Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Konsep Jiwa (Nafs) Dalam Al-Qur’an: Tinjauan Psikologi Islam Juan Andrian Damanik; Rofly Armadhany; Turoh Binti Hajar Pasaribu; Dwi Anggraini; Kheni Nazwa
Jurnal Pendidikan Kurikulum dan Pembelajaran Vol 1, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jpkp.v1i2.7299

Abstract

Konsep nafs (jiwa) dalam Al-Qur'an memiliki posisi yang sangat penting karena mencakup berbagai dimensi esensial manusia, yaitu fisik, psikologis, moral, dan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna serta tingkatan-tingkatan nafs yang terdapat dalam Al-Qur'an. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis relevansi konsep nafs dengan bidang psikologi Islam, khususnya dalam konteks kesehatan mental. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data primer yang digunakan berupa ayat-ayat Al-Qur'an yang secara eksplisit memuat kata nafs. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari enam penelitian ilmiah yang relevan, yang mengkaji berbagai aspek seperti semantik Qur'ani, tazkiyah al-nafs, taswiyah al-nafs, dimensi psikis manusia, serta pandangan filsafat jiwa dalam perspektif Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa nafs memiliki spektrum makna yang sangat luas, meliputi identitas diri, dorongan psikologis yang memengaruhi perilaku, serta potensi spiritual yang dapat dikembangkan. Al-Qur'an menguraikan tiga tahapan perkembangan jiwa yang berbeda, yaitu nafs al-ammārah (jiwa yang cenderung pada perbuatan buruk), nafs al-lawwāmah (jiwa yang senantiasa mencela diri sendiri), dan nafs al-muṭmaʾinnah (jiwa yang telah mencapai ketenangan). Proses perjalanan jiwa dari tingkatan ammārah menuju muṭmaʾinnah mencerminkan upaya untuk melakukan penyucian diri (tazkiyah al-nafs) dan mencapai keseimbangan potensi (taswiyah al-nafs). Kedua konsep ini dapat menjadi fondasi penting bagi pengembangan psikologi Islam serta strategi pembinaan kesehatan mental yang relevan dengan tantangan modern.
Peran Pendidikan Agama Islam Dalam Mencegah Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja Aisya Nabila Putri; Amelia Putri; Devina Zuhra Utami; Dwi Anggraini; Hapni Laila Siregar
Journal of Constitutional, Law and Human Rights Vol 1, No 2 (2025): September 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jclhr.v1i2.5752

Abstract

Pergaulan bebas menjadi isu yang mengkhawatirkan di kalangan remaja akibat pengaruh globalisasi dan perkembangan teknologi. Pendidikan Agama Islam (PAI) berperan penting dalam membentuk karakter serta moral remaja agar terhindar dari perilaku menyimpang. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan 30 responden berusia 12-20 tahun untuk menganalisis peran PAI dalam mencegah pergaulan bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70% responden menganggap pergaulan bebas sebagai masalah serius, dengan bentuk paling umum meliputi pacaran (83,3%), pergaulan tanpa batas antara laki-laki dan perempuan (76,7%), serta konsumsi alkohol dan narkoba (73,3%). Selain itu, 60% responden menyatakan bahwa pelajaran agama Islam sangat membantu mereka dalam menghindari pergaulan bebas. PAI berkontribusi melalui penguatan akidah, pembiasaan ibadah, dan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Faktor pendukung utama dalam efektivitas PAI meliputi keimanan yang kuat, lingkungan keluarga yang baik, serta peran sekolah dan masyarakat. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa PAI dapat menjadi solusi strategis dalam membentuk kesadaran remaja agar menjaga pergaulan sesuai ajaran Islam.
Integrasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Dalam Pembelajaran Sejarah Untuk Mewujudkan Kesadaran Sejarah Dan Karakter Kebangsaan Pada Kurikulum Merdeka Cristian Purba; Cristy Rajagukguk; Dicky Alexander Rajagukguk; Dwi Anggraini; Indah Natalia Sinambela; Jenifer Mauli Stefani Siboro; Rofly Armadhany
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 11 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v11i1.8161

Abstract

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam Kurikulum Merdeka menempati posisi epistemologis yang sangat strategis sebagai katalisator dalam mereorientasi pembelajaran sejarah di sekolah menengah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan strategi integrasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam pembelajaran sejarah di sekolah menengah untuk membentuk kesadaran sejarah dan karakter kebangsaan peserta didik pada struktur Kurikulum Merdeka. Transformasi kurikulum menuntut pembelajaran sejarah tidak sekadar menjadi ruang hafalan kronologis, melainkan media internalisasi nilai luhur bangsa. Dengan menggunakan metode studi literatur sistematis (systematic literature review), data dikumpulkan melalui penelusuran artikel ilmiah, buku, dan dokumen kebijakan kurikulum yang diterbitkan dalam rentang tahun 2015 hingga 2024. Hasil kajian menunjukkan bahwa dimensi-dimensi P5—seperti berkebinekaan global, gotong royong, dan bernalar kritis—memiliki keterkaitan epistemologis yang kuat dengan tujuan pembelajaran sejarah. Melalui proyek bertema kearifan lokal dan bhinneka tunggal ika, pembelajaran sejarah berbasis proyek (PjBL) mampu memfasilitasi internalisasi nilai-nilai karakter kebangsaan secara kontekstual. Inovasi ini berhasil mengubah budaya belajar sejarah menjadi lebih inklusif, partisipatif, dan reflektif. Meskipun demikian, efektivitas pelaksanaannya masih dibatasi oleh kendala kesiapan pedagogis guru, hambatan perancangan modul interdisipliner, serta kompleksitas instrumen asesmen otentik. Kajian ini menyimpulkan bahwa P5 dalam pembelajaran sejarah bertindak sebagai katalisator strategis untuk melahirkan lulusan yang tanggap terhadap dinamika abad ke-21 tanpa kehilangan jati diri nasionalnya.