Listiyowardany, Yunia Hardiani
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Dampak Adaptasi Kesantunan pada Pola Interaksi Asertif-Direktif Diskusi Percakapan Kelompok Siswa di SMP Negeri 9 Penajam Paser Utara Khadijah, Desy Sitti; Listiyowardany, Yunia Hardiani; Mulawarman, Widyatmike Gede; Suhatmady, Bibit
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i1.51780

Abstract

Group discussions in class require tasks to be completed quickly, so that interactions between students are often dominated by speech that directs action and has the potential to create tension. This study aims to describe (1) the realization of directive and assertive speech acts in group discussions among students in class IX-A of SMP Negeri 9 Penajam Paser Utara, (2) the politeness strategies accompanying these utterances, and (3) their impact on interaction patterns. This study uses a descriptive qualitative approach. The data, in the form of group discussion transcripts (8 episodes) with a total of 42 utterances, were collected through observation and transcribed, then classified based on the type of speech act and analyzed using the speech act framework and Brown and Levinson's politeness theory (face and face-threatening act). The results show that directive speech acts tend to be dominant, especially the subcategory of requesting (9 utterances), followed by ordering (5), directing sequence (4), prohibiting (2), and silencing (2). Assertive speech acts appeared in the form of judging (5), accusing (4), denying (1), stating (1), explaining/giving examples (1), classifying (1), expressive reactions (1), and affirming references (1). Politeness strategies were evident through the use of question forms for clarification/confirmation, positive politeness (e.g., reinforcement/solidarity), and lexical mitigation; however, under certain conditions, direct utterances without mitigation appeared, which increased face threat. As a result, mitigated directive utterances reinforce cooperative-coordinative interaction patterns, while a combination of assertive attacks (e.g., accusations/labels) and coercive directives encourages conflict escalation with patterns of attack-defense-silencing. These findings emphasize the importance of teacher facilitation in discussion learning so that coordinative assertiveness remains in line with linguistic politeness. Abstrak Diskusi kelompok di kelas menuntut penyelesaian tugas secara cepat sehingga interaksi antarsiswa kerap didominasi tuturan yang bersifat mengarahkan tindakan sekaligus berpotensi memunculkan ketegangan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) realisasi tindak tutur direktif dan asertif dalam diskusi kelompok siswa kelas IX-A SMP Negeri 9 Penajam Paser Utara, (2) strategi kesantunan yang menyertai tuturan tersebut, serta (3) dampaknya terhadap pola interaksi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data berupa transkrip diskusi kelompok (8 episode) dengan total 42 tuturan, dikumpulkan melalui teknik simak dan ditranskripsikan, kemudian diklasifikasikan berdasarkan jenis tindak tutur dan dianalisis menggunakan kerangka tindak tutur serta teori kesantunan Brown dan Levinson (face dan face-threatening act). Hasil menunjukkan bahwa tindak tutur direktif cenderung dominan, terutama subkategori meminta (9 tuturan), diikuti menyuruh (5), mengarahkan urutan (4), melarang (2), dan membungkam (2). Tindak tutur asertif muncul dalam bentuk menilai (5), menuduh (4), menyangkal (1), menyatakan (1), menjelaskan/mencontohkan (1), mengklasifikasikan (1), ekspresif reaksi (1), dan menegaskan rujukan (1). Strategi kesantunan tampak melalui penggunaan bentuk tanya untuk klarifikasi/konfirmasi, kesantunan positif (misalnya penguatan/solidaritas), dan mitigasi leksikal; namun pada kondisi tertentu muncul tuturan langsung tanpa mitigasi yang meningkatkan ancaman muka. Dampaknya, tuturan direktif yang termitigasi memperkuat pola interaksi kooperatif–koordinatif, sedangkan kombinasi asertif menyerang (mis. tuduhan/label) dan direktif koersif mendorong eskalasi konflik dengan pola penyerangan–pertahanan–pembungkaman. Temuan ini menegaskan pentingnya fasilitasi guru dalam pembelajaran diskusi agar ketegasan koordinatif tetap sejalan dengan kesantunan berbahasa.
ANALISIS STRUKTURAL DAN MOTIF NARATIF LEGENDA ASAL-USUL NAMA BALIKPAPAN (VERSI PAPAN KEMBALI DAN PUTRI PETUNG) KAJIAN FOLKLOR KAMPARATIF Listiyowardany, Yunia Hardiani; Putri, Nina Queena Hadi; Rokhmansyah, Alfian
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i2.1227

