Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Scientific Journal

Korelasi Kadar Gula Darah Puasa dengan HbA1c pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Lubuk Basung Febrianti, Ika Kurnia; Ekawati, Desi
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.299

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit dengan komplikasi yang memyebabkan masalah serius di bidang kesehatan secara global. Ketidaksesuaian antara kadar gula darah puasa (GDP) dan HbA1c sebagai standar pemeriksaan diabetes melitus tipe 2 (DMT2) dapat menyebabkan interpretasi klinis yang berbeda. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui korelasi antara kadar GDP dengan kadar HbA1c pada pasien DMT2 di RSUD Lubuk Basung. Metode: Penelitian observasional dengan cross sectional study. Penelitian dilakukan bulan Januari-November 2025. Sampel digunakan sebanyak 120 data pasien DMT2 secara consecutive sampling yang ada di laboratorium patologi klinik RSUD Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Data kategorik ditampilkan dalam bentuk frekuensi dan persentase, data numerik ditampilkan dalam bentuk rerata dan standar deviasi. Dilakukan analisis korelasi antara kadar GDP dengan kadar HbA1c pada pasien DMT2, dinyatakan dalam koefisien korelasi Pearson bila data terdistribusi normal, atau uji korelasi Spearman bila tidak terdistribusi normal. Data diolah dengan SPSS 21.0, dihitung nilai kemaknaannya, bermakna jika p < 0,05. Hasil: Hasil penelitian didapatkan umur rata-rata pasien 59,61±12,53 tahun (termuda 24 tahun, tertua 96 tahun. Kadar GDP rata-rata 191,500 ± 92,218 mg/dl, (minimum 76,00 mg/dl, maksimum 504,00mg/dl). Kadar GDP normal 36 orang (30%), kadar GDP tinggi 84 orang (70%). Kadar HbA1c rata-rata 8,904±3,178 %, ( minimum 4,00%, maksimum 15,00%). Nilai HbA1c normal 5 orang (4,167%), dan HbA1c tinggi 115 orang (95,833%). Terdapat korelasi positif kuat antara GDP dan HbA1c pada pasien DMT2 (r=0,8678, dan p<0,05). Kesimpulan: Terdapat korelasi positif yang kuat antara kadar GDP dan HbA1c pada pasien DMT2. Kadar GDP yang tinggi cenderung diikuti HbA1c yang tinggi, sehingga GDP dapat digunakan sebagai indikator awal kontrol glikemik, dan HbA1c tetap menjadi pemeriksaan standar untuk evaluasi jangka panjang.
Tuberkulosis Paru Putus Obat pada Diabetes Melitus Tipe 2 Febrianti, Ika Kurnia; Christeven
Scientific Journal Vol. 5 No. 2 (2026): SCIENA Volume V No 2, March 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i2.346

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan utama, terutama pada pasien dengan riwayat pengobatan tidak tuntas yang berisiko mengalami kekambuhan dan resistensi obat. Faktor komorbid diabetes melitus tipe 2 (DMT2) akan menyebabkan kuman TB sulit dikendalikan. Laporan Kasus: Seorang laki-laki 57 tahun datang dengan sesak nafas progresif, batuk berdahak kronik, demam hilang timbul, serta penurunan berat badan signifikan. Pasien memiliki riwayat konsumsi OAT lebih dari satu bulan namun berhenti lebih dari dua bulan (loss to follow up). Foto toraks menunjukkan infiltrat lapangan atas–tengah paru, dan Tes Cepat Molekuler (TCM) menunjukkan Mycobacterium tuberculosis (MTB) terdeteksi dengan Rifampicin Resistance Not Detected. Pasien langsung diberikan OAT lini pertama disertai vitamin B6, serta dilakukan Drug Susceptibility Test (DST) yang kemudian mengonfirmasi tidak adanya resistensi obat. Diabetes melitus Tipe 2 yang tidak terkontrol diterapi dengan insulin, dan hiponatremia juga dikoreksi. Kesimpulan: Tuberkulosis paru sensitif obat pada pasien dengan riwayat loss to follow up memberikan respons baik terhadap OAT lini pertama berbasis hasil TCM dan DST. Pendekatan komprehensif dan kepatuhan terapi menjadi kunci keberhasilan pengobatan bersamaan dengan pengontrolan ketat gula darah pada pasien DMT2.