, ditemukan penggunaan leksikon, metafora, gramatika, dan repetisi yang memperkuat nuansa krisis dan ketegangan emosional. Dalam dimensi sosial, lirik mencerminkan pertentangan antara pilihan pribadi dan tekanan norma sosial, sedangkan konteks sosial, lirik lagu menunjukkan kritik terhadap tuntutan keseragaman dalam masyarakat multikultural. Lagu ini tidak hanya menjadi ekspresi personal, tetapi juga menyuarakan pengalaman kolektif yang sarat makna sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa karya musik popular dapat menjadi ruang ertikulasi ideologi dan resistensi terhadap dominasi nilai sosial tertentu.
Analisis Ekokritik Kumpulan Puisi berjudul Krisis Ekologi: Bumi yang Merintih karya Budi Hartono Budi Hartono; Masnita Massaguni; Al Furqan
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.1647

Abstract

Kumpulan puisi Krisis Ekologi: Bumi yang Merintih karya Budi Hartono merepresentasikan kegelisahan ekologis akibat kerusakan alam yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia. Kajian ini bertujuan untuk mengungkap narasi ekologis dalam puisi-puisi tersebut melalui pendekatan ekokritik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan teknik analisis isi. Temuan menunjukkan bahwa puisi-puisi dalam kumpulan ini memuat kritik terhadap antroposentrisme, ajakan pada kesadaran ekologis, dan relasi emosional antara manusia dan alam. Implikasi hasil penelitian ini mendukung penggunaan karya sastra ekologis sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia yang mampu menumbuhkan literasi lingkungan dan apresiasi estetis.
Ungkapan Penolakan Warganet di Facebook terhadap Rencana Pembukaan Tambang Emas di Kabupaten Sinjai: Kajian Linguistik Pragmatik Masnita Massaguni; Budi Hartono; Supryanto
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.2039

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk serta strategi ungkapan penolakan yang digunakan oleh warganet di Facebook terhadap rencana pembukaan tambang emas di Kabupaten Sinjai. Kajian ini menggunakan pendekatan linguistik pragmatik dengan fokus pada tindak tutur penolakan berdasarkan teori Kartomihardjo (1990), yang membedakan penolakan menjadi dua jenis utama, yakni penolakan langsung dan tidak langsung. Data dalam penelitian ini diperoleh dari unggahan dan komentar pengguna Facebook pada berbagai akun atau grup yang membahas isu tambang emas tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik dokumentasi dan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warganet menggunakan beragam bentuk penolakan, mulai dari ekspresi langsung seperti “Kami menolak tambang!” hingga bentuk tidak langsung yang bersifat sindiran, pertanyaan retoris, dan penggunaan bahasa metaforis. Strategi penolakan ini tidak hanya merefleksikan ketidaksetujuan terhadap proyek tambang, tetapi juga memperlihatkan dinamika opini publik, kekhawatiran ekologis, dan solidaritas sosial masyarakat lokal. Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial menjadi ruang penting bagi masyarakat dalam menyuarakan sikap politik dan ekologisnya melalui bentuk-bentuk kebahasaan yang khas.
Analisis Stilistika dan Relevansi Sosial dalam Lirik Lagu “Kalau Aku Jadi Presiden” Karya Bimbim Masnita Massaguni; Budi Hartono; Supryanto Supryanto
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2739

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk gaya bahasa (stilistika) serta menganalisis relevansi sosial dalam lirik lagu “Kalau Aku Jadi Presiden” karya Bimbim (Slank). Lagu ini dipilih karena mengandung kritik sosial yang kuat terhadap perilaku pemimpin, praktik korupsi, eksploitasi sumber daya alam, dan ketimpangan sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis stilistika untuk menelusuri hubungan antara bentuk linguistik, fungsi estetis, dan pesan moral dalam teks. Data diperoleh melalui dokumentasi dan analisis mendalam terhadap lirik lagu serta sumber teoretis pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bimbim menggunakan berbagai gaya bahasa seperti repetisi, metafora, metonimia, litotes, antitesis, hiperbola, dan personifikasi. Setiap majas berfungsi memperkuat pesan moral dan sosial, menciptakan efek emosional, serta memperhalus kritik terhadap ketimpangan struktural dan perilaku koruptif. Secara sosial, lagu ini merepresentasikan bentuk cultural resistance atau perlawanan budaya terhadap sistem politik yang tidak adil. Pesan-pesan dalam lirik menggambarkan harapan terhadap kepemimpinan yang jujur, adil, dan berpihak pada rakyat kecil. Dengan demikian, lagu ini tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga berfungsi sebagai media edukasi moral dan refleksi sosial.
REPRESENTASI KECEMASAN EKSISTENSIAL DALAM PUISI-PUISI SAPARDI DJOKO DAMONO Masnita Massaguni; Budi Hartono
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Release
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.12570

