Dahlia Bela Novanza
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Persepsi Mahasiswa Pendidikan Sosiologi pada Dominasi Perempuan dalam Pembuatan Tren "Marriage is Scary" Dahlia Bela Novanza; Stevany Afrizal
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 7 No. 1 (2025): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v7i1.1418

Abstract

Persepsi sebagai suatu proses penginterpretasian informasi dapat memberikan arti pada suatu tren atau fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia. Penelitian ini mengkaji persepsi mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sebagai generasi z yang diindikasikan mampu memberikan gambaran dan informasi guna membangun pengetahuan terkait fenomena dominasi perempuan dalam pembuatan tren “Marriage is Scary”. Secara sosiologis kemajuan teknologi yang terjadi dalam kehidupan manusia mendorong terjadinya perubahan makna pernikahan. Gambaran kelam pernikahan yang banyak ditampilkan di media sosial memiliki keterkaitan dengan tren “Marriage is Scary”. Tren tersebut merupakan tren yang didominasi oleh generasi z berjenis kelamin perempuan dengan muatan-muatan konten yang menunjukkan bahwa kehidupan pernikahan dipahami sebagai ritual sakral perempuan untuk melepaskan setengah hidupnya untuk anak dan suami serta memberikan gelar baru sebagai pekerja domestik. Meskipun bias gender dalam pernikahan banyak memuat perempuan, namun hubungan yang dijalin tanpa ikatan pernikahan lebih banyak merugikan perempuan. Penelitian ini dilakukan untuk memahami dan mendalami persepsi sehingga dapat membangun pengetahuan serta memperkaya literatur mengenai dinamika gender dalam perspektif sosiologis. Penelitian ini merupakan penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan metode kualitatif pendekatan studi kasus. Berdasarkan pengumpulan data yang diperoleh dari hasil wawancara diperoleh hasil bahwa dominasi perempuan dalam pembuatan tren tersebut terjadi karena perempuan cenderung ditekan oleh apa yang dikonstruksikan masyarakat sehingga menimbulkan ketidaksetaraan, termasuk ketidaksetaraan perempuan dalam pernikahan.
Pengembangan Wisata Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal Pada Pendekatan Community Based Tourism di Kampung Parakanceuri, Pusakamulya, Purwakarta Dahlia Bela Novanza; Wahid Abdul Kudus; Yustika Irfani Lindawati
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i3.6329

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya ketidakseimbangan antar mitra (masyarakat, pemerintah dan swasta), karena lemahnya kolaborasi tersebut seluruh proses pengembangan wisata bertumpu pada kemandirian komunitas wisata (Struktur Pengurus Kampung Wisata Edukasi Parakanceuri) dan swadaya masyarakat. Konsep community based tourism (CBT) menjadi alat yang digunakan untuk mencapai keberlanjutan wisata pendidikan berbasis kearifan lokal di Kampung Parakanceuri, Desa Pusakamulya, Kabupaten Purwakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami dan mendeskripsikan bagaimana kemandirian komunitas wisata dan masyarakat lokal dalam proses pengembangan wisata berdasarkan konsep community based tourism (CBT). Penelitian ini dilaksanakan pada Februari-April 2026 dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan indigenous methodologies (penelitian pribumi) kepada informan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilaksanakan melalui observasi, wawancara serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat berpartisipasi aktif dalam mengambil keputusan, melaksanakan kegiatan, pengambilan manfaat dan evaluasi kegiatan terlihat dari perannya sebagai perencana, investor, pelaksana, pengelola dan juga pemantau (evaluator). Oleh karena itu masyarakat dapat menentukan arah pembangunan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan, mengembangkan potensi dan kearifan lokal, mendapatkan manfaat secara pribadi, material maupun sosial serta dapat ikut serta dalam menentukan keberlanjutan wisata. Kata Kunci : Pengembangan wisata, Community based tourism, Partisipasi masyarakatWisata pendidikan