Sikha Nur Inayah
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PARADIGMA INTEGRASI–INTERKONEKSI DALAM REKONSILIASI SAINS ISLAM: PEMIKIRAN AMIN ABDULLAH Bilqis Nafisah Arini; Sikha Nur Inayah; Windi Nurohmatul Azizah; Ardtiya Prayogi
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini memberikan penjelasan mendalam tentang konsep, prinsip, dan metode dalam menerapkan pendekatan integrasi–interkoneksi sebagai kerangka epistemologis yang bertujuan menyatukan perbedaan antara ilmu pengetahuan modern dan pemikiran Islam. Pendekatan ini berusaha menciptakan hubungan yang harmonis antara keduanya, sehingga ilmu agama dan ilmu umum tidak lagi dipandang sebagai dua hal yang saling bertentangan. Secara historis, dalam tradisi intelektual Islam, wahyu, akal, dan pengalaman empiris pernah berfungsi secara seimbang dan saling terhubung dalam proses mencari ilmu. Namun, perkembangan sains modern sering kali membuat ilmu agama dan ilmu umum terpisah satu sama lain. Karena itu, studi ini menyoroti pemikiran M. Amin Abdullah, yang menawarkan model baru untuk mengintegrasikan berbagai bentuk pengetahuan dan mengatasi dikotomi yang sudah berlangsung lama ini. Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan, artikel ini mengkaji berbagai komponen konseptual, termasuk karakteristik teo-antropocentric integralism, yaitu cara pandang yang memadukan dimensi ketuhanan dan kemanusiaan, serta paradigma jaring laba-laba, yang menggambarkan hubungan antar berbagai cabang ilmu. Artikel ini juga menekankan pentingnya dialog antar disiplin ilmu melalui pendekatan multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner untuk menjawab berbagai persoalan keagamaan, sosial, dan kemanusiaan masa kini. Pembahasan semakin diperkaya dengan analisis kontribusi tokoh-tokoh penting seperti Ibn Rushd, Jasser Auda, dan Nidhal Guessoum, yang masing-masing memberikan wawasan filosofis, metodologis, atau ilmiah yang memperkuat hubungan antara agama dan sains. Penerapan praktis model integrasi–interkoneksi dapat dilihat pada beberapa bidang, seperti pengembangan kurikulum di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), penguatan penelitian interdisipliner, dan pemanfaatan metode ilmiah dalam menafsirkan teks-teks keagamaan. Pendekatan ini dipandang sebagai cara untuk menghasilkan pengetahuan keagamaan yang lebih kontekstual, relevan, dan responsif terhadap perkembangan zaman modern
DILEMA DISIPLIN GURU DI ERA HAK ASASI MANUSIA: ANTARA KODE ETIK DAN TANTANGAN PERILAKU SISWA DI SMP 1 ULUJAMI Sikha Nur Inayah; Windi Nurrohmatul Azizah; Himatunnisa; Nur Khasanah
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Publish
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.55569

Abstract

This study aims to analyze teachers' dilemmas in enforcing discipline in the era of human rights, the implementation of the teacher code of ethics, and humanistic disciplinary enforcement strategies at SMP 1 Ulujami. The study used a qualitative approach with descriptive research and case studies. Data were obtained through observation and documentation studies,then analyzed using qualitative descriptive analysis techniques. The results indicate that teachers face a dilemma in enforcing discipline because they must balance assertiveness with respect for students' rights. Challenges in student behavior influenced by technological and social media developments also affect teachers' authority in the learning process. In practice, the implementation of the teacher code of ethics is carried out through a fair, educational, and character-building approach. This study also found that humanistic disciplinary strategies, such as a dialogical approach, providing educational consequences,teacher role models, and collaboration with parents, can create a more conducive learning environment and support positive student character development.
PERENCANAAN EVALUASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS HIGER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS PESERTA DIDIK Luna Aiswara; Sikha Nur Inayah; Agus Nur Kholis; Hafidz Al Faqih; Ma’mun Hanif
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 Nomor 03, September 2026 Verified
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.56785

Abstract

This study aims to examine the concept, planning, implementation, and contribution of Higher Order Thinking Skills (HOTS)-based assessment in Islamic Religious Education (IRE) learning to improve students' critical thinking skills. This research employed a qualitative approach using a library research method. Data were collected through the review of various relevant literature sources, including books, scientific journals, articles, and previous research findings, and were analyzed using content analysis techniques. The results indicate that HOTS-based assessment planning in IRE learning is conducted systematically through determining assessment objectives, formulating indicators, developing test blueprints, constructing assessment instruments, and selecting appropriate assessment techniques. HOTS-based assessment focuses on students' abilities to analyze (C4), evaluate (C5), and create (C6) according to the revised Bloom’s Taxonomy. The implementation of HOTS-based assessment in IRE learning can be carried out through various strategies, such as Problem-Based Learning, Project-Based Learning, and Inquiry Learning, which encourage students to think critically, creatively, and solve problems based on Islamic values. Therefore, HOTS-based assessment contributes significantly to the development of students' critical, reflective, and creative thinking skills, enabling them to face life challenges more wisely and contextually.