Abstract

ABSTRACT This study aims to describe the representation of existential anxiety in three poems by Sapardi Djoko Damono, namely Aku Ingin, Hujan Bulan Juni, and Pada Suatu Hari Nanti, through the psychoanalytic perspective of Sigmund Freud. This research employed a qualitative descriptive method with a literary psychology approach. The primary data consisted of lines, phrases, and symbolic expressions in the poems that indicate existential anxiety, psychic conflict, and defense mechanisms. Data were collected through close reading and note-taking techniques, then analyzed using data reduction, classification, interpretation, and conclusion drawing. The findings reveal that existential anxiety in Sapardi’s poems is represented through symbols of transformation, silence, deferred expression, and awareness of human finitude. In Aku Ingin, anxiety emerges through the symbolic transformation of wood into ash and clouds into rain as metaphors of loss and impermanence. In Hujan Bulan Juni, anxiety is reflected through emotional restraint and repression represented by delayed rain imagery. Meanwhile, Pada Suatu Hari Nanti demonstrates acceptance of death as a form of sublimation of existential fear. From Freud’s psychoanalytic framework, the ego appears dominant in regulating the affective impulses of the id through symbolic sublimation. This study shows that Sapardi’s poetic simplicity contains profound psychological complexity and contributes to expanding literary psychology studies in modern Indonesian poetry.
REPRESENTASI KETIDAKADILAN DALAM TUTURAN JURI PADA LOMBA CERDAS CERMAT EMPAT PILAR MPR RI: KAJIAN ANALISIS WACANA KRITIS Budi Hartono
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Publish
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.14787

Abstract

This study aims to describe the representation of injustice in judges’ utterances during the Four Pillars Quiz Competition of the People’s Consultative Assembly of the Republic of Indonesia (MPR RI). This study is motivated by a controversy over the assessment process in the competition, which revealed different treatment of participants’ answers that were substantively similar. This research employed a qualitative approach using Fairclough’s model of Critical Discourse Analysis. The data consisted of utterances by judges and competition officials appearing in a video of the Four Pillars Quiz Competition of MPR RI, particularly in the assessment of participants’ answers regarding the process of selecting members of the Audit Board of Indonesia. The data were collected through documentation, observation, note-taking, and transcription. The data were analyzed through three dimensions: textual analysis, discursive practice, and social practice. The findings show that the representation of injustice appears in four forms: evaluative, procedural, interactional, and symbolic injustice. Evaluative injustice is reflected in different assessments of answers with similar substantive meaning. Procedural injustice appears through limited opportunities for clarification and verification. Interactional injustice is evident in responses that direct participants to accept decisions without adequate explanation. Symbolic injustice is reflected in the affirmation of judges’ authority as the center of decision legitimacy. These findings indicate that judges’ utterances cannot be understood as neutral speech, but rather as discursive practices that construct power relations between assessors and participants. This study recommends the need for judges’ communication guidelines, transparent assessment rubrics, and evidence-based clarification mechanisms in academic competitions.
PENGGUNAAN CAMPUR KODE DAN ALIH KODE DALAM MEDIA SOSIAL: ANALISIS SOSIOLINGUISTIK PADA GENERASI Z DI INDONESIA Al Furqan; Wulanda; Budi Hartono
Jurnal Inovasi Pendidikan Nusantara Vol. 2 No. 2 (2025): (Desember) Jurnal Seuramoe Pendidikan Aceh
Publisher : LLDIKTI WILAYAH XIII

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64958/jipn.v2i2.105

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan fungsi campur kode serta alih kode yang digunakan oleh generasi Z dalam media sosial sebagai wujud dinamika bahasa di era digital. Kajian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan memanfaatkan data tuturan dari unggahan dan komentar pengguna media sosial, yang dianalisis berdasarkan teori sosiolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua bentuk utama campur kode yang ditemukan, yakni campur kode intra sentensial dan inter sentensial, serta dua bentuk alih kode, yaitu situasional dan metaforis. Campur kode banyak digunakan untuk memperkuat ekspresi, menampilkan identitas sosial, dan menyesuaikan gaya komunikasi dengan audiens, sedangkan alih kode muncul sebagai strategi komunikasi lintas konteks dan situasi. Fenomena ini menggambarkan bahwa generasi Z memanfaatkan variasi bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai representasi identitas dan kreativitas linguistik di ruang digital. Temuan ini menegaskan bahwa media sosial berperan sebagai ruang evolusi bahasa yang mencerminkan perubahan sosial dan budaya masyarakat modern.