Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

The Role Of Leader Improve Patient Safety Culture Muh Abdurrouf; Nursalam Nursalam; Ahsan Ahsan; Mira Triharini; Dyah Wiji Puspitasari; Retno Issroviatiningrum; Nila Fauziza
Media Keperawatan Indonesia Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/mki.6.2.2023.127-133

Abstract

One of the important things that must be considered by the hospital is patient safety, where patient safety can be improved by implementing a patient safety culture, so that the patient safety culture goes well, it is necessary to increase the role of the leader. This study aims to determine whether there is a relationship between the role of a leader and the implementation of patient safety culture. Method: this research is a quantitative study using cross sectional. Data were collected using a questionnaire of 118 nurses using a total population sampling technique. The statistical test used is the spearmen rank test. Results: the results of this study are that the majority of the role of leaders is in the good category (92.6%), the majority of patient safety culture is in the good category (90.7%) there is a significant relationship between the role of leaders and the implementation of patient safety culture with a p-value of 0.00 , and r : 0.381, conclusion: Increasing the role of a leader in the form of a decision-making role, interpersonal role, and informational role can improve patient safety culture
HUBUNGAN BEBAN KERJA PERAWAT DENGAN PENCEGAHAN RISIKO JATUH DI RSI SULTAN AGUNG SEMARANG Mu'afif Uswah; Muh Abdurrouf; Dyah Wiji Puspita Sari
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2025): Maret
Publisher : CV. Naiwa Best Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18736596

Abstract

Tugas yang dilakukan oleh perawat selama menjalankan pelayanan kesehatan di unit rumah sakit sering kali melibatkan berbagai aktivitas atau pekerjaan yang mempengaruhi kinerja mereka. Banyaknya tugas tambahan yang harus dikerjakan dapat berdampak pada efektivitas perawat dalam menjalankan pekerjaannya. Salah satu kewajiban utama yang harus dilaksanakan oleh perawat adalah melakukan pencegahan terhadap risiko jatuh sesuai dengan prosedur yang tercantum dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) guna menghindari terjadinya insiden yang tidak diinginkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi keterkaitan antara beban kerja perawat dengan upaya pencegahan risiko jatuh di RSI Sultan Agung Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan melalui pemberian kuesioner kepada 100 responden yang dipilih menggunakan teknik sampling total populasi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki beban kerja ringan dengan 57 orang (57,0%). Sementara itu, dalam hal pencegahan risiko jatuh, mayoritas responden menunjukkan upaya yang baik dengan 66 orang (66,0%). Uji statistik memperlihatkan p-value sebesar 0,000 atau sig (<0,05) yang menandakan adanya hubungan yang signifikan antara beban kerja perawat dan pencegahan risiko jatuh di RSI Sultan Agung Semarang. Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara beban kerja perawat dan pencegahan risiko jatuh dengan nilai p-value <0,05, serta menunjukkan korelasi negatif yang kuat dengan nilai -0,849.
HUBUNGAN PERILAKU CARING PERAWAT DENGAN PENCEGAHAN RISIKO JATUH DI RSI SULTAN AGUNG SEMARANG Nabilah Azizah Rahmah; Muh Abdurrouf; Dyah Wiji Puspita Sari
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2025): Maret
Publisher : CV. Naiwa Best Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18733252

Abstract

Perilaku caring perawat merupakan aspek penting dalam pelayanan keperawatan yang berperan dalam mendukung penyembuhan pasien serta mencegah risiko jatuh. Pencegahan jatuh menjadi bagian integral dari asuhan yang aman dan nyaman, guna menghindari cedera dan komplikasi lainnya. Caring perawat yang profesional, bertanggung jawab, dan didasari nilai-nilai seperti profesionalisme, keramahan, amanah, serta kesabaran, berkontribusi signifikan terhadap pencegahan risiko jatuh. Indikator caring seperti kepercayaan, kehadiran, dan tindakan yang tepat, turut berperan dalam meningkatkan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perilaku caring perawat dengan efektivitas pencegahan risiko jatuh di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional, penelitian ini melibatkan 100 responden yang dipilih dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis dengan uji korelasi Spearman Rank. Hasil analisis menunjukkan mayoritas responden (96%) berusia 26-45 tahun, berjenis kelamin perempuan (79%), memiliki pendidikan DIII Keperawatan (55%), serta pengalaman kerja 8-14 tahun (47%). Hasil penelitian mengungkap adanya hubungan yang signifikan antara perilaku caring perawat dengan pencegahan risiko jatuh, dengan p-value <0,05 dan kekuatan korelasi sangat kuat (0,971). Hal ini menegaskan bahwa semakin baik perilaku caring perawat, semakin rendah risiko jatuh pada pasien.
HUBUNGAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN PERENCANAAN PULANG PASIEN (DISCHARGE PLANNING) DI RUMAH SAKIT ISLAM SULTANAGUNG SEMARANG Dewi Romadhoni; Muh Abdurrauf; Dyah Wiji Puspita Sari
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Vol. 2 No. 4 (2025): Desember
Publisher : CV. Naiwa Best Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18753447

