Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Mutu Layanan Terhadap Waktu Tunggu Pasien Di Puskesmas Koya Barat, Kota Jayapura Romeicky Jenli Abram Korwa; Agus Zainuri; Novita Medyati; Semuel Piter Irab; Sarce Makaba; Anneke Yacob
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i1.2861

Abstract

Lama waktu tunggu pelayanan merupakan salah satu masalah utama dalam praktik pelayanan kesehatan yang dapat menyebabkan ketidakpuasan pasien. Waktu tunggu mengacu pada durasi yang digunakan pasien untuk memperoleh pelayanan, mulai dari registrasi hingga penerimaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh mutu layanan terhadap waktu tunggu pasien di Puskesmas Koya Barat, Kota Jayapura. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari seluruh pasien rawat jalan di Puskesmas Koya Barat, dengan jumlah sampel sebanyak 95 orang. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, dan data dianalisis menggunakan uji chi-square dan rasio prevalensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh signifikan antara mutu layanan dan waktu tunggu pasien. Daya tanggap memiliki pengaruh signifikan terhadap waktu tunggu (p-value = 0,000; RP = 2,614; CI 95% = 1,597 – 4,279). Perhatian juga berpengaruh signifikan (p-value = 0,045; RP = 1,642; CI 95% = 1,065 – 2,532). Sementara itu, bukti langsung menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap waktu tunggu (p-value = 0,0299; RP = 1,735; CI 95% = 1,149 – 2,2622). Di sisi lain, mutu layanan yang tidak menunjukkan pengaruh signifikan adalah jaminan (p-value = 0,736; RP = 0,878; CI 95% = 0,548 – 1,406) dan bukti langsung yang hampir signifikan (p-value = 0,051; RP = 1,647; CI 95% = 1,084 – 2,502). Pengaruh mutu layanan terhadap waktu tunggu pasien di Puskesmas Koya Barat cukup signifikan, dengan daya tanggap dan perhatian menjadi faktor yang paling memengaruhi. Peningkatan kualitas pelayanan pada aspek ini diharapkan dapat mengurangi waktu tunggu dan meningkatkan kepuasan pasien.
Analisis Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita Di Kabupaten Jayapura Tahun 2022 Anneke Yacob
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6150

Abstract

Latar Belakang: Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia, khususnya di wilayah timur seperti Provinsi Papua. Kabupaten Jayapura merupakan salah satu wilayah dengan prevalensi stunting yang masih relatif tinggi dan menunjukkan variasi antar kecamatan. Stunting berdampak jangka panjang terhadap perkembangan kognitif, kesehatan, dan produktivitas anak di masa dewasa, sehingga diperlukan analisis faktor risiko berbasis wilayah untuk mendukung perumusan kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang memengaruhi prevalensi stunting pada balita di Kabupaten Jayapura tahun 2022. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data sekunder yang bersumber dari Profil Kesehatan Kabupaten Jayapura Tahun 2022. Unit analisis adalah 15 kecamatan. Variabel dependen adalah prevalensi stunting balita (%), sedangkan variabel independen meliputi cakupan ASI eksklusif, cakupan imunisasi dasar lengkap, persentase rumah tangga dengan akses air bersih, dan persentase rumah tangga dengan jamban sehat. Analisis data dilakukan menggunakan RStudio meliputi analisis univariat, korelasi Spearman, dan regresi linear berganda. Hasil: Rata-rata prevalensi stunting balita di Kabupaten Jayapura sebesar 16,76%, dengan rentang 4,6% hingga 26,1%. Hasil korelasi Spearman menunjukkan bahwa cakupan jamban sehat memiliki hubungan negatif yang kuat dan signifikan dengan prevalensi stunting (ρ = -0,724; p = 0,002). Analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa jamban sehat merupakan satu-satunya faktor yang berpengaruh signifikan terhadap prevalensi stunting (β = -0,575; p = 0,010), sedangkan cakupan ASI eksklusif, imunisasi dasar lengkap, dan akses air bersih tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara statistik. Model regresi mampu menjelaskan 66,3% variasi prevalensi stunting. Kesimpulan: Sanitasi lingkungan, khususnya akses terhadap jamban sehat, merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan prevalensi stunting di Kabupaten Jayapura. Intervensi penurunan stunting perlu memprioritaskan perbaikan sanitasi lingkungan yang terintegrasi dengan program gizi spesifik.