Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mutlaq Dan Muqayyad Dalam Surah Al-Baqarah Ayat 222 Marzatillah; Misnawati
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 6 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i6.2826

Abstract

Kajian ini merupakan penelitian usūl tafsīr yang menganalisis secara mendalam kaidah mutlaq dan muqayyad dalam konteks penetapan hukum pada surah al-Baqarah ayat 222. Ayat ini memuat pedoman fundamental mengenai larangan mendekati istri selama masa haid. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode library research dengan pendekatan komparatif, menelaah pandangan ulama tafsir klasik seperti Imam al-Qurthubi dan literatur usūl fiqh kontemporer. Tujuan utamanya adalah menguraikan bagaimana suatu perintah yang bersifat umum (mutlaq) dibatasi (muqayyad) untuk mencapai hukum yang rinci dan adil. Hasil analisis menunjukkan bahwa larangan mendekati istri “lā taqrabūhunna” yang bersifat mutlaq secara tekstual, dibatasi maknanya (muqayyad) oleh dua kondisi: Pertama; kondisi haid “fī al-mahīd”, yang mengkhususkan larangan hanya pada hubungan seksual, bukan pada interaksi yang lain. Kedua; batas waktu suci “ḥatta yathurna” yang memunculkan perbedaan interpretasi ulama terkait syarat kesucian. Perbedaan pandangan ini dibahas dalam kaidah “sebab berbeda namun hukumnya sama” dalam usūl fiqh. Mayoritas ulama berpendapat bahwa kebolehan jimak hanya boleh setelah darah berhenti dan telah melakukan mandi wajib. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada menganalisis pandangan ulama klasik dan kontemporer, serta etika pernikahan di zaman sekarang, sehingga Al-Quran dapat dipahami sebagai bagian dari rahmat Allah yang seimbang dan aplikatif.
Religious Tolerance among Muslim NGOs in Humanitarian Missions during the Aceh Floods from a Qur’anic Perspective Marzatillah; Syahrizal Abbas; Kamaruzzaman Bustamam Ahmad; Syamsul Rijal; M. Firdaus Annur
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol. 23 No. 1 (2026)
Publisher : South East Asia Regional Intellectual Forum of Qoran Hadith (SEARFIQH)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v23i1.34157

Abstract

The devastating floods that struck Aceh in late 2025 not only generated a large-scale humanitarian crisis but also reactivated latent tensions between universal humanitarian solidarity and local religious sensitivities. The presence of interfaith humanitarian actors in a region characterized by the formal implementation of Islamic law positioned humanitarian assistance within a social arena marked by complex ethical negotiations. This article examines how local Muslim NGOs interpret and practice interfaith solidarity by drawing upon the Qur’an as a living and contextual ethical framework. Employing an interpretive qualitative approach with socio-ethical analysis, the study is based on in-depth interviews, limited field observations, and the examination of secondary disaster-related data. The findings reveal that Qur’anic ethics, as enacted by Muslim NGOs, does not function as a fixed set of normative prescriptions; rather, it operates as a form of negotiated ethics continuously shaped through interactions among sacred texts, lived humanitarian experiences, and Aceh’s socio-religious environment. Interfaith solidarity is understood as a religious obligation that affirms a universal commitment to human dignity while maintaining clear ethical boundaries against the instrumentalization of humanitarian aid for non-humanitarian agendas. This study contributes to the growing scholarship on interfaith humanitarianism and Islamic ethics by offering empirical insights from a Muslim-majority context characterized by heightened religious sensitivity. It further enriches contemporary understandings of humanitarian practice as a reflective, socially embedded, and contextually negotiated ethical process.