Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Pengendalian Defisit BPJS Kesehatan dalam Kerangka Pembiayaan Kesehatan: Tinjauan Sistematis Best Practices dari Berbagai Negara Yurez, Nanda Argaswari; Irma, Eka; Rista, Indriana; Ghutsa, Alfani
Indonesian Research Journal on Education Vol. 5 No. 6 (2025): Irje 2025
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v5i6.3793

Abstract

Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menghadapi krisis finansial serius dengan perubahan drastis dari surplus Rp45,31 triliun pada 2020 menjadi defisit Rp7,14 triliun pada 2024. Rasio Klaim mencapai 106,76% dengan Ketahanan Dana hanya 2,85 bulan, jauh di bawah standar enam bulan. Berbagai strategi pengendalian seperti kenaikan iuran dan reaktivasi peserta terbukti belum berkelanjutan karena hanya bersifat incremental dan tidak menyentuh akar persoalan struktural. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pemulihan defisit JKN secara komprehensif dengan kerangka Health Financing Functions, mengadaptasi praktik global yang efektif namun belum diadopsi secara sistematis di Indonesia. Melalui metode mixed methods, penelitian memadukan analisis data keuangan BPJS 2020–2024 dengan tinjauan literatur dan komparasi tujuh negara yang memiliki best practices dalam pengendalian biaya, pengawasan independen, diversifikasi fiskal, benchmarking pertumbuhan biaya, value-based purchasing, HTA mandatory, serta integrasi pencegahan jangka panjang. Hasil penelitian mengungkap tiga kegagalan struktural utama: fundraising gap dengan 55,42 juta peserta tidak aktif, pooling failure akibat tumpang tindih fungsi BPJS, dan purchasing inefficiency karena ketiadaan pengendalian biaya makro. Untuk itu, dirumuskan strategi pemulihan multipilar, termasuk diversifikasi fiskal melalui cukai rokok dan kajian health levy pada PPN, pembentukan badan asesmen independen, integrasi kepesertaan dengan layanan publik esensial, penerapan bertahap Global Budgeting di RS tersier, mandatory gatekeeping, strategic purchasing obat berbasis HTA, serta penyesuaian tarif INA CBG berbasis costing riil dengan hard budget constraint.
Penggunaan Threshold Cost-Effectiveness dalam Pengambilan Keputusan Pembiayaan Kesehatan: Literature Review Irma, Eka; Rista, Indriana; Yurez, Nanda Argaswari; Hartono , Budi
Indonesian Research Journal on Education Vol. 6 No. 1 (2026): Irje 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v6i1.4062

Abstract

Pengambilan keputusan pembiayaan kesehatan publik dihadapkan pada keterbatasan sumber daya dan meningkatnya kebutuhan untuk memprioritaskan intervensi yang memberikan manfaat kesehatan optimal. Dalam konteks tersebut, cost-effectiveness analysis (CEA) dengan cost-effectiveness threshold berperan sebagai tolok ukur operasional untuk menilai kelayakan pendanaan suatu intervensi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah secara sistematis penggunaan cost-effectiveness threshold dalam pengambilan keputusan pembiayaan kesehatan melalui pendekatan literature review. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan deskriptif analitik terhadap publikasi ilmiah dan dokumen kebijakan yang membahas CEA, cost-effectiveness threshold, health opportunity cost, serta implementasinya dalam sistem pembiayaan kesehatan. Penelusuran literatur dilakukan pada jurnal internasional bereputasi dan sumber kebijakan kesehatan yang relevan, dengan fokus pada perkembangan metodologi dan praktik kebijakan dalam satu dekade terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan threshold tradisional berbasis 1–3 kali produk domestik bruto (PDB) per kapita masih banyak digunakan, khususnya di negara berpenghasilan rendah dan menengah, namun mendapat kritik karena tidak merefleksikan health opportunity cost yang sesungguhnya. Literatur terkini menyoroti pergeseran paradigma menuju threshold berbasis opportunity cost yang dinilai lebih relevan dengan keterbatasan anggaran dan produktivitas marginal sistem kesehatan. Selain itu, penggunaan threshold yang bersifat teknokratis tanpa mempertimbangkan aspek ekuitas, tata kelola, dan nilai sosial berpotensi menghasilkan keputusan pembiayaan yang kurang adil. Disimpulkan bahwa cost-effectiveness threshold merupakan instrumen strategis dalam penetapan prioritas pembiayaan kesehatan, namun penggunaannya harus bersifat kontekstual, transparan, dan dipadukan dengan pendekatan multi-kriteria. Integrasi threshold berbasis health opportunity cost dengan pertimbangan kebijakan dan ekuitas dinilai penting untuk mendukung alokasi sumber daya kesehatan yang efisien, adil, dan berkelanjutan.