Articles
Tinjauan Trilogi Kerukunan Umat Beragama Berdasarkan Perspektif Iman Kristen
Yonatan Alex Arifianto;
Joseph Christ Santo
Angelion Vol 1, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1036.932 KB)
|
DOI: 10.38189/jan.v1i1.38
Abstract: In Indonesia as a multicultural country, there is a diversity of beliefs. History proves that unhealthy exclusivism endangers pluralism. Differences in religious beliefs can become a potential for horizontal conflict if the state does not act to prevent this. In order to create a harmonious society, the government has launched the Religious Harmony Trilogy through the Regulation of the Minister of Religion and the Minister of Home Affairs. As citizens of Indonesia, Christians cannot neglect this harmony effort. This study aims to answer the problem of how the role of believers in social life in applying the Religious Harmony Trilogy based on the perspective of the Christian faith. This research uses descriptive analysis method through related literature. The results of this study indicate: first, Christianity teaches living in harmony among fellow Christians as members of the body of Christ. Second, Christianity teaches to be the light of the world and the salt of the world in the midst of people with different faiths, so that harmony can be created. Third, Christianity teaches submission to the government because the government is determined by God, thus creating harmony between Christians and the government.Abstrak: Di dalam negara Indonesia yang multikultural dijumpai adanya keberagaman keyakinan. Sejarah membuktikan bahwa eksklusivisme yang tidak sehat membahayakan kemajemukan. Perbedaan keyakinan agama bisa menjadi potensi konflik horizontal apabila negara tidak bertindak mencegah hal tersebut. Dalam rangka mewujudkan masyarakat yang harmonis, pemerintah telah mencanangkan Trilogi Kerukunan Umat Beragama melalui Peraturan Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri. Sebagai warga negara Indonesia, umat Kristen tidak bisa berlaku abai terhadap upaya kerukunan ini. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan bagaimanakah peran orang percaya dalam kehidupan bermasyarakat dalam mengaplikasikan Trilogi Kerukunan Umat Beragama berdasarkan persepektif iman Kristen. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis melalui literatur terkait. Hasil dari penelitian ini menunjukkan: pertama, kekristenan mengajarkan hidup rukun di antara sesama umat Kristen sebagai anggota tubuh Kristus. Kedua, kekritenan mengajarkan untuk menjadi terang dunia dan garam dunia di tengah-tengah masyarakat dengan keyakinan iman yang berbeda, sehingga tercipta keharmonisan. Ketiga, kekristenan mengajarkan penundukan kepada pemerintah karena pemerintah ditetapkan oleh Allah, dengan demikian terwujud kerukunan antara umat Kristen dengan pemerintah.
Menjawab Sisi Alkitabiah Pelayanan Daring: Refleksi Surat Filipi
Joseph Christ Santo;
David Christian
Angelion Vol 2, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jan.v2i2.228
Peristiwa pandemi Covid-19 yang merebak pada tahun 2020 secara tidak langsung telah mendorong penduduk bumi termasuk orang Kristen memasuki Era Masyarakat 5.0 melalui pemanfaatan ruang digital. Sebagian gereja di Indonesia pun beralih dari ibadah tatap muka langsung menjadi ibadah daring, ada yang bersifat sementara selama awal pandemi dan ada yang masih meneruskan sampai saat ini. Tidak semua orang Kristen bisa menerima dengan sepenuh hati cara ibadah seperti ini, terutama mereka yang meragukan sisi alkitabiahnya. Tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan apakah ibadah daring dapat diterima secara Alkitabiah. Melalui metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan hermeneutika, ditemukan prinsip-prinsip yang tertuang dalam surat Filipi. Prinsip-prinsip tersebut menunjukkan bahwa keterpisahan secara jarak antara Paulus dengan jemaat Filipi tidak menjadikan halangan bagi Paulus untuk menggembalakan jemaat Filipi melalui media surat yang berisi pengajaran, nasihat, dan teguran; adapun media yang berkembang pada saat ini dan dapat digunakan untuk penggembalaan adalah internet.
FENOMENA GAME POKÉMON GO DALAM TINJAUAN PSIKOLOGI DAN TEOLOGI
Joseph Christ Santo
Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 2 (2018): September 2018
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Kristen
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (509.266 KB)
|
DOI: 10.46307/rfidei.v3i2.26
Pokémon Go is one of the augmented reality based games and is rampant in 2016. To declare that this game needs to be banned or not, researchers need a psychological and theological approach to assess this game. Based on a psychological approach, this game actually contains positive things. The player gets up and moves around, and relates to strangers. Theologically, Pokémon Go as a form of entertainment does not have anything that needs to be banned. What is needed from Pokémon Go players is self-control so that they don't get caught up in addiction. The ban on Pokémon Go does not touch the real problem, what is needed more than Pokémon Go players is self-control. Abstrak: Pokémon Go adalah salah satu game yang berbasis augmented reality dan marak pada tahun 2016. Untuk menyatakan bahwa game ini perlu dilarang atau tidak, Peneliti memerlukan pendekatan psikologis dan teologis untuk menilai game ini. Berdasarkan pendekatan psikologis, game ini justru mengandung hal positif. Pemainnya bangkit dan bergerak di sekeliling, serta berelasi dengan orang asing. Secara teologis, Pokémon Go sebagai salah satu bentuk hiburan tidak memiliki sesuatu yang perlu dilarang. Yang dibutuhkan dari pemain Pokémon Go adalah pengendalian diri sehingga tidak terjebak kepada kecanduan. Pelarangan Pokémon Go tidak menyentuh persoalan yang sesungguhnya, yang lebih dibutuhkan dari pemain Pokémon Go adalah pengendalian diri.
