Ranita Ranita
Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Peran Ekstrakulikuler Rohis Dalam Membentuk Akhlak Islami Siswa Sma Puspita Air Kumbang Firda Fadila Ghassani; Ranita Ranita; Afriantoni Afriantoni; Yulia Tri Samiha
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5142

Abstract

Pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memiliki misi strategis dalam membentuk akhlak mulia peserta didik. Di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi digital yang berdampak pada degradasi moral remaja, sekolah perlu menghadirkan strategi pembinaan karakter secara komprehensif. Salah satu wadah efektif dalam mendukung pembinaan nilai religius di tingkat sekolah menengah adalah kegiatan ekstrakurikuler Rohani Islam (Rohis). Penelitian ini bertujuan mengkaji peran Rohis dalam membentuk akhlak Islami siswa di SMA Puspita Air Kumbang, dengan fokus pada bentuk kegiatan, nilai yang ditanamkan, serta dampaknya terhadap perkembangan moral peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi kegiatan Rohis, wawancara dengan pengurus, anggota, pembina, serta guru Pendidikan Agama Islam, dan dokumentasi program kegiatan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, serta keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, metode, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan Rohis berperan signifikan dalam menumbuhkan akhlak Islami siswa melalui integrasi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kegiatan kajian Islam memperkuat pemahaman agama (moral knowing), pembiasaan ibadah seperti shalat dhuha berjamaah dan tadarus Al-Qur’an menumbuhkan kedekatan spiritual (moral feeling), sedangkan kegiatan sosial seperti bakti sosial dan santunan anak yatim membentuk kepedulian nyata (moral action). Rohis juga melatih kepemimpinan, tanggung jawab, serta solidaritas sosial siswa, sehingga berdampak positif terhadap pembentukan karakter religius, disiplin, dan peduli sesama. Namun, penelitian juga menemukan tantangan berupa rendahnya minat sebagian siswa, keterbatasan fasilitas, serta kurangnya dukungan orang tua. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengembangan yang lebih kreatif, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan remaja masa kini, termasuk pemanfaatan media digital dan kolaborasi dengan pihak eksternal. Dengan dukungan penuh dari sekolah, pembina, dan orang tua, Rohis berpotensi menjadi motor penggerak pembentukan generasi berakhlak mulia, religius, dan berkarakter Islami.
Analisis Historis, Problematika, Dan Sistem Penyelenggaraan Pendidikan Di Cina Lasni Sutri; Tati Lasmita; Ranita Ranita; Arin Wibowo; Muslim Muslim
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5382

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk menganalisis histori, problematika, serta sistem penyelenggaraan pendidikan di Cina menggunakan metode studi literatur deskriptif-analitis. Cina dikenal memiliki salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia, menganggap pendidikan sebagai investasi terpenting untuk pengembangan sumber daya manusia guna memperkuat negara dan bersaing secara global. Secara historis, pendidikan di Cina telah berkembang sejak masa Dinasti Han (dipengaruhi filsafat Kongfu) dan mengalami modernisasi pesat pada masa reformasi dengan adopsi teori Barat. Sistem pendidikan di Cina dibagi menjadi empat jenis (pendidikan dasar, teknik/kejuruan, tinggi, dan dewasa). Pengelolaannya bersifat terpusat, dengan Komisi Pendidikan Negara (SEDC) mengurus seluruh administrasi. Sistem ini dirancang untuk mengembangkan potensi siswa dan mengurangi penekanan pada hafalan. Namun, sistem ini memiliki beberapa masalah (problematika), terutama karena penekanan yang besar pada ujian seperti ujian masuk perguruan tinggi (Gaokao). Hambatan utama mengapa pendidikan yang berorientasi pada kualitas belum bisa diterapkan secara menyeluruh adalah adanya perbedaan tingkat akses dan kualitas di berbagai wilayah.
Pendidikan Toleransi Dalam Perspektif Q.S Al-Kafirun Firda Fadila Ghassani; Ranita Ranita; Abdur Razzaq; Kristina Imron
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5383

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai pendidikan toleransi dalam perspektif Q.S. Al-Kāfirūn [109]: 1–6 serta relevansinya terhadap pembentukan karakter peserta didik di era modern. Surah Al-Kāfirūn menegaskan pentingnya keteguhan akidah dan penghormatan terhadap perbedaan agama. Melalui pesan “lakum dīnukum wa liya dīn,” Islam mengajarkan toleransi yang tidak berarti mencampuradukkan keyakinan, melainkan menghargai hak setiap individu dalam beribadah dan berkeyakinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui kajian tafsir dan literatur pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan toleransi dapat diterapkan melalui keteladanan keluarga, pembelajaran di sekolah, dan pembiasaan sosial di masyarakat. Nilai-nilai utama yang diambil dari surah ini meliputi keteguhan akidah, penghormatan terhadap perbedaan, serta penanaman karakter damai dan anti kekerasan. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan toleransi dalam Islam merupakan bagian integral dari pembentukan kepribadian yang moderat dan berakhlak mulia
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM MENGHADAPI LEDAKAN KONTEN VIRAL PADA PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR DI ERA DIGITAL Ranita Ranita; Firda Fadila Ghassani; Uswatun Hasanah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5881

Abstract

Era digital telah memunculkan ledakan konten viral yang berdampak signifikan terhadap perilaku, penalaran moral, dan karakter peserta didik sekolah dasar. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan perkembangan teknologi komunikasi, tetapi juga menunjukkan adanya krisis nilai dalam cara anak-anak memahami dan menilai informasi yang mereka konsumsi. Paparan konten viral yang bersifat sensasional, emosional, dan mudah disebarkan tanpa filter etis telah menimbulkan berbagai konsekuensi sosial dan psikologis bagi peserta didik, termasuk penurunan empati, perilaku imitasi negatif, dan disorientasi nilai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menghadapi fenomena konten viral dan bagaimana nilai-nilai Islam dapat diintegrasikan secara praktis ke dalam kompetensi literasi digital. Metode penelitian menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan menelaah publikasi ilmiah dan laporan kebijakan (2018–2024) dari sumber nasional dan internasional, termasuk UNESCO, UNICEF, dan Kemendikbud. Hasil analisis menunjukkan bahwa guru PAI berperan strategis dalam membentuk ketahanan moral digital (digital moral resilience) siswa melalui lima fungsi utama: (1) pembimbing moral digital, (2) filter informasi berbasis nilai Islam, (3) teladan dalam penggunaan media, (4) mediator komunikasi rumah–sekolah, dan (5) fasilitator etika digital. Sebagai hasil sintesis, penelitian ini menawarkan model konseptual Digital Islamic Moral Guidance (DIM-G) yang terdiri atas empat tahap utama: Tabayyun Digital, Ta’dib Media, Uswah Digital, dan Kolaborasi Rumah–Sekolah. Temuan penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi antara pendidikan agama dan literasi digital dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga berkarakter Islami dan beretika di dunia maya. Model DIM-G diharapkan menjadi kerangka praktis dalam kebijakan pendidikan moral digital di sekolah dasar Islam di Indonesia.