Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Peran Transformasi Pendidikan Digital sebagai Upaya Meningkatkan Kinerja Guru dan Tenaga Kependidikan di Sekretariat Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Vivin Monica Yosiana; Veithzal Rivai Zainal; Azis Hakim
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Desember 2025 - Januari 2026)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v7i1.6776

Abstract

Pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan artifisial (AI), mahadata (big data), dan Internet of Things (IoT) makin mendominasi berbagai sektor. Digitalisasi telah mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, dan memecahkan masalah. Agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk menghadapi tantangan ini, sistem pendidikan perlu memastikan bahwa literasi digital, termasuk pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial, menjadi bagian dari kurikulum. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu dapat diakses oleh semua peserta didik, tanpa terbatas pada daerah atau latar belakang tertentu. Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan dalam dunia pendidikan modern. Integrasi Koding dan KA dalam pendidikan tidak hanya untuk meningkatkan literasi digital dan kemampuan penyelesaian masalah, tetapi juga mengajarkan berbagai keterampilan esensial yang mencakup berpikir komputasional, analisis data, algoritma pemrograman, etika KA, human-centered mindset, design system KA, dan teknik KA. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menggali faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan kinerja guru melalui observasi, wawancara, dan telaah dokumen internal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak guru dan tenaga kependidikan yang belum terbiasa menggunakan perangkat dan platform digital untuk pembelajaran, termasuk dalam mengoperasikan teknologi dan mengintegrasikannya secara efektif dalam metode mengajar. Ketersediaan pelatihan yang memadai untuk meningkatkan kompetensi digital guru masih terbatas. Hal ini menyebabkan pendidik merasa tidak yakin bagaimana menggunakan teknologi baru untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa. Adanya keengganan dari beberapa pendidik untuk mengadopsi teknologi digital, yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor termasuk pola pikir lama atau kekhawatiran tentang dampak negatifnya. Daerah di Indonesia masih banyak yang belum memiliki akses listrik dan internet yang memadai, serta disparitas akses antara perkotaan dan daerah terpencil sangat tinggi. Sekolah seringkali tidak memiliki cukup perangkat keras seperti komputer, laptop, atau tablet untuk digunakan oleh siswa dan guru, terutama karena keterbatasan anggaran. Jaringan internet yang tersedia seringkali tidak stabil, lambat, atau mahal, yang menghambat kelancaran proses pembelajaran digital yang membutuhkan koneksi yang andal.
Pengaruh Pengenaan Kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) pada Kinerja Ekspor Sektor Industri Agro Prima Indrasari; Veithzal Rivai Zainal; Azis Hakim
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Desember 2025 - Januari 2026)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v7i1.6795

Abstract

Selama lima tahun terakhir, kinerja ekspor sektor industri agro di Indonesia menunjukkan tren positif secara umum, meningkatnya ekspor produk olahan di sektor industri agro, kontribusi sektor industri agro terhadap PDB Nasional pada industri pengolahan non migas cukup besar, yaitu lebih dari 50%. Sejak tahun 2019, Pemerintah menerapkan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) untuk menjaga stabilitas ketahanan ekonomi nasional, sektor industri agro juga termasuk sektor yang terkena kebijakan tersebut. Kebijakan DHE SDA merupakan kebijakan pemerintah yang mewajibkan eksportir komoditas SDA untuk menempatkan DHE-nya di Sistem Keuangan Indonesia (SKI), dengan tujuan memperkuat cadangan devisa nasional, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, dan mendorong likuiditas valuta asing domestik. Melalui pendekatan studi literatur, penelitian ini membahas pengaruh penerapan DHE SDA pada kinerja ekspor komoditas di sektor industri agro. Kinerja ekspor industri agro merupakan hasil interaksi antara faktor eksternal (permintaan dunia internasional, public awareness, pemasok dan distributor, kebijakan pemerintah, daya beli konsumen, dan lain sebagainya) dan faktor internal (efisiensi produksi, infrastruktur, keberlanjutan industri, dan lain sebagainya). Kesimpulannya, adanya faktor eksternal, faktor internal, pemberian insentif, dan fleksibilitas pengaturan penggunaan retensi DHE SDA mempengaruhi kinerja ekspor di sektor industri agro tetap tumbuh di tahun 2025 walau terkena implementasi pengaturan DHE SDA.
Manajemen Kinerja ASN Berbasis Digitalisasi Administrasi dalam Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Efektif di Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia Yuanita Mega Nauli; Veithzal Rivai Zainal; Azis Hakim
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Desember 2025 - Januari 2026)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v7i1.6833

