Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Akses Pelayanan Kesehatan yang Berkeadilan: Analisis Equity dalam Sistem Kesehatan Elona, Rika Media; Maharani, Vidia Putri; Abdi, Telpa; Hartono, Budi
Indonesian Research Journal on Education Vol. 6 No. 1 (2026): Irje 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v6i1.4095

Abstract

Ketidakmerataan akses terhadap pelayanan kesehatan hingga saat ini masih menjadi persoalan mendasar dalam upaya membangun sistem kesehatan yang berkeadilan, terutama di negara berpenghasilan menengah seperti Indonesia. Walaupun implementasi kebijakan jaminan kesehatan nasional telah meningkatkan perlindungan finansial bagi masyarakat, realitas di lapangan menunjukkan bahwa berbagai kendala non-finansial dan faktor struktural tetap membentuk pengalaman akses layanan kesehatan secara tidak setara pada kelompok masyarakat tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat serta faktor-faktor yang memengaruhi equity dalam akses pelayanan kesehatan dengan menyoroti dimensi ketersediaan layanan, akses fisik, keterjangkauan, mutu, kesinambungan pelayanan, dan penerimaan layanan oleh masyarakat. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus eksploratif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, penelusuran dokumen, dan observasi terbatas terhadap 23 informan yang mencakup pengelola fasilitas kesehatan, pembuat kebijakan di tingkat daerah, serta pengguna layanan dari beragam latar belakang sosial ekonomi. Data dianalisis menggunakan thematic analysis dengan pendekatan induktif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa ketimpangan akses pelayanan kesehatan masih berlangsung secara nyata, terutama berkaitan dengan hambatan geografis, variasi kualitas layanan, dan beban keterjangkauan non-finansial, khususnya pada masyarakat di wilayah terpencil dan kelompok rentan. Temuan ini menunjukkan bahwa perluasan jaminan kesehatan belum secara otomatis memastikan tercapainya equity dalam akses pelayanan. Studi ini merekomendasikan strategi percepatan pemerataan melalui transformasi layanan primer, redistribusi tenaga kesehatan, dan digitalisasi layanan kesehatan sebagai langkah krusial dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045. Secara keseluruhan, penelitian ini memperkaya pemahaman teoretis.
Determinasi Faktor Penghambat Implementasi Sistem Informasi Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Andria, Dwi Septi; Prajurita, Muthia; Abdi, Telpa; Hartono, Budi
Indo Green Journal Vol. 4 No. 1 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i1.162

Abstract

Implementasi Sistem Informasi Kesehatan (SIK) di fasilitas pelayanan kesehatan merupakan langkah strategis dalam meningkatkan mutu pelayanan, efisiensi operasional, serta pengambilan keputusan berbasis data. Namun, banyak institusi kesehatan masih menghadapi berbagai hambatan yang mengganggu optimalisasi penerapan sistem tersebut. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis determinan faktor penghambat implementasi SIK di fasilitas pelayanan kesehatan serta merumuskan strategi penguatan berdasarkan sintesis literatur. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui telaah pustaka terhadap berbagai studi nasional dan internasional terkini yang membahas hambatan sistem informasi kesehatan, rekam medis elektronik, dan digitalisasi layanan kesehatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor penghambat utama meliputi sumber daya manusia, infrastruktur teknologi, dukungan organisasi, kebijakan dan regulasi, interoperabilitas, keterbatasan finansial, serta budaya organisasi. Rendahnya kompetensi digital, resistensi terhadap perubahan, keterbatasan jaringan internet, lemahnya komitmen manajemen, regulasi yang terfragmentasi, belum terintegrasinya sistem, serta minimnya anggaran menjadi kendala dominan. Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi dan membentuk tantangan sistemik yang kompleks sehingga tidak dapat diatasi melalui pendekatan parsial. Kajian ini juga menegaskan relevansi model HOT-Fit (Human–Organization–Technology Fit) dan TOE (Technology–Organization–Environment) dalam menjelaskan kompleksitas implementasi SIK. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi SIK memerlukan strategi terpadu berupa pelatihan berkelanjutan bagi SDM, penguatan infrastruktur, komitmen kepemimpinan yang kuat, standarisasi kebijakan nasional, pengembangan sistem interoperabel, pendanaan berkelanjutan, serta transformasi budaya digital yang adaptif. Dengan demikian, keberhasilan implementasi SIK sangat bergantung pada pendekatan sistem yang komprehensif dengan memperhatikan dimensi manusia, organisasi, dan teknologi secara simultan.
Determinasi Faktor Penghambat Implementasi Sistem Informasi Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Andria, Dwi Septi; Prajurita, Muthia; Abdi, Telpa; Hartono, Budi
Indo Green Journal Vol. 4 No. 1 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i1.162

Abstract

Implementasi Sistem Informasi Kesehatan (SIK) di fasilitas pelayanan kesehatan merupakan langkah strategis dalam meningkatkan mutu pelayanan, efisiensi operasional, serta pengambilan keputusan berbasis data. Namun, banyak institusi kesehatan masih menghadapi berbagai hambatan yang mengganggu optimalisasi penerapan sistem tersebut. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis determinan faktor penghambat implementasi SIK di fasilitas pelayanan kesehatan serta merumuskan strategi penguatan berdasarkan sintesis literatur. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui telaah pustaka terhadap berbagai studi nasional dan internasional terkini yang membahas hambatan sistem informasi kesehatan, rekam medis elektronik, dan digitalisasi layanan kesehatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor penghambat utama meliputi sumber daya manusia, infrastruktur teknologi, dukungan organisasi, kebijakan dan regulasi, interoperabilitas, keterbatasan finansial, serta budaya organisasi. Rendahnya kompetensi digital, resistensi terhadap perubahan, keterbatasan jaringan internet, lemahnya komitmen manajemen, regulasi yang terfragmentasi, belum terintegrasinya sistem, serta minimnya anggaran menjadi kendala dominan. Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi dan membentuk tantangan sistemik yang kompleks sehingga tidak dapat diatasi melalui pendekatan parsial. Kajian ini juga menegaskan relevansi model HOT-Fit (Human–Organization–Technology Fit) dan TOE (Technology–Organization–Environment) dalam menjelaskan kompleksitas implementasi SIK. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi SIK memerlukan strategi terpadu berupa pelatihan berkelanjutan bagi SDM, penguatan infrastruktur, komitmen kepemimpinan yang kuat, standarisasi kebijakan nasional, pengembangan sistem interoperabel, pendanaan berkelanjutan, serta transformasi budaya digital yang adaptif. Dengan demikian, keberhasilan implementasi SIK sangat bergantung pada pendekatan sistem yang komprehensif dengan memperhatikan dimensi manusia, organisasi, dan teknologi secara simultan.