Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INTEGRASI ETNOSAINS PINANG DALAM PEMBELAJARAN IPAS SEKOLAH DASAR SEBAGAI UPAYA PENGUATAN LITERASI SAINS BERBASIS BUDAYA PAPUA Ardian Hangga Kelana; Yongki Dwi Fadhli; Sakka Irawan; Nanita Tabuni; Marice Karubaba
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025 Terbit
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.36473

Abstract

This research focuses on efforts to strengthen students' scientific literacy through the integration of areca nut ethnoscience in Natural and Social Sciences (IPAS) learning in elementary schools. Areca nut culture (Areca Catechu) is a crucial part of the lives of the Papuan people and has great potential as a contextual and meaningful learning resource in science learning. Implementing an ethnoscience approach through the use of areca palm plants can bridge scientific concepts with local cultural practices so that students do not feel strange during the learning process. Students can visually understand the function of plant organs and know areca nut as a biotic component (living creature) which has an essential role in the ecosystem. The research method used is descriptive qualitative through observation, interviews and documentation. The results of the research show that the use of areca palm plants in the science and science learning process has succeeded in strengthening students' understanding of the concept of biodiversity, the structure and function of plant organs, and the reciprocal relationship between humans and the environment. Cultural integration in learning also strengthens students' identity and fosters a sense of pride in local Papuan wisdom. This research concludes that the integration of areca nut ethnoscience in science and science learning is effective as a strategy to strengthen local culture-based scientific literacy.
Integrasi Etnomatematika Budaya Papua: Efektivitas Model Problem Based Learning Berbantuan Media Noken terhadap Hasil Belajar Geometri pada Murid Sekolah Dasar Yongki Dwi Fadhli; Triwiyono Triwiyono; Wigati Yektiningtyas
Cokroaminoto Journal of Primary Education Vol. 9 No. 3 (2026): Juli - September 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/cjpe.9.3.2026.9152

Abstract

Urgensi penelitian ini adalah perlunya mengintegrasikan etnomatematika budaya Papua melalui model Problem Based Learning berbantuan media Noken untuk meningkatkan hasil belajar geometri siswa sekolah dasar sekaligus melestarikan kearifan lokal dalam pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Pembelajaran geometri di sekolah dasar sering kali dihadapkan pada rendahnya kemampuan spasial dan pemecahan masalah akibat jarangnya integrasi budaya lokal sebagai jangkar kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas model Problem Based Learning (PBL) berbasis etnomatematika melalui pemanfaatan budaya Papua (media noken) untuk meningkatkan hasil belajar geometri murid sekolah dasar. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen kuasi (One-Group Pretest-Posttest Design). Penelitian ini melibatkan 30 murid kelas V SD Negeri 3 Abepura sebagai sampel. Instrumen penelitian berupa tes kemampuan geometri pada dua rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji perolehan skor N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai murid pada RPP 1 meningkat dari pretest 49,0 menjadi posttest 71,0 dengan skor N-Gain 0,4 (kategori sedang). Pada RPP 2, pemahaman murid semakin matang dengan peningkatan nilai pretest 55,0 menjadi posttest 78,7 dan capaian N-Gain sebesar 0,5 (kategori sedang). Secara akumulatif, penerapan model ini menghasilkan rata-rata skor N-Gain gabungan sebesar 0,45 yang masuk dalam kategori sedang. Keberhasilan ini membuktikan bahwa integrasi noken sebagai representasi kearifan lokal budaya Papua dalam sintaks PBL efektif mentransformasi materi geometri yang abstrak menjadi konkret, interaktif, dan bermakna. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya rekonstruksi kurikulum berbasis kebudayaan lokal untuk mengoptimalkan literasi numerasi murid di tanah Papua.