Mutiara Nurul Amalia
Universitas Negeri Padang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Wali Nagari Dalam Pengelolaan Administrasi di Kantor Wali Nagari Kayu Tanam Sarah Vianitha; Mutiara Nurul Amalia; Kevin Mandaila Putra; Yohanna Maharani Jelita; Tasya Usna Putri; Resti Aprilia Putri; Siti Zikra Asyifa; Sinta Westika Putri
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai tata kelola pemerintahan nagari telah banyak dilakukan, namun kajian yang secara khusus menelaah peran Wali Nagari dalam pengelolaan administrasi pada konteks lokal tertentu, seperti Nagari Kayu Tanam, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis peran Wali Nagari dalam pengelolaan administrasi pemerintahan, sekaligus mengidentifikasi upaya strategis yang dilakukan untuk meningkatkan efektivitas tata kelola administrasi nagari. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus, melibatkan Wali Nagari, Sekretaris Nagari, Kepala Urusan, dan staf administrasi yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi langsung, serta studi dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wali Nagari menjalankan empat fungsi utama dalam pengelolaan administrasi, yaitu pengaturan, koordinasi, pengawasan, dan pembinaan, yang secara keseluruhan berkontribusi pada meningkatnya ketertiban dan akuntabilitas administrasi nagari. Temuan juga mengungkap bahwa upaya strategis berupa evaluasi rutin, penerapan regulasi, penguatan SDM, dan pengawasan berlapis menjadi faktor penting dalam menciptakan tata kelola administrasi yang efektif. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis terhadap kajian kepemimpinan pemerintahan lokal serta implikasi praktis bagi penguatan administrasi nagari di tingkat daerah.
Management of Human Rights-Friendly Priority Services for Vulnerable Groups at The Padang Class I Immigration Office With an Immigration Checkpoint Mutiara Nurul Amalia; Yulia Hanoselina
Journal of Governance, Taxation and Auditing Vol. 4 No. 1 (2026): Journal of Governance, Taxation and Auditing (July - September 2026)
Publisher : PT Keberlanjutan Strategis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38142/jogta.v4i1.2033

Abstract

Abstract:Equitable access to public services remains a practical challenge for vulnerable groups because physical, communication, informational, and digital barriers may limit their ability to complete administrative procedures independently. This study analyzes the management of Human Rights-Friendly Priority Services for vulnerable groups at the Padang Class I Immigration Office with an Immigration Checkpoint and identifies the factors that support and hinder their implementation. The study employed a descriptive qualitative approach. Data were collected through interviews, observation, and documentation involving service managers, immigration officers, and service users from vulnerable groups. Data validity was assessed through source and technique triangulation, while analysis involved data reduction, data display, conclusion drawing, and verification. The analytical framework applied George R. Terry’s management theory through four indicators—planning, organizing, actuating, and controlling—and used Public Service Logic to interpret the value experienced by service users. The findings show that the Office has established a policy foundation, standard operating procedures, a dedicated service room, assistive facilities, staff coordination, direct assistance, internal evaluation, and complaint channels. These arrangements make passport services easier and more humane for older adults, pregnant women, breastfeeding mothers, and persons with disabilities. However, the service has not fully ensured independent and equitable access because tactile guiding paths are unavailable, sign-language competence is limited, staffing and service quotas are constrained during peak periods, waiting-room capacity is limited, and no satisfaction instrument specifically measures the experiences of vulnerable groups. The service therefore requires evidence-based planning, adaptive resource allocation, sustained staff training, accessible facilities, and user-specific evaluation.