Kemerdekaan Menurut Roma 6:1-14 dan Penerapannya bagi Generasi Z
Monika Tuan;
Joseph Christ Santo;
Agustin Soewitomo Putri
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 1 (2022): Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (441.78 KB)
Independence is a person's freedom against something that makes him feel oppressed, shackled and even bound to a forced rule. Christians who live in sin are slaves to sin. Man's attachment to sin makes his life without freedom in life. Generation Z is a generation that lives in a world where everything is instantaneous, has great innovation and creativity, even this generation can make their own money. The application of freedom according to Romans 6:1-14 in generation Z is important. By using a hermeneutic approach and linking the meaning of freedom according to Romans 6:1-14 with generation Z, the researchers came to the conclusion that generation Z needs to understand that they have been baptized into Christ, need to crucify the old man, should not commit themselves to sin, and must live for God. in Christ Jesus.Kemerdekaan merupakan kebebasan seseorang terhadap sesuatu yang membuat dirinya merasa tertindas, terbelenggu bahkan terikat akan suatu aturan yang dipaksakan. Orang Kristen yang hidup di dalam dosa adalah budak dosa. Keterikatan manusia akan dosa membuat hidupnya tidak memiliki kebebasan dalam hidup. Generasi Z adalah generasi yang hidup di dalam dunia yang serba ada yang tersedia segala sesuatunya yang instan, memiliki inovasi dan kreativitas yang hebat, bahkan generasi ini dapat menghasilkan uang sendiri. Penerapan kemerdekaan menurut Roma 6:1-14 pada generasi Z merupakan hal yang penting. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutik dan menghubungkan makna kemerdekaan menurut Roma 6:1-14 dengan generasi Z, peneliti sampai pada kesimpulan bahwa generasi Z perlu memahami telah dibaptis dalam Kristus, perlu menyalibkan manusia lama, tidak boleh menghambakan diri pada dosa, dan harus hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.
Pertumbuhan Rohani Berdasarkan 1 Petrus 2:1-4 dan Aplikasinya dalam Kehidupan Orang Percaya
Joseph Christ Santo;
Yonatan Alex Arifianto
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34081/fidei.v5i1.212
Dalam kekristenan, pertumbuhan rohani menjadi prioritas para pemimpin gereja orang percaya maupun para pelayan. Pertumbuhan rohani tidak lepas dari tantangan, dan hal itu merupakan ujian kualitas iman dalam menghadapi tantangan. Harapan dari pertumbuhan rohani adalah orang Kristen yang dengan imannya mampu menghadapi dan mengatasi tantangan yang dihadapi. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pertumbuhan rohani berdasarkan 1 Petrus 2:1-4, dan harapan yang dapat dicapai bila pertumbuhan rohani iman Kristen ini diaplikasikan dalam hidup orang percaya. Peneliti menggunakan metode penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa orang-orang percaya dan pemimpin gereja harus memahami bahwa indikasi pertumbuhan rohani berdasarkan surat 1 Petrus 2:1- 4 adalah hidup dalam kesucian, rasa haus dan lapar akan firman Tuhan, dan hidup bergantung kepada Tuhan dalam persekutuan. Agar pertumbuhan rohani teraplikasi dalam kehidupan orang percaya diperlukan keterlibatan gembala dan warga jemaat sebagai pengajar pertumbuhan rohani.
