Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DALAM AL-QUR’AN DENGAN KEMATANGAN EMOSI SISWA KELAS XI MAN 2 KULON PROGO Ridwan Faqih; Abi Prayitna; Havid Nur Solikhin; Dwi Ratnasari
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.1651

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat Kecerdasan Emosional Dalam Al-Qur’an, Kematangan Emosi dan menguji hubungan dua variabel ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Mengambil 2 kelas XI yaitu kelas E dan F dengan Teknik random cluster sampling. Penulis menggunakan uji reabilitas. Sedangkan teknik analisis data menggunakan uji korelasi product moment dan analisis deskriptif. Tingkat Kecerdasan Emosional dalam Al-Qur’an termasuk dalam kategori sedang ( N= 58, Minimum= 55, Maximum=91, Mean= 70,84 dan Std. Deviation= 6.774)N dan Kematangan Emosi termasuk dalam kategori sedang.( N= 58, Minimum= 55, Maximum=91, Mean= 71,00 dan Std. Deviation= 7,680). Korelasi kuat dengan nilainya 0,734.
Filsafat Pendidikan Islam Bernapaskan Toleransi: Membaca Kembali Pemikiran Gus Dur untuk Generasi Baru Sihono, Ridwan Faqih; Havid Nur Solikhin; Mahmud Arif
Akhlak : Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat Vol. 3 No. 1 (2026): Januari: Akhlak : Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/akhlak.v3i1.1503

Abstract

This study aims to explore the philosophy of Islamic education grounded in tolerance by revisiting the influential ideas of Gus Dur and assessing their significance for the younger generation in contemporary society. Adopting a qualitative descriptive approach through document analysis, in-depth interviews, and thematic interpretation, the research highlights that values such as tolerance, humanism, intellectual freedom, and respect for diversity are essential foundations for shaping modern Islamic education. The findings indicate that incorporating these principles into educational curricula not only enriches the learning experience but also strengthens inclusive and participatory teaching practices, fostering an environment that encourages open dialogue, mutual understanding, and moderation. Furthermore, the study emphasizes that systematic integration of Gus Dur’s educational philosophy can contribute to the development of students’ critical thinking, ethical awareness, and social responsibility, ensuring that Islamic education remains relevant and responsive to contemporary societal challenges. Overall, the research concludes that implementing these values consistently is crucial for advancing a modern, tolerant, and pluralistic approach to Islamic education that benefits both individuals and society as a whole.
Epistemologi Qur’ani dalam Integrasi Akal dan Wahyu: Rekonstruksi Fungsi Ilmu Pengetahuan dalam Pendidikan Islam Havid Nur Solikhin; Ridwan Faqih Sihono; Dwi ratnasari
Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 4 No 2 (2025): Jurnal Pendidikan agama Islam
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut umat Islam untuk meninjau kembali relasi antara akal dan wahyu dalam kerangka epistemologi Islam. Artikel ini bertujuan menganalisis fungsi ilmu pengetahuan dalam perspektif Al-Qur’an dengan menekankan integrasi rasionalitas dan spiritualitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu‘i) dan analisis filosofis-epistemologis terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan ilmu, akal, dan wahyu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menempatkan ilmu sebagai sarana manusia mengenal Allah dan memahami realitas ciptaan-Nya. Akal berperan sebagai instrumen rasional untuk meneliti kebenaran empiris, sementara wahyu menjadi pedoman moral dan spiritual agar ilmu tidak kehilangan arah nilai. Keselarasan antara akal dan wahyu melahirkan paradigma ilmu yang integratif, rasional, dan transendental. Dalam konteks pendidikan Islam, integrasi ini menjadi dasar bagi pengembangan sistem pembelajaran yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan kesadaran spiritual, guna melahirkan insan ulul albab yang berilmu, beriman, dan berakhlak.