Tia Aprinisa Simanjuntak
Universitas HKBP Nommensen Medan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gaya Bahasa sebagai Representasi Pergulatan Eksistensial dalam Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Karya Brian Khrisna: Language Style as the Representation of Existential Struggle in Brian Khrisna’s Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati  Gresia Natasia Purba; Tia Aprinisa Simanjuntak; Naomi Situmorang; Martua Reynhat Sitanggang Gusar
Boraspati Journal: Journal of Bilingualism, Organization, Research, Articles, Studies in Pedagogy, Anthropology, Theory, and Indigenous Cultures Vol. 2 No. 2 (2026): VOLUME 2 NUMBER 2 FEBRUARY 2026
Publisher : PT. Batak Story Pedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64674/boraspatijournal.v3i1.33

Abstract

Penelitian ini berangkat dari persoalan bagaimana gaya bahasa digunakan sebagai sarana representasi pergulatan eksistensial tokoh dalam novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna. Tujuan utama penelitian ini adalah menganalisis fungsi gaya bahasa dalam mengartikulasikan pengalaman eksistensial tokoh. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan stilistika. Data penelitian berupa satuan bahasa yang mengandung gaya bahasa, meliputi kata, frasa, kalimat, dan paragraf, yang dianalisis secara interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya bahasa tidak hanya berfungsi sebagai unsur estetis, tetapi menjadi mekanisme utama dalam mengonkretkan dan mengintensifkan pengalaman batin tokoh. Metafora dan hiperbola mendominasi penggunaan gaya bahasa, berfungsi mengubah penderitaan psikologis yang abstrak menjadi citraan fisik yang kuat. Simile dan personifikasi merepresentasikan alienasi diri serta relasi tokoh dengan dunia yang dirasakan menekan, sedangkan repetisi menandai kebuntuan nalar dan absurditas eksistensial. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa gaya bahasa dalam novel tersebut berfungsi sebagai ruang artikulasi filosofis yang efektif dalam merepresentasikan krisis eksistensial manusia dalam sastra populer kontemporer.
ANALISIS PEMEROLEHAN BAHASA ANAK BILINGUAL USIA 8 TAHUN (STUDI KASUS B1 BAHASA BATAK TOBA DAN B2 BAHASA INDONESIA) Tia Aprinisa Simanjuntak; Eka Putri Saptari Wulan; Gresia Natasia Br Purba
Jurnal PENEROKA Vol. 6 No. 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Institut Agama Islam Darussalam Blokagung Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30739/peneroka.v6i2.5265

Abstract

This study aims to analyze language acquisition in 8-year-old bilingual children with Toba Batak as their first language (B1) and Indonesian as their second language (B2). The study used a qualitative approach with a case study method on a child named Refael Simanjuntak who actively uses both languages ??in everyday life. Research data were obtained through observation, interviews, documentation, and listening and note-taking techniques. Data analysis was carried out through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study indicate that Toba Batak language is acquired naturally through interactions within the family and community environment, making it the dominant language used by the subject. Meanwhile, Indonesian is acquired through the school environment and broader social interactions. The subject demonstrated good language skills in the aspects of phonology, morphology, syntax, and vocabulary in both languages. In addition, code-mixing and code-switching phenomena were found, demonstrating the subject's ability to adjust language use based on the situation and the interlocutor. The findings of this study indicate that the family and school environment have an important role in supporting the development of children's bilingualism.  Thus, the subjects' acquisition of Toba Batak and Indonesian occurred optimally and reflects the development of good bilingual skills. These findings also indicate that using two languages ??from an early age does not hinder children's language development but can instead increase their communication flexibility and ability to choose the appropriate language for the social context they encounter.