Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kesehatan Mental Dalam Proses Pembentukan Tenaga Promosi Kesehatan: Studi Tingkat Stres Pada Mahasiswa Baru Asram, Ani; Rahayu, Yuli; Ilmi, Nurul
Window of Public Health Journal Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Kajian dan Pengelolaan Jurnal FKM UMI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/pbzz7b53

Abstract

New students are in a transition phase from adolescence to early adulthood, marked by changes in the learning environment, social roles, and demands for independence. The change in status to new students often triggers stress due to academic and psychological adjustments. This is a concern for students in the D4 Health Promotion Study Program. Mental health is a fundamental component in developing prospective health promotion workers, as this profession requires the ability to manage stress, maintain psychological well-being, and serve as a role model for healthy living behaviors. This study aims to describe the stress levels of new students in the D4 Health Promotion Study Program. This study was conducted at the Faculty of Sport and Health Sciences, Makassar State University, D4 Health Promotion Study Program. This study used a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach. Respondents in this study were first-semester students in the 2025/2026 academic year in the D4 Health Promotion Study Program. Stress levels were measured using the Perceived Stress Scale (PSS) questionnaire. The results showed that the majority of respondents were in the moderate stress category (81.7%), while a small portion were in the mild stress category (11.7%) and severe stress (6.7%). These findings underscore the importance of early mental health support and encourage collaboration among educators and health professionals to enhance student well-being and professional growth.
Beban Ganda Malnutrisi: Studi Kasus di Dua Desa Ilmi, Nurul; Asram, Ani; Rahayu, Yuli
Jurnal Entitas Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2026): MEI
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jek.v1i2.89

Abstract

Beban ganda malnutrisi (double burden of malnutrition) merupakan kondisi di mana masalah kekurangan gizi dan kelebihan gizi terjadi secara bersamaan dalam satu komunitas atau bahkan dalam satu keluarga. Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk menggambarkan prevalensi dan pola beban ganda malnutrisi pada balita di Desa BI dan Desa WS sepanjang tahun 2025 berdasarkan data rekap status gizi bulanan. Data dianalisis menggunakan tiga indikator antropometri standar WHO, yaitu Berat Badan menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua desa mengalami beban ganda malnutrisi secara bersamaan: kasus stunting kumulatif mencapai 1.088 kasus, wasting 280 kasus, dan underweight 636 kasus, sementara di sisi lain ditemukan kasus risiko gizi lebih, gizi lebih, dan obesitas yang cukup signifikan. Beban tertinggi terjadi pada bulan Agustus dan Oktober. Desa BI secara konsisten mencatat angka lebih tinggi dibanding Desa WS. Temuan ini mengindikasikan perlunya strategi gizi yang komprehensif dan tidak hanya berfokus pada satu sisi spektrum malnutrisi.
Analisis Pola Kunjungan Gigi Puskesmas X Parepare: Implikasi bagi Strategi Promosi Kesehatan Ilmi, Nurul; Asram, Ani; Rahayu, Yuli
Jurnal Entitas Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2026): MEI
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jek.v1i2.93

Abstract

Pola kunjungan dan pemanfaatan layanan kesehatan gigi dan mulut di fasilitas kesehatan tingkat pertama merupakan cerminan perilaku kesehatan masyarakat sekaligus indikator efektivitas program promosi kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola kunjungan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas X Kota Parepare sepanjang tahun 2025. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan analisis data sekunder yang bersumber dari 12 laporan bulanan kegiatan pelayanan Kesgilut periode Januari hingga Desember 2025. Variabel yang dianalisis meliputi pola kunjungan pasien, profil penyakit berdasarkan ICD-10, jenis tindakan perawatan, dan pola rujukan. Hasil penelitian menunjukkan total 2.229 kunjungan dengan dominasi kunjungan lama (90,6%) dan pasien perempuan (73,4% pada kunjungan lama). Kunjungan ibu hamil hampir tidak tercatat sepanjang tahun (hanya 2 kunjungan). Penyakit pulpa dan jaringan perapikal (K04) menjadi diagnosis terbanyak (65,7%). Pencabutan mendominasi tindakan perawatan dengan rasio tumpatan terhadap pencabutan sebesar 1:78, jauh di bawah standar minimal 1:1. Premedikasi tercatat sebanyak 685 kasus dan rujukan ke rumah sakit sebanyak 452 kasus (20,3%). Pola-pola ini secara konsisten mengindikasikan perilaku pencarian layanan kesehatan gigi yang bersifat reaktif dan rendahnya pemanfaatan layanan preventif. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan strategi promosi kesehatan gigi berbasis komunitas yang lebih terarah, termasuk integrasi skrining gigi dalam posyandu, edukasi deteksi dini, dan penguatan peran kader kesehatan.
Counseling Education as an Effort to Improve Mental Health Literacy among University Students Asram, Ani; Aksir, Muh. Ilham; Ichsania, Nurul; Rahayu, Yuli; Ilmi, Nurul
Journal of Sustainable Community Practices Vol. 3 No. 1 (2026): April
Publisher : CV. Global Health Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65280/jscp.v3i1.59

Abstract

Abstrak Kesehatan mental mahasiswa merupakan isu prioritas di tingkat global maupun nasional, namun pemanfaatan layanan konseling di kalangan mahasiswa Indonesia masih sangat rendah akibat stigma sosial, miskonsepsi, dan rendahnya literasi kesehatan mental. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan mental mahasiswa melalui edukasi konseling yang terstruktur dengan pendekatan pembelajaran aktif. Kegiatan dilaksanakan terhadap 55 mahasiswa program studi kesehatan masyarakat menggunakan tiga metode terintegrasi: ceramah interaktif, diskusi kelompok terbuka, dan brainstorming partisipatif berbasis sticky notes. Evaluasi dilakukan secara deskriptif-kualitatif melalui observasi partisipasi, analisis konten respons sticky notes, dan refleksi peserta. Hasil kegiatan menunjukkan antusiasme yang tinggi (tingkat partisipasi aktif lebih dari 50%) serta teridentifikasinya lima tema utama persepsi mahasiswa, yaitu: stigma dan rasa malu, miskonsepsi tentang konseling, kurangnya pengetahuan prosedural, kekhawatiran kerahasiaan, dan harapan terhadap aksesibilitas layanan. Kegiatan ini memberikan dampak positif berupa pergeseran pemahaman mahasiswa terhadap konseling dari layanan eksklusif untuk gangguan berat menjadi hak dan kebutuhan dasar kesehatan mental. Direkomendasikan agar institusi pendidikan tinggi melembagakan program edukasi serupa secara berkala dan memperkuat aksesibilitas layanan konseling kampus. Abstract Student mental health is a priority issue both globally and nationally, yet the use of counseling services among Indonesian university students remains very low due to social stigma, misconceptions, and low mental health literacy. This community service activity aims to improve students' mental health literacy through structured counseling education using an active learning approach. The activity was conducted with 55 public health students using three integrated methods: interactive lectures, open group discussions, and participatory sticky-notes brainstorming. Evaluation was conducted descriptively and qualitatively through participation observation, content analysis of sticky-notes responses, and participant reflection. The results showed high enthusiasm (active participation rate of over 50%) and identified five main themes of student perceptions: stigma and shame, misconceptions about counseling, lack of procedural knowledge, confidentiality concerns, and expectations for service accessibility. The activity had a positive impact by shifting students' understanding of counseling from an exclusive service for severe disorders to a basic right and need for mental health. It is recommended that higher education institutions institutionalize similar education programs periodically and strengthen the accessibility of campus counseling services.