Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

UJI AKTIVITAS DENGAN METODE RANDALL SELITTO EKSTRAK 96% DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi) Octaviana Dyah Oentari
Jurnal Kesehatan Tujuh Belas (Jurkes TB) Vol. 5 No. 1 (2023): NOVEMBER 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tujuh Belas, Karanganyar, JAwa, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi ekstrak daun belimbing wuluh dalam memberikan efek analgesik. Dalam penelitian ini, saya memanfaatkan teknik Randall Selitto yang sering diaplikasikan untuk mengeksplorasi kandidat obat antiinflamasi baru. Proses ekstraksi serbuk daun belimbing wuluh dilaksanakan melalui metode maserasi menggunakan etanol 96%. Penelitian ini melibatkan 25 ekor tikus yang dibagi menjadi lima kelompok, termasuk kelompok yang diberikan ekstrak daun belimbing wuluh 20 mg/200 g berat badan, kelompok kontrol negatif dengan CMC, dan kelompok kontrol positif dengan asam nefemanat.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak dengan dosis 20 mg/200 g berat badan menunjukkan kemampuan analgesik. Diperkirakan bahwa kandungan flavonoid dan steroid dalam daun belimbing wuluh berkontribusi pada efek analgesik tersebut. Efektivitas ekstrak daun belimbing wuluh 20 mg/200 g berat badan terbukti setara dengan kontrol positif, dan pada dosis yang sama, ekstrak tersebut menunjukkan aktivitas analgesik.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL MAHKOTA DAUN NANAS (Ananas comosus) TERHADAP BAKTERI Salmonella typhi Fitri Susilowati; Octaviana Dyah Oentari; Na’imatul Retno Faizah
Jurnal Kesehatan Tujuh Belas (Jurkes TB) Vol. 5 No. 1 (2023): NOVEMBER 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tujuh Belas, Karanganyar, JAwa, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nanas (Ananas comosus) merupkan salah satu tanaman digunakan sebagai bahan herbal alami untuk pengobatan infeksi bakteri. Kandungan kimia mahkota daun nanas adalah kumarin, terpenoid, phlobatannin, alkaloid, fenol, saponin, kuinon, cardiac glycoside, steroid, dan flavonoid. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol mahkota daun nanas (Ananas comosus) dan konsentrasi ekstrak yang paling baik dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi.Ekstraksi mahkota daun nanas menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Hasil ekstraksi dilakukan uji aktivitas antibakteri terhadap Salmonella typhi menggunakan metode difusi dengan konsentrasi 25 mg/ml, 50 mg/ml, dan 75 mg/ml. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol mahkota daun nanas (Ananas comosus) mampu menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi, konsentrasi 25 mg/ml, 50 mg/ml, 75 mg/ml, dan kontrol positif memiliki respon hambatan lemah. Konsentrasi ekstrak mahkota daun nanas (Ananas comosus) 75 mg/ml paling baik dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi dengan rata-rata zona hambat 2,20 mm.
UJI IN VIVO EKSTRAK BUNGA PEPAYA (CARICA PAPAYA L) TERHADAP PERTUMBUHAN CANDIDA ALBICANS ATCC 10231 PADA VAGINA KELINCI Dewi Suryani; Octaviana Dyah Oentari; Ani Florida Ngete
Jurnal Kesehatan Tujuh Belas (Jurkes TB) Vol. 5 No. 1 (2023): NOVEMBER 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tujuh Belas, Karanganyar, JAwa, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bunga pepaya mampu menghasilkan zat fitokimia maupun senyawa kimia lainnya seperti flavonoid, sterol, tanin, serta polifenol. Zat-zat tersebut merupakan zat antioksidan yang sifatnya sebagai antivirus, antikanker, antimikroba dan juga antiradang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak bunga pepaya (Carica Papaya L) terhadap pertumbuhan Candida albican atcc 10231 pada vagina kelinci dengan konsentrasi 20%, 40% dan 80% menggunakan uji in vivo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing kosentrasi memberikan efek penyembuhan dengan konsentrasi 20% selama 5 hari, konsentrasi 40% selama 6 hari dan konsentrasi 80% selama 7 hari. Maka disimpulkan bahwa ekstrak bunga pepaya pada kosentrasi 20% memberikan hambatan yang kuat terhadap pertumbuhan jamur Candida albican atcc 10231 pada vagina kelinci.
UJI DAYA HAMBAT PERTUMBUHAN JAMUR PATOGEN DERMATOFITA SPESIES Trycopyton mentagrophytes dan Trycophyton rubrum DARI EKSTRAK ETANOL 96% BUNGA KECOMBRANG Octaviana Dyah Oentari; Andri Tri Cahyono; Usman Setiawan; Barolym Tri Pamungkas; Sinta Wisma Sari
Jurnal Kesehatan Tujuh Belas (Jurkes TB) Vol. 3 No. 1 (2021): November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tujuh Belas, Karanganyar, JAwa, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatophytes are a skin disease caused by mycosis or fungi found on the skin. This fungus has the potential to grow in tropical environments and high humidity. Indonesia is a part of the country that has a tropical environment and high humidity, so it has the potential for disease and skin infections caused by pathogenic fungi. Trycophyton mentagrophytes and Trycophyton rubrum are pathogenic fungi that can cause dermatophytes. Long-term use of synthetic drugs causes resistance to the fungus and also irritation of the skin organs, so traditional treatments need to be reaffirmed which have been used for generations. One traditional or herbal-based treatment is to use kecombrang flowers which are extracted through 96% ethanol. This is because the phytochemical content of the kecombrang plant has been proven to have various pharmacological activities, especially in inhibiting the growth of pathogenic fungi. This research aims to provide the latest scientific information regarding the growth inhibitory power of pathogenic fungi from 96% ethanol extract of kecombrang flower plant organs in inhibiting the growth of the two test pathogenic fungi. This resistance test was carried out using the well method. The results of this research have proven that the ethanol extract of kecombrang flowers correlates positively and comprehensively as an antidermatophyte and it can be concluded that a concentration of 15% is the optimal treatment as an antidermatophyte