Nur Hasanah
Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Kesiapsiagaan Bencana Pada Siswa Dan Guru Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tigapanah Kabupaten Karo Restu Restu; Nurmala Berutu; Meilinda Suriani Harefa; Muhammad Ridha Syafii Damanik; Muhammad Farouq Ghazali Matondang; Nur Hasanah; Muhammad Miftahurridlo; Rohil Al Azizah; Rozi Mahmuda
Jurnal Pendidikan Geosfer Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Pendidikan Geosfer
Publisher : Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jpg.v10i2.357-372

Abstract

Kabupaten Karo merupakan wilayah rawan bencana karena kedekatannya dengan Gunung Sinabung yang masih aktif, sehingga berpotensi menimbulkan bencana erupsi, longsor, dan banjir. Kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan yang baik, khususnya pada satuan pendidikan yang berada di kawasan terdampak bencana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesiapsiagaan warga sekolah dalam menghadapi bencana di SMP Negeri 1 Tigapanah Kabupaten Karo. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan observasi kepada kepala sekolah, guru, dan siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling untuk kepala sekolah serta random sampling untuk guru dan siswa. Analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan perhitungan indeks kesiapsiagaan yang disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan peta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesiapsiagaan warga sekolah SMP Negeri 1 Tigapanah berada pada kategori belum siap dengan nilai indeks sebesar 3,66. Rendahnya tingkat kesiapsiagaan tersebut disebabkan oleh belum tersedianya peta dan jalur evakuasi, panduan evakuasi bencana, rencana simulasi, serta keterbatasan sarana dan prasarana pendukung kebencanaan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah. ABSTRACT Karo Regency is a disaster-prone area due to its proximity to the active Mount Sinabung, which poses potential hazards such as volcanic eruptions, landslides, and floods. This condition requires adequate disaster preparedness, particularly in educational institutions located in disaster-affected areas. This study aims to analyze the level of disaster preparedness of the school community at Junior High School 1 Tigapanah, Karo Regency. This research employed a quantitative method with a descriptive approach. Data were collected through questionnaires and field observations involving the principal, teachers, and students. The sampling technique used total sampling for the principal and random sampling for teachers and students. Data were analyzed using quantitative descriptive analysis by calculating a preparedness index, which was presented in the form of tables, graphs, and maps. The results indicate that the level of disaster preparedness of the school community at Junior High School 1 Tigapanah falls into the not ready category, with an index value of 3.66. The low level of preparedness is attributed to the absence of evacuation maps and routes, disaster evacuation guidelines, simulation plans, as well as limited supporting facilities and infrastructure. The findings of this study are expected to serve as an evaluation basis for improving disaster preparedness in the school environment.
Pemetaan Triple Buden of Disease di Indonesia dengan Sistem Informasi Geografis untuk Zona Prioritas Intervensi Kesehatan Rohil Al Azizah; Zulfajri Zulfajri; Nur Hasanah; Muhammad Miftahurridlo; Darliandri Darliandri
Jurnal Pendidikan Geosfer Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Geosfer
Publisher : Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jpg.v11i1.151-172

Abstract

Indonesia menghadapi tantangan besar berupa triple burden of disease yaitu penyakit menular, penyakit tidak menular, dan masalah gizi secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran spasial triple burden of disease serta mengidentifikasi zona prioritas intervensi kesehatan pada 38 provinsi di Indonesia tahun 2023. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis spasial. Data penelitian bersumber dari laporan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kementerian Kesehatan, mencakup prevalensi stunting serta 4 kategori penyakit menular dan tidak menular di 38 provinsi Indonesia. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi, sedangkan  teknik analisis yang digunakan yaitu analisis overlay pada aplikasi ArcMap 10.4.1. Temuan penelitian menunjukkan ketidakmerataan beban penyakit yang kontras antarwilayah. Papua Tengah menjadi wilayah prioritas 1 (kerentanan tertinggi) yang membutuhkan intervensi segera. Sementara itu, 19 provinsi (didominasi Jawa dan Bali) berada pada prioritas 2 akibat tingginya prevalensi penyakit tidak menular yang dipicu oleh polusi dan pergeseran gaya hidupi. Adapun 18 provinsi lainnya masuk dalam kategori prioritas 3. ABSTRACT Indonesia faces a major challenge in the form of the triple burden of disease, namely infectious diseases, non-communicable diseases, and nutritional problems simultaneously. This study aims to map the spatial distribution of the triple burden of disease and identify priority zones for health interventions in 38 provinces in Indonesia in 2023. This study employed a quantitative approach with spatial analysis. Data were sourced from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) report of the Ministry of Health, covering the prevalence of stunting and four categories of infectious and non-communicable diseases in 38 Indonesian provinces. Data collection was conducted through documentation, while spatial overlay analysis was performed using ArcMap 10.4.1. The findings revealed significant spatial disparities in the disease burden between regions. Central Papua was identified as a the priority 1 region (highest vulnerability), requiring immediate intervention. Meanwhile, 19 provinces (dominated by Java and Bali) were classified as priority 2 due to the high prevalence of non-communicable diseases triggered by pollution and lifestyle shifts. The other 18 provinces are included in priority 3 category.