Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PEMAKNAAN SIMBOL PADA LAKON “PANGERAN DAN BUAYA PUTIH” TEATER BANGSAWAN Indah Zulhidayati
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.188 KB) | DOI: 10.33153/glr.v14i2.2080

Abstract

Artikel ini dimaksudkan untuk mengungkap makna simbol pada pertunjukan yang berkaitan dengan kehidupanmasyarakatnya, serta fungsi pertunjukan Teater Bangsawan di Palembang. Mengungkap permasalahan tersebutmenggunakan metode kualitatif dan teori yang digunakan untuk memaknai simbol pada pertunjukan menggunakansemiotika Pierce dengan menggunakan tiga tingkatan yaitu interpretant, representament, object. Hasil darikajian dan penelitian adalah Pertunjukan Teater Bangsawan berfungsi sebagai pendidikan masyarakat, penebalrasa solidaritas, sebagai mas kawin, sebagai hiburan yang aman, sebagai sarana hiburan. Seni rakyat atauseni milik rakyat, pengungkap peristiwa kehidupan sehari-hari masyarakat. Ia tumbuh dan berkembang dalammasyarakat itu sendiri, sesuai dengan pola pikir dan adat masyarakat setempat. Nilai-nilai yang terkandungdalam pertunjukan ini adalah nilai budaya dalam hubungan manusia dengan Tuhan, nilai budaya dalam hubunganmanusia dengan masyarakat, nilai budaya dalam hubungan manusia dengan diri sendiri.Kata kunci: Teater Bangsawan, Semiotika, lakon, Pangeran dan Buaya Putih.ABSTRACTThis article is supposed to reveal the meaning of symbol in a performance related to the life of its society andthe function of Teater Bangsawan in Palembang. The qualitative method is used to reveal the problem andPierce’s semiotics using three levels including interpretant, representament, and object is applied to givemeaning to symbols in a performance. Finding of the research shows that Teater Bangsawan performancefunctions as the community education, to reinforce a sense of solidarity, as a dowry, as a safe entertainment,and as a media of entertainment. Folk arts or an art belongs to people reveals the daily lives of the community.It grows and expands in the community itself in accordance to their mindset and traditions. The valuescontained in the performance include cultural value in the relationship between human and God, cultural valuein the relationship between human and society, and cultural value in the relationship between human andhimself.Keyword: Teater Bangsawan, Semiotics, lakon, Pangeran dan Buaya Putih.
PENGEMBANGAN BUKU AJAR MENULIS SUKU KATA BAGI GURU PENGAMPU MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SD 1 TENIGA Duwi Purwati; Lalu Dwi Satria Ardiyansah; Indah Zulhidayati; Lilis Suryani
Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME) Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.736 KB) | DOI: 10.36312/jime.v3i2.771

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku ajar menulis suku kata bagi guru pengampu mata pelajaran bahasa Indonesia SD 1 Teniga. Bahan ajar yang dikembangkan berbentuk modul yang dikembangkan dengan mengacu model Borg&Gall. Prosedur penelitian ini terdiri dari analisis kebutuhan, pembuatan rancangan produk, evaluasi ahli, produk awal, uji coba kelompok kecil, revisi 1, uji coba kelompok besar, revisi 2 dan produk akhir sehingga menghasilkan produk akhir yang dapat digunakan sebagai perangkat pembelajaran maupun sumber belajar. Uji coba produk dilakukan dengan tujuan untuk mengumpulkan data sebagai dasar untuk mengetahui kelayakan produk bahan ajar  yang dihasilkan.Data yang diperoleh dari uji coba digunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan bahan ajar menulis suku kata yang merupakan produk dari penelitian ini. Berdasarkan validasi yang telah dilakukan, setelah diakumulasikan dari 19 aspek indikator yang disajikan tim ahli materi memberikan skor rata-rata 78,294 dengan kriteria sangat baik, sedangkan skor rata-rata yang diperoleh dari tim ahli media dengan asfek indikator 14 yaitu 48,54. tim ahli menerangkan produk yang dihasilkan dalam pengembangan model individual pada pembelajaran menulis suku kata layak digunakan untuk mengambil data dengan revisi sesuai saran.
Pola Pembelajaran Epistemik Terintegrasi STEAM+X dalam Pembelajaran Rasio Isnawan, Muhamad Galang; Zulhidayati, Indah; Jannah, Siti Wardatul; Mahirudin, Mahirudin; Lidaini, Lidaini
Edumatica : Jurnal Pendidikan Matematika Vol 15 No 3 (2025): Edumatica: Jurnal Pendidikan matematika (Desember 2025)
Publisher : Department of Mathematics Education, Faculty of Teacher Training and Education, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/edumatica.v15i3.48090

Abstract

The concept of ratio is a fairly important mathematical concept, but it remains a persistent challenge for students. Therefore, this study aimed to optimize 3D representation skills and learning drive by developing epistemic learning patterns integrated with STEAM+X. X referred to aspects of history, culture, and architecture. The research design used was design-based research. Participants in this study consisted of 21 stakeholders in the field of education (teachers, school principals, and academics). The instruments used were a phenomenological questionnaire to explore the causes of students experiencing problems and an integrated STEAM+X ELP module to optimize student competence. The data were analyzed using a combination of thematic analysis and qualitative data analysis. The results revealed that there were five factors that caused low levels of both competencies, namely identity and orientation crisis, spatial experience deficit, motivation and engagement crisis, pedagogical mismatch, and ecosystem limitations. The solutions offered were a student-centered approach, technology and innovation, active and experiential learning, and ecosystem support. All of these components were represented in the form of an integrated STEAM+X ELP module, with the main activity referring to the Subak Lingsar miniature project. Subak Lingsar was chosen because it could support student learning of ratios, such as scale and the rate of change of water flow, as well as comparisons of value and inverse value. This study recommended that the module be implemented in the context of ratio learning by testing its impact on students’ 3D representation abilities and learning drive in schools.