Abstract

Cerita rakyat adalah salah satu budaya popular di Masyarakat, dengan membawakan cerita kepada anak, dapat memberi stimulus bermanfaat untuk mengolah rasa, emosi dan bahasa. Namun seiring perkembangan zaman cerita rakyat mulai menghilang oleh karena itu penelitian ini bertujuan menganalisis secara komparatif struktur dan motif naratif dua versi utama legenda asal-usul nama Kota Balikpapan, yaitu versi Papan Kembali dan versi Putri Petung. Analisis struktural menggunakan pendekatan strukturalisme Claude Lévi-Strauss untuk mengungkap oposisi biner mendasar, sementara analisis motif naratif menggunakan taksonomi Stith Thompson untuk mengidentifikasi unsur-unsur cerita yang berulang. Hasil kajian menunjukkan adanya perbedaan skema naratif yang signifikan antara kedua legenda tersebut, meskipun keduanya berfungsi sebagai mitos etiologi yang menjelaskan penamaan suatu tempat. Versi Papan Kembali berfokus pada dinamika hubungan Raja/Pusat Kekuasaan dengan Rakyat/Periferi dan unsur benda (papan) sebagai subjek, sedangkan versi Putri Petung menyoroti nasib tragis tokoh perempuan (Putri) dan oposisi biner Alam/Budaya (Lautan/Peradaban). Kajian komparatif ini menyimpulkan bahwa keragaman legenda mencerminkan kompleksitas dan multikulturalitas historis masyarakat awal Balikpapan yang terkait dengan pengaruh Kerajaan Kutai dan Paser.
MOTIVASI MENULIS TEKS NARATIF SISWA SMP NEGERI 9 PENAJAM PASER UTARA DALAM PERSPEKTIF SELF DETERMINATION THEORY: STUDI KASUS PSIKOLINGUISTIK BERBASIS WAWANCARA DAN PRODUK TEKS Khadijah, Desy Sitti; Listiyowardany, Yunia Hardiani; Susilo, Susilo; Kalukar, Ventje Jany
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 9 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v9i1.1252

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan motivasi siswa SMP dalam menulis teks naratif serta keterkaitannya dengan kualitas produk tulisan dalam konteks implementasi Kurikulum Merdeka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi proses pembelajaran/penulisan, dan analisis dokumen teks naratif siswa. Analisis dilakukan secara tematik untuk data wawancara dan observasi, serta analisis teks untuk mengkaji struktur naratif, koherensi, pengembangan ide, ketepatan penggunaan bahasa, dan jejak revisi sebagai indikator proses kognitif menulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi menulis siswa bervariasi dan dipengaruhi oleh pemenuhan kebutuhan otonomi, kompetensi, dan relasi (Self Determination Theory), serta oleh harapan keberhasilan dan nilai tugas (teori harapan–nilai). Siswa dengan otonomi dan nilai personal yang kuat cenderung lebih mudah memulai, mempertahankan alur, serta mengembangkan konflik dan resolusi, sehingga struktur naratif lebih utuh dan koheren. Sebaliknya, siswa dengan persepsi kompetensi rendah lebih sering mengalami kesulitan generasi ide, menghasilkan teks yang cenderung aditif, kurang terorganisasi, dan menunjukkan ketidakstabilan pada aspek kebahasaan serta monitoring-revisi. Temuan ini mengimplikasikan perlunya pembelajaran menulis naratif yang memberi ruang pilihan, scaffolding perencanaan (orientasi–komplikasi–resolusi), serta umpan balik bertahap untuk memperkuat keterlibatan dan kualitas tulisan siswa.
KONTAK BAHASA DAN DINAMIKA PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM INTERAKSI GURU MATA PELAJARAN UMUM DI SMKN 1 BALIKPAPAN Listiyowardany, Yunia Hardiani; Rizal, Syamsul; Masrur, Masrur
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 9 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v9i1.1288

