Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Sumber Daya Kesehatan di Puskesmas Wapoga Kabupaten Nabire Provinsi Papua Tengah Elisabeth Cecilia Dimara; Novita Medyati; Septevanus Rantetoding; Semurl Piter Irab; Hasmi; Rosmin M. Tingginehe
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.954

Abstract

Sumber daya kesehatan merupakan komponen utama dalam sistem kesehatan yang berperan penting dalam menentukan kualitas dan aksesibilitas layanan kesehatan bagi masyarakat. Ketersediaan sumber daya kesehatan yang optimal sangat diperlukan untuk menjamin pelayanan kesehatan yang efektif, merata, dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan sumber daya kesehatan di Puskesmas Wapoga, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga Mei 2025. Informan dalam penelitian ini berjumlah 21 orang, yang terdiri dari Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan, Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan, Kepala Sub Bagian Perencanaan dan Pelaporan, pengelola data pelayanan kesehatan, pengelola data ketenagaan, Kepala UPTD Farmasi Dinas Kesehatan, Kepala Puskesmas Wapoga, staf Puskesmas Wapoga, pasien, dan tokoh masyarakat setempat. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan telaah dokumen. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan guna memastikan validitas dan reliabilitas informasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya kekurangan signifikan pada tujuh aspek utama sumber daya kesehatan, yaitu: fasilitas pelayanan yang belum memenuhi standar dan alat transportasi yang rusak; tenaga kesehatan yang belum mencukupi sesuai standar Permenkes; ketersediaan obat dan peralatan medis yang terbatas; sistem informasi kesehatan yang belum optimal dengan pelaporan yang tidak rutin; teknologi kesehatan yang minim dan kurangnya pelatihan; pendanaan yang tidak lancar terutama dana kapitasi dan transportasi obat; serta dampak keterbatasan sumber daya tersebut pada menurunnya kualitas dan cakupan pelayanan kesehatan di Puskesmas. Kondisi ini menuntut perencanaan strategis dan kebijakan efektif untuk memperbaiki dan meningkatkan layanan kesehatan di wilayah tersebut.
Faktor Risiko Kejadian Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Dekai Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua Pegunungan Fram Oktovianus Yalak; Sarce Makaba; Hasmi; Arius Togodly; Dolfinus Yufu Bouway; Yacob Ruru
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3013

Abstract

Tuberkulosis paru (TBC Paru) adalah penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, termasuk di Papua Pegunungan. Berbagai faktor risiko, seperti perilaku merokok, status HIV/AIDS, diabetes mellitus (DM), serta faktor sosial ekonomi, diketahui dapat memengaruhi kejadian TBC Paru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TBC Paru di Puskesmas Dekai, Kabupaten Yahukimo. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan kasus kontrol. Populasi penelitian terdiri dari seluruh pasien yang terdiagnosis TBC Paru dan kelompok kontrol yang tidak terdiagnosis TBC Paru di Puskesmas Dekai. Sampel penelitian terdiri dari 21 kasus TBC Paru dan 39 kontrol yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Penelitian ini dilakukan pada April-Mei 2025 di Puskesmas Dekai, Kabupaten Yahukimo. Uji statistik yang digunakan adalah chi-square atau Fisher’s Exact untuk uji bivariat dan odds ratio (OR) untuk mengukur kekuatan asosiasi antara faktor risiko dan kejadian TBC Paru. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis kelamin (p = 0,725; OR = 1,404; 95%CI (0,482 – 4,085)), umur (p = 0,619. OR = 1,545; 95%CI (0,511 – 4,672)), tingkat pendidikan (p = 0,568. OR = 1,581; 95%CI (0,544 – 4,600)), pekerjaan (p = 0,406. OR = 1,466; 95%CI (0,397 – 5,404)), jarak ke faskes (p = 0,653. OR =  1,500; 95%CI (0,504 – 4,466)), perilaku merokok (p = 1,000. OR = 0,943; 95%CI: (0,326 – 2,729)), status HIV positif (p = 0,568. OR = 1,581; 95%CI: (0,544 – 4,600)), dan status DM (p = 0,495. OR = 1,275; 95%CI: (0,341 – 4,771)) tidak berhubungan signifikan dengan kejadian TBC Paru. (p > 0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor-faktor risiko yang diteliti dengan kejadian TBC Paru di Puskesmas Dekai. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lain di luar variabel yang diteliti kemungkinan memiliki peran lebih besar dalam kejadian TBC Paru di wilayah tersebut, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan cakupan variabel yang lebih luas.
Analisis Risiko Infertilitas Akibat Konsumsi Ikan yang Mengandung Logam Berat pada Suku Port Numbay di Kampung Enggros, Tobati, dan Nafri di Teluk Youtefa, Kota Jayapura Anna Bethseba Lizabella Mien Manyakori; Dolfinus Yufu Bouway; Martapina Anggai; Hasmi; Sarce Makaba; Novita Medyati; Yacob Ruru
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4481

