Ulfa Safira Soliha
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Wasiat dalam Al-Qur’an dan Dinamika Pengaturannya di Indonesia: Kajian Tafsir Maudhū‘ī Ulfa Safira Soliha; Sukiati; Fatimah
Al Fuadiy Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 8 No. 1 (2026): January-June, Al Fuadiy : Journal of Islamic Family Law (in Press)
Publisher : Nurul Qarnain College of Sharia Studies, Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/af.v8i1.1839

Abstract

The regulation of wills (waṣiyyah) in Islamic law demonstrates a complex normative transformation that reflects the interaction between Qur’anic legal verses, juristic interpretation, and contemporary legal systems. Qur’anic provisions on wills, particularly in Q.S. al-Baqarah (180–182, 240) and Q.S. al-Mā’idah (106), initially positioned the will as a central mechanism for ensuring moral responsibility, social protection, and distributive justice prior to the formal codification of inheritance law. Subsequent developments in Islamic jurisprudence, however, introduced doctrinal limitations following the revelation of inheritance verses, reshaping the function of the will within Islamic legal thought. Through a thematic (tafsīr maudhū‘ī) analysis, this article demonstrates that Qur’anic regulations on wills form an integrated normative framework encompassing moral obligation, legal protection, corrective justice, and procedural accountability. When examined in the Indonesian context, the regulation of wills—particularly through the Compilation of Islamic Law—reveals a process of legal adaptation and reconstruction that responds to social realities while remaining anchored in Islamic legal principles. The expansion of concepts such as mandatory wills (waṣiyyah wājibah) illustrates how Islamic law operates dynamically within a plural legal system. This analysis underscores that wills function not merely as a residual legal instrument subordinate to inheritance law, but as a converging point between Qur’anic norms, juristic reasoning, and state regulation in contemporary Islamic family law.
Analisis Komparatif Konsep Mahar menurut Mazhab Hanafiyah, Undang-Undang Perkawinan, dan Kompilasi Hukum Islam Nasywa Nabilah Nugroho; Ainul Mardhiah; Putri Rahma; Ulfa Safira Soliha; Junaidi Lubis
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.39932

Abstract

Penelitian ini membahas konsep mahar dalam perspektif Mazhab Hanafi, Undang‑Undang Nomor 1 Tahun 1974, dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia. Mahar dipahami sebagai hak mutlak istri yang wajib dipenuhi suami, berfungsi sebagai simbol penghormatan, tanggung jawab, dan legitimasi akad nikah. Mazhab Hanafi menekankan batas minimal dan bentuk harta, sedangkan regulasi nasional memberikan fleksibilitas dalam bentuk, jumlah, dan kesepakatan kedua pihak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, menganalisis literatur fiqh, UU Perkawinan, dan KHI secara deskriptif-komparatif. Hasil kajian menunjukkan persamaan dalam penekanan hak istri dan kewajiban suami, tetapi terdapat perbedaan konseptual terkait nilai minimal, jenis, dan bentuk mahar. Perbedaan ini berimplikasi pada praktik hukum pernikahan, khususnya dalam penafsiran dan penyelesaian sengketa di pengadilan agama. KHI berperan sebagai instrumen harmonisasi, mengakomodasi prinsip fiqh klasik dan regulasi nasional sehingga mahar tetap menjadi hak istri dan ekspresi tanggung jawab suami tanpa membebani calon pasangan. Penelitian menekankan pentingnya keselarasan antara nilai fiqh dan hukum positif untuk menjamin keadilan, kemudahan, dan perlindungan hak dalam praktik pernikahan di Indonesia.