Banjir yang berulang di Indonesia tidak dapat dipahami semata-mata sebagai fenomena hidrometeorologis, melainkan sebagai manifestasi krisis ekologis yang berakar pada problem etis dan kegagalan pengelolaan lingkungan berbasis ilmu pengetahuan. Artikel ini bertujuan menganalisis fenomena banjir dalam perspektif etika lingkungan dan filsafat sains dengan menekankan tanggung jawab ilmiah dalam relasi antara produksi pengetahuan, kebijakan publik, dan praktik pengelolaan lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan melalui analisis deskriptif-analitis terhadap buku rujukan, artikel jurnal ilmiah, dokumen kebijakan, serta peraturan perundang-undangan yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa banjir di Indonesia dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara perubahan iklim dan aktivitas manusia, termasuk deforestasi, alih fungsi lahan, perencanaan tata ruang yang tidak berkelanjutan, serta lemahnya penegakan hukum lingkungan. Dalam perspektif etika lingkungan, kondisi tersebut mencerminkan relasi antroposentris yang problematik dan pengabaian nilai intrinsik alam. Sementara itu, filsafat sains menegaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak bersifat bebas nilai, sehingga praktik ilmiah dan kebijakan penanggulangan banjir perlu mempertimbangkan dimensi moral, keadilan ekologis, dan keberlanjutan ekosistem. Artikel ini menekankan pentingnya integrasi tanggung jawab ilmiah melalui kebijakan berbasis sains, prinsip kehati-hatian, solusi berbasis alam, partisipasi publik, dan penguatan edukasi ekologis sebagai prasyarat pengelolaan lingkungan yang adil dan berkelanjutan dalam mitigasi risiko banjir di Indonesia.