Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implementasi Sharing Space sebagai Safe Place untuk Meningkatkan Keterbukaan Psikologis Anak Migran dalam Pendidikan Informal Fadiyah, Salamatun Nisrinal; Rofi’ati, Dhevi Sa’idatur; Sholihah, Kholifah Umi; Harisuci, Tinon Citraning
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4608

Abstract

Anak migran Indonesia non-dokumen merupakan kelompok yang berada dalam kondisi kerentanan sosial dan psikologis akibat keterbatasan akses terhadap pendidikan formal, layanan kesehatan, serta dukungan emosional dari keluarga. Orang tua yang bekerja dengan jam kerja panjang menyebabkan anak menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan pendidikan nonformal, seperti sanggar bimbingan belajar, yang berperan tidak hanya sebagai ruang akademik, tetapi juga ruang sosial dan emosional bagi anak. Namun, fokus kegiatan sanggar yang dominan pada aspek akademik sering kali belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan emosional anak. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan menghadirkan program sharing space sebagai ruang aman psikologis untuk mendukung keterbukaan emosional dan regulasi emosi anak migran non-dokumen. Kegiatan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain partisipatoris dan dilaksanakan selama tiga minggu di salah satu sanggar bimbingan belajar di bawah naungan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Subjek kegiatan adalah anak-anak migran Indonesia non-dokumen usia sekolah dasar. Program sharing space dilakukan secara konsisten setelah kegiatan pembelajaran dengan memberikan ruang bagi anak untuk berbagi pengalaman, mengekspresikan perasaan, serta membangun relasi yang aman dengan fasilitator. Evaluasi program dilakukan melalui observasi kualitatif terhadap perilaku anak selama kegiatan berlangsung. Hasil pelaksanaan program menunjukkan bahwa sharing space berperan dalam meningkatkan keterbukaan psikologis anak, yang ditandai dengan meningkatnya keberanian anak dalam bercerita, keterlibatan selama kegiatan, serta berkurangnya konflik antaranak. Relasi yang empatik dan non-menghakimi antara fasilitator dan anak menjadi faktor penting dalam menciptakan rasa aman emosional. Dengan demikian, sharing space dapat dipahami sebagai intervensi psikososial ringan yang aplikatif dan relevan dalam konteks pendidikan nonformal bagi anak migran non-dokumen.
Neuroticism pada Atlet Pencak Silat dalam Konteks Tekanan Sosial dan Ekspektasi Eksternal: Sebuah Studi Kualitatif Fadiyah, Salamatun Nisrinal; Rofi’ati, Dhevi Sa’idatur; Ratri, Prapti Madyo
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4610

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan manifestasi neuroticism pada seorang atlet pencak silat dalam konteks tekanan sosial dan ekspektasi eksternal yang melekat pada olahraga prestasi. Neuroticism merupakan salah satu dimensi kepribadian Big Five yang ditandai dengan kecenderungan mengalami emosi negatif, kerentanan terhadap stres, serta ketidakstabilan emosi (Costa & McCrae, 1992). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan partisipan seorang atlet pencak silat berinisial KDV yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur yang menggali pengalaman subjektif atlet terkait tekanan kompetisi, tuntutan organisasi, serta respons emosional sebelum dan selama pertandingan. Data dianalisis menggunakan analisis tematik berdasarkan prosedur Braun dan Clarke (2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa KDV menampilkan manifestasi neuroticism pada seluruh aspek utama, yaitu anxiety, self-consciousness, vulnerability to stress, impulsiveness, depression, dan angry hostility. Manifestasi tersebut tampak dalam bentuk ketakutan berlebih terhadap kegagalan, reaksi fisiologis seperti gemetar dan panik sebelum bertanding, sensitivitas tinggi terhadap kritik dan komentar penonton, kesulitan mengontrol emosi yang berdampak pada perilaku impulsif hingga menyebabkan cedera, serta munculnya suasana hati negatif setelah hasil pertandingan yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Faktor-faktor pemicu utama meliputi tekanan organisasi untuk meraih prestasi, pengalaman masa kecil berupa bullying, ekspektasi sosial dari lingkungan sekitar, serta tuntutan internal atlet untuk selalu menang. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa konteks sosial dan lingkungan kompetitif berperan penting dalam memunculkan dan memperkuat respons neurotik pada atlet pencak silat.