Ari Rahmat Aziz
Fakultas Keperawatan, Universitas Riau

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

GAMBARAN INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL PADA LANSIA: DESCRIPTION OF INTENSITY OF SOCIAL MEDIA USE IN THE ELDERLY Selly Anjely; Ari Rahmat Aziz; Widia Lestari
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 6 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v6i2.353

Abstract

Peningkatan jumlah pendudukan usia lanjut memerlukan perhatian agar mereka dapat menikmati kehidupan yang sejahtera di masa tua. Penggunaan sosial media dapat memberikan dampak positif pada lansia dalam berkomunikasi dan memberikan dukungan sosial pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan intensitas penggunaan media sosial pada lansia. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif di Kelurahan Labuh Baru Timur (Wilayah Kerja Puskesmas Payung Sekaki) Kota Pekanbaru pada bulan Juli 2023. Sampel penelitian terdiri dari 100 responden yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden lansia berada dalam rentang usia 60-69 tahun (92%), dengan mayoritas berjenis kelamin perempuan (56%). Media sosial yang paling sering digunakan oleh lansia adalah WhatsApp (76%), diikuti oleh Youtube (54%). Dari segi aspek penggunaan media sosial, mayoritas lansia menunjukkan perhatian rendah terhadap penggunaan sosial media (61%), penghayatan rendah terhadap penggunaan sosial media (74%), durasi penggunaan sosial media yang rendah (55%), dan frekuensi penggunaan sosial media yang rendah (71%). Secara keseluruhan, intensitas penggunaan media sosial pada lansia cenderung rendah (52%). Diharapkan para lansia dapat lebih bijaksana dalam menggunakan dan memanfaatkan media sosial dengan mengatur waktu penggunaannya, sehingga dapat menghindari risiko terkait masalah kesehatan. Abstract The increasing number of elderly people requires attention so they can enjoy a prosperous life in their later years. The use of social media can have a positive impact on the elderly in terms of communication and providing social support. This study aims to describe the intensity of social media usage among the elderly. It employs a quantitative descriptive design in Labuh Baru Timur (Work Area of Puskesmas Payung Sekaki), Pekanbaru City, in July 2023. The sample consists of 100 respondents selected through accidental sampling. Data collection was conducted using a questionnaire, and data analysis was performed using descriptive analysis methods. The results show that the majority of elderly respondents are aged 60-69 years (92%), with a majority being female (56%). The most frequently used social media among the elderly is WhatsApp (76%), followed by YouTube (54%). In terms of social media usage aspects, the majority of the elderly show low attention to social media usage (61%), low appreciation of social media usage (74%), low duration of social media usage (55%), and low frequency of social media usage (71%). Overall, the intensity of social media use among the elderly tends to be low (52%). It is hoped that the elderly can be more prudent in using and utilizing social media by managing their usage time, thereby avoiding health-related risks.
Hubungan pengetahuan tentang diet asam urat dengan perilaku diet penderita asam urat di daerah wetland: The relationship between knowledge of a gout diet and dietary behavior among patients with gout in wetland areas Yuliana Fitriyanti; Helina; Ari Rahmat Aziz
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.509

Abstract

Gout arthritis merupakan penyakit metabolik yang dipengaruhi oleh pola konsumsi tinggi purin. Namun, masih banyak penderita asam urat di daerah wetland yang belum memiliki pengetahuan memadai mengenai diet rendah purin. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan tentang diet asam urat dengan perilaku diet penderita asam urat di daerah wetland. Desain penelitian adalah deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 123 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan rendah (56,1%) dan perilaku diet tidak baik (60,2%). Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang diet asam urat dengan perilaku diet penderita asam urat di daerah wetland (p = 0,010; OR = 2,842; 95% CI = 1,348–5,993). Peningkatan pengetahuan mengenai diet asam urat perlu menjadi prioritas intervensi keperawatan komunitas, khususnya pada masyarakat di daerah wetland. Gout arthritis is a metabolic disease influenced by a high-purine consumption pattern. However, many gout sufferers in wetland areas still lack adequate knowledge about a low-purine diet. This study aimed to determine the relationship between knowledge about gout diet and dietary behavior among gout sufferers in wetland areas. A descriptive correlational design with a cross-sectional approach was used. A total of 123 respondents were selected using accidental sampling. Data were collected using a questionnaire and analyzed using the chi-square test and odds ratio. The results showed that the majority of respondents had low knowledge (56.1%) and poor dietary behavior (60.2%). A significant relationship was found between knowledge about gout diet and dietary behavior among gout sufferers in wetland areas (p = 0.010; OR = 2.842; 95% CI = 1.348–5.993). Improving knowledge about gout diet should be prioritized in community nursing interventions, particularly in wetland communities.
Hubungan self awareness dengan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri: The relationship between self-awareness and compliance with iron supplement consumption in adolescent girls Verina Raisya Irawan; Ari Rahmat Aziz; Herlina
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.513

Abstract

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi pada remaja putri akibat meningkatnya kebutuhan zat besi selama masa pertumbuhan dan kehilangan darah saat menstruasi. Pemerintah telah melaksanakan program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) sebagai upaya pencegahan anemia, namun tingkat kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri masih rendah. Salah satu faktor internal yang diduga berperan dalam kepatuhan konsumsi TTD adalah self-awareness. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan self-awareness dengan kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri di SMK Negeri 1 Pekanbaru. Desain penelitian adalah korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 239 siswi yang dipilih menggunakan stratified random sampling. Self-awareness diukur menggunakan kuesioner yang mencakup tiga dimensi, yaitu subjektif, objektif, dan simbolik, sedangkan kepatuhan konsumsi TTD diukur berdasarkan jumlah tablet yang dikonsumsi dalam satu bulan terakhir. Mayoritas responden memiliki self-awareness yang baik pada ketiga dimensi, namun sebagian besar tidak patuh mengonsumsi TTD (67,4%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara self-awareness subjektif (p = 0,397), objektif (p = 0,133), maupun simbolik (p = 0,129) dengan kepatuhan konsumsi TTD. Peningkatan kepatuhan konsumsi TTD memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif dengan melibatkan faktor eksternal seperti dukungan keluarga, teman sebaya, dan tenaga kesehatan. Anemia is a common health problem among adolescent girls due to increased iron requirements during growth and blood loss during menstruation. The government has implemented an iron supplement tablet (IST) program as an effort to prevent anemia, but compliance rates among adolescent girls remain low. One internal factor suspected to influence compliance is self-awareness. This study aimed to determine the relationship between self-awareness and iron supplement tablet compliance among adolescent girls at SMK Negeri 1 Pekanbaru. A correlational design with a cross-sectional approach was used. A total of 239 female students were selected using stratified random sampling. Self-awareness was measured using a questionnaire covering three dimensions — subjective, objective, and symbolic — while compliance was measured based on the number of tablets consumed in the past month. The majority of respondents had good self-awareness across all three dimensions, yet most were non-compliant with iron supplement tablet consumption (67.4%). No significant relationship was found between subjective (p = 0.397), objective (p = 0.133), or symbolic self-awareness (p = 0.129) and iron supplement tablet compliance. Improving compliance requires a more comprehensive approach involving external factors such as family support, peer support, and health worker involvement.