Abstract

Transformasi digital dalam administrasi pemerintahan menjadi tuntutan strategis dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang efektif, transparan, dan akuntabel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi manajemen kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) berbasis digitalisasi administrasi di Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, serta dampaknya terhadap efektivitas tata kelola pemerintahan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap pejabat struktural serta staf pelaksana yang menggunakan sistem Piawai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem digital dalam manajemen kinerja ASN melalui Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan aplikasi Piawai telah meningkatkan efisiensi, transparansi, serta akuntabilitas proses penilaian kinerja. Digitalisasi administrasi membantu mempercepat proses pelaporan, mempermudah pemantauan real time, dan mengurangi tumpang tindih pekerjaan administratif. Namun, efektivitas implementasi masih menghadapi kendala berupa kesenjangan literasi digital ASN, keterbatasan integrasi antar sistem informasi, dan kurangnya evaluasi berbasis hasil (outcome). Secara konseptual, digitalisasi administrasi terbukti mendukung peningkatan kinerja ASN dan memperkuat prinsip Good Governance, terutama pada aspek efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik. Oleh karena itu, dibutuhkan penguatan kompetensi digital ASN, integrasi sistem Piawai dengan SPBE nasional, serta kepemimpinan digital yang mampu mengoptimalkan teknologi sebagai instrumen reformasi birokrasi dan peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan.
Penerapan Kebijakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah di Sekretariat Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Sultan Takdir Ali Sahbana; Veithzal Rivai Zainal; Azis Hakim
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Desember 2025 - Januari 2026)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v7i1.6834

Abstract

Kepala sekolah memiliki peran yang sangat strategis dalam peningkatan kualitas pendidikan terutama dalam mengupayakan pengembangan sekolah dan perannya sebagai pelaksana delapan Standar Nasional Pendidikan. Guru Penggerak fokus kepada pengembangan kepemimpinan pembelajaran dan kemandirian guru dalam pengembangan profesional dirinya. Guru Penggerak juga menggerakkan ekosistem sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran murid dan menjadikan refleksi serta evaluasi menjadi basis yang menentukan kebijakan atau program di sekolah. Ke depan, arah kebijakan Program Guru Penggerak direncanakan akan menjadi program pendidikan calon kepala sekolah. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Instrumen penelitian dengan melakukan wawancara, Observasi dan dokumentasi. Mekanisme pendaftaran pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) melalui Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Keprofesian dan Karier Pendidik dan Tenaga Kependidikan (SIM KSPSTK) adalah proses seleksi bertahap yang melibatkan pengusulan, seleksi administrasi, dan seleksi substansi telah berjalan dengan baik. Antusias guru yang mengikuti pendaftaran pelatihan bakal calon kepala sekolah cukup banyak walaupun masih ada kendala-kendala teknis dan non teknis seperti platform yang digunakan pendaftaran online ada gangguan, pandangan negatif terhadap jabatan kepala sekolah. Mereka melihatnya sebagai jabatan dengan beban kerja yang berat, insentif rendah, dan tugas kepemimpinan yang besar, sehingga banyak guru menolak untuk mengikuti seleksi kepala sekolah.
Analisis Kebijakan Afirmasi Kualifikasi Guru S1/D4 dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Guru di Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Andri Setiawati; Veithzal Rivai Zainal; Azis Hakim
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Desember 2025 - Januari 2026)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v7i1.6844

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis Kebijakan Afirmasi Kualifikasi Guru S1/D4 Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Guru Di Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kementerian Pendidikan Dasar Dan Menengah, beserta gambaran kebijakan, kendala dan upaya optimalisasinya. Metode penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif. Dalam penelitian ini informan yang diwawancarai berjumlah 5 orang. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan serta verifikasi. Temuan dari penelitian ini adalah: (1) Kebijakan afirmasi kualifikasi guru S1/D4 bertujuan meningkatkan profesionalisme guru dengan memberikan kesempatan kepada guru non-sarjana (S1/D4) untuk meningkatkan kualifikasi akademik, yang pada akhirnya akan berdampak langsung pada kualitas pembelajaran di kelas. Kebijakan ini dapat menjawab kebutuhan akan guru yang kompeten sesuai kurikulum modern, memperkuat kompetensi, dan memfasilitasi guru yang ingin mengembangkan diri meski terkendala berbagai kondisi. (2) Kendala Kendala kebijakan afirmasi kualifikasi guru S1/D4 yaitu Akses untuk melanjutkan pendidikan S1/D4 sangat sulit bagi guru di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Akses pendidikan yang terbatas menjadi kendala kebijakan afirmasi S1/D4 bagi guru karena guru di daerah terpencil mengalami kesulitan mengakses pendidikan tinggi karena jarak yang jauh, infrastruktur yang minim, dan kurangnya tenaga pendidik di daerah tersebut. Kendala lain adalah kesibukan guru, yang membuat mereka sulit meluangkan waktu untuk melanjutkan studi. (3) Upaya untuk Kebijakan Program ini secara langsung membantu guru memenuhi standar kualifikasi pendidikan minimum (S1/D4) yang menjadi syarat profesional, seperti yang diamanatkan Undang-Undang Guru Dan Dosen. Dengan terpenuhinya kualifikasi akademik, guru dapat melanjutkan ke program Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk mendapatkan sertifikat pendidik, yang dapat berujung pada peningkatan kesejahteraan, seperti Tunjangan Profesi Guru (TPG).