Abstract

Perencanaan pemulangan pasien adalah proses penting yang dimulai saat pasien masuk rumah sakit untuk memastikan transisi yang aman dan lancar. Perencanaan pulang yang terstruktur telah terbukti mengurangi angka rawat inap kembali dan lama tinggal. Namun, di Rumah Sakit Islam Sultan Agung di Semarang, efektivitasnya tetap berada di angka 40–50%. Hambatan utama meliputi pemahaman yang terbatas tentang mekanisme perencanaan pulang (35%), beban kerja perawat yang tinggi (35%), dan kolaborasi yang tidak memadai antar tim medis (25%). Budaya organisasi dianggap vital dalam membina lingkungan kerja yang positif yang mendukung loyalitas dan komitmen perawat terhadap perencanaan pulang. Studi ini bertujuan untuk menguji hubungan antara budaya organisasi dan perencanaan pulang di Rumah Sakit Islam Sultan Agung. Pendekatan korelasional kuantitatif dengan desain cross-sectional digunakan. Sampel terdiri dari 100 perawat terdaftar yang dipilih melalui total sampling. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner budaya organisasi berdasarkan teori Robbins dan kuesioner perencanaan pulang. Data dianalisis menggunakan metode univariat dan bivariat dengan uji korelasi. Hasil menunjukkan bahwa budaya organisasi secara umum dinilai baik, dengan disiplin mencapai 97,8%, kerja sama 87,7%, dan inisiatif 85%. Implementasi perencanaan pulang cukup efektif, namun analisis statistik mengungkapkan korelasi yang signifikan, positif, dan kuat antara budaya organisasi dan perencanaan pulang. Direkomendasikan untuk memperkuat budaya organisasi melalui disiplin, kerja tim, dan komitmen perawat. Studi di masa depan dapat mengeksplorasi faktor tambahan seperti beban kerja, dukungan manajemen, atau aspek psikososial.
The effectiveness of benson's relaxation technique to reduce pain intensity: A systematic review Husnul Mubarok; Ahmad Ikhlasul Amal; Dyah Wiji Puspita Sari; Dwi Retno Sulistyaningsih
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2123

Abstract

Background: Pain is a major clinical issue in both acute and chronic patients, affecting quality of life and causing psychological distress. Pharmacological therapy, particularly opioids, remains widely used but has limitations in the form of side effects and the risk of dependence. This has spurred the development of nonpharmacological interventions, one of which is Benson’s Relaxation Technique (BRT), which triggers a relaxation response and has the potential to reduce pain perception. Purpose: To evaluate the effectiveness of BRT in reducing pain intensity across various clinical populations. Method: A literature search was conducted using three databases—PubMed, ScienceDirect, and Web of Science—for articles published between 2015 and 2025. Included studies comprised randomized controlled trials and quasi-experimental designs assessing the effectiveness of BRT. Risk of bias was analyzed using the Joanna Briggs Institute critical appraisal tools. Results: Of the 705 articles identified, nine studies met the inclusion criteria, involving a total of 644 participants from India and Iran. Most studies demonstrated a significant reduction in pain intensity following BRT intervention, either as a standalone treatment or in combination with other therapies such as aromatherapy and psychoeducational interventions. Implementation protocols varied between 10–40 minutes per session with a frequency of 1–3 times per day, yet the results remained consistent. A risk of bias assessment indicated acceptable methodological quality. Conclusion: BRT has been proven to be an effective, safe, adaptable, and easy-to-practice complementary method for reducing pain. With its flexible and non-invasive nature, this technique has the potential to reduce reliance on pharmacological therapies. Large-scale, cross-cultural clinical trials are needed to confirm its long-term effectiveness.   Keywords: Benson's Relaxation Technique; Non-Pharmacological Therapy; Pain Intensity; Relaxation.   Pendahuluan: Nyeri merupakan masalah klinis utama pada pasien akut maupun kronis yang berdampak pada kualitas hidup dan beban psikologis. Terapi farmakologis, khususnya opioid, masih banyak digunakan tetapi memiliki keterbatasan berupa efek samping dan risiko ketergantungan. Hal ini mendorong berkembangnya intervensi nonfarmakologis, salah satunya Benson’s Relaxation Technique (BRT) yang memicu respon relaksasi dan berpotensi menurunkan persepsi nyeri. Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas BRT dalam menurunkan intensitas nyeri pada berbagai populasi klinis. Metode: Pencarian literatur dilakukan melalui tiga database yaitu PubMed, ScienceDirect, dan Web of Science untuk publikasi artikel tahun 2015–2025. Studi yang disertakan meliputi uji acak terkontrol dan desain kuasi-eksperimental yang menilai efektifitas BRT. Risiko bias dianalisis dengan menggunakan Joanna Briggs Institute critical appraisal tools. Hasil: Dari 705 artikel yang teridentifikasi, sembilan studi memenuhi kriteria inklusi dengan total 644 responden dari Negara India dan Iran. Sebagian besar penelitian menunjukkan penurunan intensitas nyeri yang signifikan setelah intervensi BRT, baik secara mandiri maupun dikombinasikan dengan terapi lain seperti aromaterapi dan intervensi psikoedukatif. Protokol pelaksanaan bervariasi antara 10–40 menit per sesi dengan frekuensi 1–3 kali per hari, namun hasil tetap konsisten. Penilaian risiko bias menunjukkan kualitas metodologi yang dapat diterima. Simpulan: BRT terbukti sebagai metode komplementer yang efektif, aman, adaptif, serta mudah dipraktikkan untuk mengurangi nyeri. Dengan sifatnya yang fleksibel dan non-invasif, teknik ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada terapi farmakologis. Uji klinis berskala besar dan lintas budaya diperlukan untuk memastikan efektivitas jangka panjangnya.   Kata Kunci: Benson's Relaxation Technique; Pain Instensity; Relaksasi; Terapi Non-Farmakologis.