Taufik Hidayat
Universitas Nusa Cendana

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

The Economy of Inland Rejang Bengkulu in the Early 20th Century Hidayat, Taufik
HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 12, No 2 (2024): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/hj.v12i2.9383

Abstract

This study aims to examine the Rejang plateau region which became a new economic center in Bengkulu in the early 20th century. This research is a historical research including heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. This research uses an economic approach, data collection techniques in this research through literature studies such as tracing archives of colonial government annual reports and literature studies. The results of this study show that the Rejang region became the economic center in Bengkulu because the Rejang region was chosen as the location for the opening of private companies engaged in plantations and mining. Rejang was chosen as the location of private companies in Bengkulu because it has potential, especially favorable geographical factors. The operation of private companies in Rejang had an impact on the construction of increasingly massive roads from the interior region to the city of Bengkulu. Road construction in Rejang has opened up new economic opportunities for the community, such as the formation of markets or small towns and the emergence of new employment opportunities. 
Buku Digital interaktif Sebagai Media Pengembangan Literasi Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Nusa Cendana Ayu Febrianti Akbar; Djakariah Djakariah; Jakub Sadam Akbar; Sarlota Sipa; Saswal Ukba; Taufik Hidayat
Journal on Education Vol. 8 No. 2 (2025): Journal on Education: Volume 8 Nomor 2 Desember - Februari 2026
Publisher : Mathematics Education Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joe.v8i2.9014

Abstract

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah metode pembelajaran di zaman revolusi industri 4.0. Salah satu manifestasi dari kemajuan TIK adalah pemanfaatan buku digital sebagai solusi dalam peningkatan literasi pada dunia pendidikan Penelitian ini menekankan bagaimana pemanfaatan buku idgital dapat merefleksikan pengetahuan dan wawasan mahasiswa karena diketahui teknologi memili peranan besar sebagai sumber belajar mandiri mahasiswa Metode penelitian ini menggunakan analisis deskriptif melalui studi kepustakaan atas dokumen, artikel, jurnal, serta karya akademik yang relevan. Temuan penelitian menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan maasiswa merupakan kunci dalam menjaga kesinambungan meningkatkan literasi digital . Dengan demikian, Perubahan dalam teknologi informasi dan komunikasi telah memodifikasi cara pembelajaran di era revolusi industri 4.0. Salah satu wujud dari kemajuan TIK adalah penggunaan bahan ajar digital yang berpotensi menjadi solusi untuk meningkatkan budaya membaca di dunia pendidikan secara khusus, serta di masyarakat Indonesia secara umum. Dengan sejumlah keunggulan dan daya tarik yang ada pada buku digital, diharapkan minat mahasiswa untuk membaca akan meningkat, sehingga kemampuan literasi di Indonesia dapat semakin baik. Dengan cara ini, budaya literasi juga akan terus tumbuh. Kata kunci: Teknologi, Buku Digital, Literasi, Pendidikan, Mandiri.
PERKEBUNAN KOPI DI ONDERAFDELING REJANG, BENGKULU 1891-1941: PERKEMBANGAN, SISTEM PRODUKSI, DAN DAMPAK SOSIAL-EKONOMI Taufik Hidayat; Febta Pratama; Susilo Setyo Utomo
Danadyaksa Historica Vol 6, No 1 (2026): Danadyaksa Historica
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jdh.v6i1.11038

