Pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan artifisial (AI), mahadata (big data), dan Internet of Things (IoT) makin mendominasi berbagai sektor. Digitalisasi telah mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, dan memecahkan masalah. Agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk menghadapi tantangan ini, sistem pendidikan perlu memastikan bahwa literasi digital, termasuk pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial, menjadi bagian dari kurikulum. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu dapat diakses oleh semua peserta didik, tanpa terbatas pada daerah atau latar belakang tertentu. Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan dalam dunia pendidikan modern. Integrasi Koding dan KA dalam pendidikan tidak hanya untuk meningkatkan literasi digital dan kemampuan penyelesaian masalah, tetapi juga mengajarkan berbagai keterampilan esensial yang mencakup berpikir komputasional, analisis data, algoritma pemrograman, etika KA, human-centered mindset, design system KA, dan teknik KA. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menggali faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan kinerja guru melalui observasi, wawancara, dan telaah dokumen internal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak guru dan tenaga kependidikan yang belum terbiasa menggunakan perangkat dan platform digital untuk pembelajaran, termasuk dalam mengoperasikan teknologi dan mengintegrasikannya secara efektif dalam metode mengajar. Ketersediaan pelatihan yang memadai untuk meningkatkan kompetensi digital guru masih terbatas. Hal ini menyebabkan pendidik merasa tidak yakin bagaimana menggunakan teknologi baru untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa. Adanya keengganan dari beberapa pendidik untuk mengadopsi teknologi digital, yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor termasuk pola pikir lama atau kekhawatiran tentang dampak negatifnya. Daerah di Indonesia masih banyak yang belum memiliki akses listrik dan internet yang memadai, serta disparitas akses antara perkotaan dan daerah terpencil sangat tinggi. Sekolah seringkali tidak memiliki cukup perangkat keras seperti komputer, laptop, atau tablet untuk digunakan oleh siswa dan guru, terutama karena keterbatasan anggaran. Jaringan internet yang tersedia seringkali tidak stabil, lambat, atau mahal, yang menghambat kelancaran proses pembelajaran digital yang membutuhkan koneksi yang andal.