Abstract

Penelitian ini membahas dinamika kontak bahasa antara bahasa Jawa dan bahasa Indonesia pada sekelompok guru mata pelajaran umum di SMKN 1 Balikpapan. Kota Balikpapan merupakan daerah urban dengan mobilitas penduduk tinggi serta jumlah penduduk lebih dari 700 ribu jiwa pada tahun 2022, sehingga menjadi ruang pertemuan berbagai etnis dan bahasa daerah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan: (1) pola penggunaan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia oleh guru mata pelajaran umum di SMKN 1 Balikpapan dalam interaksi formal dan nonformal; (2) bentuk-bentuk kontak bahasa (campur kode, alih kode, dan interferensi) yang muncul; dan (3) faktor-faktor sosio-kultural yang memengaruhi pilihan bahasa para guru. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipan, perekaman tuturan, dan wawancara mendalam. Data dianalisis melalui tahap transkripsi, pengkodean, kategorisasi, dan interpretasi berdasarkan teori kontak bahasa dan sosiolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya kecenderungan meningkatnya penggunaan bahasa Indonesia pada ranah resmi sekolah, tetapi bahasa Jawa tetap kuat dipertahankan dalam interaksi informal antarguru. Kontak bahasa tampak melalui campur kode leksikal serta interferensi struktur bahasa Jawa dalam tuturan bahasa Indonesia. Faktor penentu penggunaan bahasa meliputi kedekatan etnis, tujuan interaksi, usia, serta norma institusional tidak tertulis di kalangan guru. Temuan ini mengindikasikan bahwa penggunaan bahasa Jawa di lingkungan sekolah kejuruan bukan hanya persoalan kebiasaan, melainkan juga simbol kedekatan sosial. Pada saat yang sama, kondisi tersebut menuntut pengelolaan penggunaan bahasa Indonesia ragam baku secara konsisten dalam ranah formal.
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN CERPEN BERBASIS PROJECT BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS CERPEN SISWA DI SMK NEGERI 1 BALIKPAPAN Listiyowardany, Yunia Hardiani; Rokhmansyah, Alfian; Putri, Nina Queena Hadi
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 9 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v9i1.1453

Abstract

Pembelajaran sastra memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan berbahasa, kreativitas, serta kepekaan estetis siswa. Namun, dalam praktik pembelajaran di sekolah menengah kejuruan, keterampilan menulis cerpen siswa masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh proses pembelajaran yang cenderung bersifat teoritis, kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih menulis secara kreatif, serta minimnya penerapan model pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran menulis cerpen berbasis Project Based Learning (PjBL) guna meningkatkan keterampilan menulis cerpen siswa di SMK Negeri 1 Balikpapan. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI SMK Negeri 1 Balikpapan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi proses pembelajaran, wawancara dengan guru dan siswa, serta analisis terhadap hasil karya cerpen yang dihasilkan siswa. Data dianalisis melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis proyek mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran serta meningkatkan kualitas cerpen yang dihasilkan. Siswa menjadi lebih aktif dalam mengembangkan ide cerita, menyusun alur, membangun konflik, serta mengembangkan karakter tokoh secara lebih kreatif. Selain itu, model pembelajaran ini juga mendorong kolaborasi, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menghasilkan karya sastra. Dengan demikian, model pembelajaran menulis cerpen berbasis Project Based Learning dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran sastra yang efektif untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen siswa di sekolah menengah kejuruan.