Abstract

Penelitian ini mengkaji perkembangan perkebunan kolonial di onderafdeling Rejang, Bengkulu, dalam rentang waktu 1891 hingga 1941. Berbeda dari kajian yang selama ini menempatkan buruh sebagai subjek utama, penelitian ini memusatkan analisis pada kondisi perkebunan itu sendiri meliputi sejarah pembukaan lahan, struktur pengelolaan, sistem produksi komoditas ekspor, serta dampak ekonomi terhadap daerah sekitar. Dengan menggunakan metode sejarah berbasis sumber arsip kolonial Belanda, laporan inspektorat buruh, dan laporan pejabat setempat, artikel ini menemukan bahwa perkembangan perkebunan swasta di Rejang ditopang oleh tiga faktor utama: 1) keunggulan geografis dataran tinggi yang subur, 2) kebijakan agraria liberal tahun 1870, dan 3) sistem rekrutmen tenaga kerja berbasis kontrak dari Jawa. Perkebunan berkembang dari satu onderneming pada 1891 menjadi sepuluh perkebunan besar pada 1928 dengan total luas 7.315 bau, menjadikan Rejang sebagai salah satu pusat perkebunan terpenting di wilayah Bengkulu. Sistem produksi kopi robusta yang dominan terbukti merespons dinamika pasar kolonial sekaligus membentuk tatanan sosial-ekonomi baru di wilayah pedalaman Sumatera. Temuan ini memperkuat argumen bahwa ekspansi perkebunan kolonial tidak semata praktik eksploitatif, melainkan juga agen transformasi lanskap, demografi, dan ekonomi daerah.
THE PEPPER PLANTATION SYSTEM DURING THE EAST INDIA COMPANY ERA IN BENGKULU 1685–1825 Taufik Hidayat; Febta Pratama; Utomo, Susilo Setyo; Saswal Ukba; Ayu Febriyanti Akbar
Jurnal Historica Vol. 10 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jhis.v10i1.60007

Abstract

This study aims to analyze the pepper plantation system in Bengkulu during the East India Company (EIC) period from 1685 to 1825, with a particular focus on colonial exploitation mechanisms, labor dynamics, and Bengkulu's integration into global pepper trade networks. The central questions examined include how the EIC constructed its pepper production system, mobilized and exploited labor, implemented colonial policies, and positioned Bengkulu within the global commodity trade. This research employs a historical research methodology encompassing the stages of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography, drawing on primary sources from the National Archives of the Republic of Indonesia (ANRI) and Sumatra Factory Records, supplemented by relevant historiographical secondary literature. The study finds that the EIC constructed the pepper plantation system through three primary mechanisms: (1) monopoly agreements with local rulers that obligated each household to cultivate a minimum of 1,000 pepper vines; (2) the use of enslaved African laborers as the operational backbone of the plantation system, with their numbers reaching 1,121 in 1778; and (3) the deployment of British Residents in pepper-producing districts as instruments of colonial control. Bengkulu was integrated into global trade networks through two principal export routes   Fort Marlborough–India–London with annual export volumes reaching 453,600–907,200 kg to European markets during the eighteenth century. This study concludes that the EIC's plantation system in Bengkulu constituted a systematic and exploitative form of colonial capitalism, integrating the region into the world economy not for the benefit of its inhabitants, but for the commercial gain of European merchants as evidenced by the recurring resistance of the Bengkulu population throughout the 140 years of EIC occupation.
Between Prestige And Importance: The Reason Why The British East India Company Survived In Bengkulu, 1685-1825 Taufik Hidayat; Febta Pratama
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Pendidikan Vol 13 No 1 (2026): JURNAL SEUNEUBOK LADA (In Progress)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33059/jsnbl.v13i1.13398

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis alasan mengapa Perusahaan Hindia Timur Inggris (EIC) mempertahankan kekuasaannya di Bengkulu selama periode 1685-1824. Pertanyaan penelitian dalam studi ini adalah: apa faktor utama yang mendorong Inggris untuk tetap berada di Bengkulu? Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan politik-ekonomi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor utama di balik keteguhan EIC di Bengkulubukan hanya karena keuntungan ekonomi dari perdagangan ladantuk mempertahankan hegemoni dan prestise dalam persaingan dengan Belanda di kepulauan Indonesia. Lada di Bengkulu menjadi simbol politik dan perpanjangan tangan EIC di wilayah tersebut. EIC tetap berada di Bengkulu hingga Perjanjian London tahun 1824, yang menandai berakhirnya kekuasaannya di Bengkulu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa dimensi politik dan prestise kolonial dapat menjadi faktor strategis yang sama kuatnya dengan motif ekonomi dalam mempertahankan wilayah kolonial.