Abstract

Konsumsi Ikan yang Terkontaminasi Logam Berat Merupakan Faktor Risiko Potensial terhadap Infertilitas, terutama di wilayah pesisir dengan aktivitas perikanan yang tinggi seperti pada Suku Port Numbay di Teluk Youtefa, Kota Jayapura. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko infertilitas akibat konsumsi ikan yang mengandung logam berat pada masyarakat di Kampung Enggros, Tobati, dan Nafri. Desain penelitian menggunakan pendekatan kasus-kontrol dengan 42 responden (15 infertil dan 27 fertil). Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, kemudian dianalisis secara bivariat dengan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact Test. Risiko diukur menggunakan Odds Ratio (OR) dan 95% Confidence Interval (CI). Ditemukan bahwa perilaku konsumsi ikan yang terpapar logam berat berhubungan signifikan dengan infertilitas (p = 0.038; OR = 0.188; 95% CI: 0.038–0.914). Faktor lain seperti usia, pendidikan, pendapatan, akses layanan kesehatan, dan kualitas hidup menunjukkan kecenderungan hubungan, namun tidak signifikan secara statistik. Analisis multivariat dengan regresi logistik menunjukkan bahwa perilaku konsumsi ikan yang terkontaminasi logam berat dan usia merupakan faktor dominan yang memengaruhi infertilitas, dengan Odds Ratio (OR) masing-masing sebesar 7,10 dan 5,13. Terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku konsumsi ikan yang terkontaminasi logam berat dan kejadian infertilitas pada masyarakat Suku Port Numbay. Diperlukan pemantauan konsumsi ikan, edukasi kesehatan reproduksi, serta penelitian lanjutan menggunakan biomarker logam berat untuk memperdalam pemahaman terhadap risiko ini.
Analisis Perencanaan, Penganggaran Dan Implementasi Kebijakan Percepatan Pembangunan Kesehatan Di Papua Paskalis Howay; Septevanus Rantettoding; Martaphina Anggai; Hasmi; Novita Medyati; Sarce Makaba
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6820

Abstract

Pendahuluan: Percepatan pembangunan kesehatan di Provinsi Papua merupakan isu strategis dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan mengurangi kesenjangan antarwilayah. Namun, implementasi kebijakan percepatan pembangunan kesehatan masih menghadapi berbagai tantangan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perencanaan, penganggaran, implementasi kebijakan, serta tantangan implementasi terhadap percepatan pembangunan kesehatan di Provinsi Papua. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential explanatory. Data kuantitatif diperoleh melalui survei terhadap 84 responden yang terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kesehatan, dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square serta Rasio Prevalensi (RP). Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, tokoh adat, dan masyarakat, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil: Hasil penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa perencanaan (p=0,001; RP=9,947), penganggaran (p=0,000; RP=23,600), implementasi kebijakan (p=0,004; RP=24,231), dan tantangan implementasi kebijakan (p=0,000; RP=6,667) berpengaruh signifikan terhadap percepatan pembangunan kesehatan di Provinsi Papua. Temuan kualitatif mengungkap bahwa perencanaan pembangunan kesehatan cenderung bersifat administratif dan kurang kontekstual, penganggaran menghadapi kendala tata kelola dan konsistensi regulasi, implementasi kebijakan terkendala kondisi geografis dan keterbatasan sumber daya, serta minimnya pendekatan sosial budaya dalam pelaksanaan kebijakan. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa percepatan pembangunan kesehatan di Papua memerlukan perencanaan yang kontekstual, penganggaran yang akuntabel, implementasi kebijakan yang adaptif, serta pengelolaan tantangan secara terpadu dan partisipatif. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar perumusan kebijakan pembangunan kesehatan yang lebih efektif dan berkelanjutan di Provinsi Papua.