Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi Mutu Pelayanan Rekam Medis di Puskesmas Buntu Malangka Kabupaten Mamasa Muh Chandra Alim; Erni Febrianti; Masniati; Muhammad Fahresi Kamirullah; Annisa Suwahru; Nur Qalbi Talib
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2727

Abstract

Puskesmas Buntu Malangka Kabupaten Mamasa merupakan fasilitas kesehatan tingkat pertama yang penting bagi masyarakat setempat, khususnya dalam melayani pasien rawat jalan. Puskesmas ini bertugas memberikan layanan kesehatan dasar, pencegahan penyakit, dan edukasi kesehatan, serta berperan sebagai pusat informasi kesehatan. Namun, hasil observasi menunjukkan bahwa rekam medis di Puskesemas Buntu Malangka Kabupaten Mamasa tidak lengkap, termasuk data seperti identitas pasien, tanggal pemeriksaan, nama dokter, dan tulisan yang sulit dibaca. Kondisi ini mempengaruhi indikator mutu rekam medis, seperti kelengkapan isian rekam medis, keakuratan data rekam medis, ketepatan waktu pengembalian, dan persyaratan hukum, yang dapat berisiko pada kualitas pelayanan kesehatan dan potensi masalah hukum. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi mutu rekam medis di Puskemas Buntu Malangka. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan analisis kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan 91% rekam medis lengkap, tetapi 9% tidak lengkap. Keakuratan data hanya mencapai 57%, dengan 43% data yang tidak akurat. Namun, semua rekam medis dikembalikan tepat waktu (100%). Untuk persyaratan hukum, 89% rekam medis memenuhi standar, sementara 11% tidak. Kesimpulan dari penelitian ini adalah meskipun ada komitmen dalam mengelola rekam medis, masih terdapat beberapa area yang perlu di perbaiki, terutama dalam hal keakuratan data dan kelengkapan informasi. Perbaikan ini penting untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas Buntu Malangka Kabupaten Mamasa. Kata Kunci : Mutu Rekam Medis, Pelayanan Kesehatan
The Relationship Between Occupational Noise Exposure and Work Fatigue Among Apron Workers at Tampa Padang Airport Nurul Pratiwi Army; Annisa Suwahru; Astaman Sultan; Suci Setiani Annisa; Yusniar Anggraeny; Rizky Maharja; A. Mifta Farid Panggeleng; Bambang Hermawan
Jurnal EduHealth Vol. 17 No. 02 (2026): Jurnal EduHealt, April - June
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Work fatigue is a condition characterized by a decrease in work efficiency and physical endurance, with direct implications for workforce productivity and occupational safety. Apron workers at airports are simultaneously exposed to multiple occupational risk factors, most notably high levels of noise continuously generated by aircraft engines and ground support equipment operations. In addition to noise, age, workload, working hours, and length of service also influence the occurrence of work fatigue. This study analyzed the relationships between age, workload, working hours, length of service, and noise intensity with work fatigue among apron workers at Tampa Padang Airport, Mamuju. An observational analytic design with a cross-sectional approach was applied, conducted in January–February 2026. A total of 71 workers were selected through proportionate stratified random sampling from a population of 242. Work fatigue was measured using a reaction timer, workload via working pulse rate monitoring, and noise intensity using a sound level meter. Data on age, working hours, and length of service were collected through structured questionnaires. Univariate and bivariate analyses were performed using the chi-square test (α = 0.05). Results showed that 48 workers (67.6%) experienced work fatigue. Significant relationships were found between age (p = 0.001), workload (p = 0.001), working hours (p = 0.001), length of service (p = 0.001), and noise intensity (p = 0.017) with work fatigue. Management is advised to align working hours with regulatory standards and to enforce the mandatory use of hearing protection devices (earplugs/earmuffs) for all apron workers.