Nala Fury Ashlah
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANTARA TRADISI DAN SYARIAT : PERNIKAHAN ADAT JAWA DI KUA KECAMATAN MOJOTENGAH Anisa Seli Maresta; Nala Fury Ashlah; Vava Imam Agus Faisal
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 3 (2026): Februari
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v3i3.6804

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan pernikahan adat Jawa di Kecamatan Mojotengah dalam perspektif harmonisasi antara tradisi dan syariat Islam. Fokus penelitian mencakup karakter masyarakat terkait pelaksanaan pernikahan, pendekatan KUA dalam membimbing masyarakat, serta relevansi dan pelestarian adat Jawa di era modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan wawancara terhadap Kepala Badan Penyuluhan KUA sebagai informan utama, serta studi pustaka untuk memperkuat analisis teoretis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Mojotengah memiliki kesadaran tinggi terhadap kepatuhan syariat Islam, namun tetap menghargai tradisi adat Jawa seperti siraman, midodareni, panggih, dan sungkeman. KUA menerapkan pendekatan persuasif, edukatif, dan dialogis untuk mendorong pelaksanaan adat yang simbolik dan selaras dengan syariat, termasuk mengganti praktik yang mengandung unsur mistis dengan doa atau sedekah. Tradisi pernikahan adat Jawa tetap relevan dan dapat dilestarikan, terutama apabila dimaknai sebagai sarana menanamkan nilai moral, penghormatan kepada orang tua, dan kebersamaan keluarga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa harmonisasi antara adat dan syariat dapat tercapai melalui pemahaman masyarakat yang bijak dan pembinaan dari KUA, sehingga pernikahan adat Jawa tetap lestari dan sesuai ajaran Islam. Rekomendasi diberikan agar generasi muda terus dibimbing dalam memaknai adat secara simbolik, dan masyarakat didorong untuk melestarikan budaya lokal tanpa melanggar prinsip-prinsip syariat.
PERAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM MENANAMKAN SIKAP TOLERANSI ANTAR SISWA: STUDI LITERATUR Nurul Mubin; Nala Fury Ashlah; Siti Sholihah
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 3 (2026): Februari
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v3i3.6805

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pendidikan multikultural dalam menanamkan sikap toleransi antar siswa di lingkungan pendidikan formal. Fokus kajian meliputi konsep pendidikan multikultural, perannya dalam pembentukan sikap toleransi, serta strategi implementasinya di sekolah berdasarkan berbagai hasil penelitian terdahulu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur (library research), yaitu dengan menelaah dan menganalisis sumber-sumber ilmiah berupa buku, artikel jurnal nasional dan internasional, serta publikasi akademik yang relevan dengan topik pendidikan multikultural dan toleransi siswa. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan multikultural berperan signifikan dalam membentuk sikap toleransi siswa melalui integrasi nilai-nilai keberagaman dalam kurikulum, proses pembelajaran yang inklusif, serta pengembangan budaya sekolah yang menghargai perbedaan. Pendidikan multikultural tidak hanya berkontribusi pada peningkatan pemahaman kognitif siswa mengenai keberagaman, tetapi juga pada pembentukan sikap afektif seperti empati, saling menghormati, dan keterbukaan terhadap perbedaan latar belakang sosial, budaya, dan agama. Strategi implementasi yang efektif meliputi integrasi nilai multikultural dalam mata pelajaran, penggunaan metode pembelajaran partisipatif, peningkatan kompetensi guru, serta penciptaan iklim sekolah yang inklusif dan demokratis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan multikultural merupakan fondasi penting dalam membangun lingkungan sekolah yang harmonis dan bebas dari sikap diskriminatif. Oleh karena itu, penguatan pendidikan multikultural perlu dilakukan secara berkelanjutan agar sekolah mampu menghasilkan peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki sikap toleran dan kesadaran sosial yang tinggi dalam kehidupan bermasyarakat.
Peran Pendidikan Akhlak dalam Menumbuhkan Kesehatan Mental Siswa di MA Takhassus al-Qur’an 1 Mojotengah Wonosobo Nala Fury Ashlah; Robingun Suyud El Syam; Muhtar Sofwan Hidayat
YASIN Vol 6 No 3 (2026): JUNI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/yasin.v6i3.10454

Abstract

Previous research on moral education and mental health has been dominated by quantitative approaches, so it has not fully described the process of internalizing moral values and students’ subjective experiences in depth. This study aims to describe students’ mental health conditions, analyze the role of moral education in fostering mental health, and identify supporting and inhibiting factors in its implementation at MA Takhassus Al-Qur’an 1 Mojotengah Wonosobo. This study used a qualitative approach with a field research design, involving the principal, the akidah akhlak teacher, the guidance and counseling teacher, and Grade XI students selected using purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The results showed that most students had fairly good mental health conditions, characterized by adaptability, positive social relationships, and active involvement in madrasah activities, although some students still experienced anxiety, lack of self-confidence, and difficulty controlling their emotions. Moral education played an important role through classroom learning, teacher role modeling, and religious habituation in helping students control their emotions, build inner calm, and strengthen character. Supporting factors in the implementation of moral education included the pesantren environment, rural community culture, a culture of tawaduk, and a religious school environment, whereas inhibiting factors included a lack of family support, the influence of negative peer environments, and the absence of a specific mental health program. The conclusion of this study emphasizes the importance of integrating moral education with structured mental health services so that students’ psychological needs can be addressed more optimally. These findings contribute to strengthening the literature on moral education and mental health and provide practical implications for madrasahs in designing character development programs integrated with professional psychological support.