Penelitian ini menilai potensi limbah organik dari program makan siang gratis di sekolah dasar untuk dijadikan kompos, merancang sistem pengelolaan limbah berbasis circular economy yang aplikatif, serta mengidentifikasi tantangan dan peluang integrasinya dengan pendidikan lingkungan. Pendekatan yang digunakan mencakup survei kuantitatif, observasi lapangan, wawancara mendalam, dokumentasi, dan uji laboratorium terhadap tiga sampel kompos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65–75% timbulan sampah harian berupa limbah organik, didominasi oleh nasi (40–50%), sayuran (20–25%), buah (15–20%), dan lauk pauk (10–15%). Pengomposan aerobik berlangsung efektif dalam 3–4 minggu dengan bantuan bahan kaya karbon. Uji laboratorium memperlihatkan bahwa kandungan fosfat (0,2620–0,3174%) dan kalium (0,2468–0,3013%) telah memenuhi standar Permentan 70/2011, sedangkan nitrogen (0,3442–0,4582%) berada pada kategori memadai, dengan dua sampel mencapai standar minimal. Rancangan sistem circular economy meliputi pengumpulan, pemilahan, pengolahan, pemanfaatan kompos, integrasi kurikulum, serta monitoring dan evaluasi. Uji coba menunjukkan keterlaksanaan tinggi dan peningkatan partisipasi siswa. Analisis SWOT mengidentifikasi dukungan komite sekolah, peluang pembelajaran kontekstual, serta ancaman berupa keterbatasan sarana dan konsistensi warga sekolah. Secara keseluruhan, pengolahan limbah makanan menjadi kompos terbukti tidak hanya mengurangi beban lingkungan tetapi juga memperkuat pendidikan lingkungan dan berpotensi direplikasi di sekolah dasar lainnya.