Mubarok, Moch Yazid
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Tipe HOTS dan LOTS dalam Asesmen Madrasah Matematika Tingkat Lanjut di MAN 1 Trenggalek Sudarmanto, Sudarmanto; Mubarok, Moch Yazid; Munir, Ulfa Saikhul; Sutopo, Sutopo; Musrikah, Musrikah
Polinomial : Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Papanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56916/jp.v5i1.3341

Abstract

The demands of 21st century learning emphasize the importance of developing higher-order thinking skills through assessments aligned with the revised Bloom’s Taxonomy. However, mathematics assessment practices at the secondary education level are still predominantly focused on measuring lower-order thinking skills. This study aims to describe the characteristics and proportion of Higher Order Thinking Skills (HOTS) and Lower Order Thinking Skills (LOTS) items in the Advanced Mathematics Madrasah Assessment at Senior High School 1 Trenggalek. The study employed a descriptive approach using a combination of qualitative and quantitative methods through document analysis of 40 assessment items consisting of multiple-choice, complex multiple-choice, and short-answer questions. Each item was analyzed based on the cognitive levels of the revised Bloom’s Taxonomy (C1–C6) and classified into HOTS and LOTS categories. The results indicate that the assessment is still dominated by LOTS items, particularly at the C3 (applying) level, which emphasizes procedural skills. HOTS items were identified at the C4 and C5 levels, while the C6 (creating) level has not yet been accommodated. In terms of item format, multiple-choice questions tend to measure LOTS, whereas complex multiple-choice and short-answer questions are more likely to assess HOTS. These findings suggest that the assessment remains in a transitional phase toward strengthening higher order reasoning.
SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW (SLR): STUDI KOMPARASI LANDASAN FILOSOFIS KURIKULUM MATEMATIKA DI INDONESIA DAN SINGAPURA Rahmawati, Putri Melinda; Rosidah, Nanda Nur Indah Kamilatur; Mubarok, Moch Yazid; Hadi, Syaiful; Zahroh, Umy
Pedagogy: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 10 No. 4 (2025): Pedagogy : Jurnal Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/pedagogy.v10i4.7711

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis landasan filosofis yang mendasari pengembangan kurikulum matematika di Indonesia pada Kurikulum Merdeka dan kurikulum matematika di Singapura. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA. Data diperoleh dari basis data Crossref dan Semantic Scholar menggunakan aplikasi Publish or Perish, dengan kata kunci “filosofi pendidikan”, “kurikulum matematika”, “kurikulum merdeka”, dan “kurikulum Singapura” dalam rentang publikasi 2021–2025. Dari 319 artikel yang ditemukan, setelah proses seleksi berlapis berdasarkan kriteria inklusi-eksklusi, diperoleh 5 artikel yang memenuhi syarat untuk dianalisis. Analisis dilakukan secara kualitatif melalui sintesis temuan dan visualisasi menggunakan VOSviewer dan WordCloud. Hasil penelitian menunjukkan bahwa landasan filosofis kurikulum matematika di Indonesia dan Singapura sama-sama berakar pada pragmatisme, konstruktivisme, dan humanisme, namun berbeda dalam penerjemahannya. Landasan filosofis tersebut tercermin dalam komponen kurikulum matematika. Tujuan kurikulum matematika di Indonesia berorientasi pada abad 21 dan penguatan karakter. Sedangkan di Singapura pengembangan konsep, kemampuan metakognitif, serta kesiapan menghadapi tantangan modern. Konten materi di Indonesia meliputi bilangan, aljabar, geometri, hubungan dan fungsi, statistika dan peluang, serta kalkulus, sedangkan di Singapura meliputi bilangan, algebra, geometri, dan statistika. Pendekatan pembelajaran di Indonesia menggunakan pendekatan kontekstual dengan mengintegrasikan proyek kolaboratif, sedangkan di Singapura menggunakan Concrete Pictorial Abstract (CPA), model drawing, bar model, dan pembelajaran berbasis penguasaan. Indonesia dan Singapura memiliki asesmen yang sama yaitu formatif dan sumatif, namun dengan orientasi tujuan yang berbeda.