Pandangan dan Sikap Nabi Habakuk dalam Masa Sulit Menurut Kitab Habakuk
Foeng Wie Sien;
Sigit Ani Saputro;
Joseph Christ Santo
Angelion Vol 3, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jan.v3i1.316
Everyone faces difficult times all the time according to the times. In suffering and trouble often arise questions, cries and complaints to God. How much longer Lord? Where is your justice? The author takes the book of Habakkuk which teaches today's believers to be a guide to face difficult times. This study aims to determine the views and attitudes of the prophet when facing difficult times can be an example that can be applied in everyday life for believers today. The name Habakkuk means one who hugs or embraces. In accordance with the meaning of his name, he is someone who embraces, embraces God and dares to argue to get answers to his questions, screams and complaints until he gets answers. Allah's answer made the prophet's faith strong and at the end of his sentence, the prophet said that it was precisely through this struggle that Allah made the prophet strong, like the feet of a deer that trod on the hills.Setiap orang menghadapi masa sulit sepanjang masa sesuai perkembangan zaman. Dalam penderitaan dan masalah sering muncul pertanyaan, teriakan dan pengaduan kepada Allah. Berapa lama lagi Tuhan? Di manakah keadilan-Mu? Penulis mengambil kitab Habakuk yang mengajarkan bagi orang percaya masa kini untuk menjadi pedoman menghadapi masa sulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan dan sikap nabi ketika menghadapi masa sulit dapat menjadi teladan yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari bagi orang percaya zaman sekarang. Nama Habakuk memiliki arti yaitu orang yang memeluk atau merangkul. Sesuai dengan arti namanya, dia adalah seorang yang memeluk, merangkul kepada Allah dan berani berdebat untuk mendapat jawaban atas pertanyaan, teriakan dan pengaduannya sampai mendapatkan jawaban. Jawaban Allah yang membuat iman nabi kokoh dan di akhir kalimatnya, nabi mengatakan justru melalui pergumulan ini Allah menjadikan nabi kuat, bagaikan kaki rusa yang berjejak di bukit-bukit.
Pengampunan: Penerapan Prinsip-Prinsip Alkitabiah dari Ajaran Yesus dalam Membangun Hubungan dengan Tuhan dan Sesama
Asih Rachmani Endang Sumiwi;
Joseph Christ Santo;
Gabriel Levi Thusiapratama
TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 2, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Transformasi Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (233.205 KB)
|
DOI: 10.53674/teleios.v2i1.43
Abstract: One of the Bible principles that Jesus taught is forgiveness. The teaching of forgiveness becomes a normative command if it is not accompanied by an applicative explanation. With a descriptive qualitative approach, the author systematically describes the practical application of forgiveness. This study came to the conclusion that forgiveness is an act of accepting and making peace with the person or situation that caused it. The reason for forgiveness is that because a believer has been reconciled to God, he should also live at peace with others. Forgiveness is an active decision to rebuild a relationship that has been damaged, and thus forgiving people is the same as solving problems. Christians must have the willingness to forgive without limits: without being limited in the frequency of mistakes, without being limited in time, and without being limited in the magnitude of the mistakes. Forgiveness has an impact on oneself and in relationships with God and others.Keyword: Forgiveness, Make Peace, Impact of ForgivenessAbstrak: Salah satu prinsip Alkitab yang diajarkan Yesus adalah hal mengampuni. Ajaran tentang pengampunan menjadi sebuah perintah normatif bila tidak disertai penjelasan aplikatif. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, penulis memaparkan secara sistematis aplikasi praktis dari mengampuni. Penelitian ini sampai pada kesimpulan bahwa mengampuni adalah tindakan menerima dan berdamai dengan orang atau keadaan yang menjadi penyebabnya. Alasan mengampuni adalah karena orang percaya telah diperdamaikan dengan Allah semestinya ia juga hidup berdamai dengan sesama. Mengampuni merupakan suatu keputusan aktif membangun kembali hubungan yang sudah rusak, dan dengan demikian orang yang mengampuni sama dengan menyelesaikan persoalan. Orang Kristen harus memiliki kerelaan untuk mengampuni tanpa batas: tanpa dibatasi frekuensi kesalahan, tanpa dibatasi jangka waktu, dan tanpa dibatasi besarnya kesalahan. Pengampunan memberikan dampak bagi diri sendiri maupun dalam relasi dengan Tuhan dan sesama.Kata Kunci: Mengampuni, Berdamai, Dampak Pengampunan
Spiritualitas dalam Peribadahan Kristen bagi Keharmonisan Umat: Refleksi Efesus 5:18-21
Joseph Christ Santo;
Joko Sembodo;
Asih Rachmani Endang Sumiwi;
Mariani Harmadi
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34081/fidei.v4i2.277
Spiritualitas memiliki definisi yang beragam, dalam lingkup kekristenan spiritualitas dikaitkan dengan roh yang merupakan unsur terdalam dari manusia, yang mana roh manusia ini memiliki relasi dengan Allah yang adalah roh. Pada umumnya spiritualitas merujuk kepada hubungan individu tersebut dengan Tuhan; penelitian ini memaparkan sisi lain yang belum banyak dibahas, yaitu sisi sosial dari spiritualitas. Efesus 5:18-21 membahas spiritualitas dalam ibadah, tetapi beberapa kata yang digunakan dalam nas ini mengandung unsur relasional sehingga muncul pertanyaan bagaimana keterkaitan spiritualitas dalam ibadah dengan hubungan antarwarga jemaat. Hasil penelitian eksegesis menunjukkan bahwa spiritualitas orang Kristen adalah kondisi seorang Kristen yang mampu menguasai diri karena rohnya ada dalam kendali Roh Kudus; spiritualitas dalam peribadahan yang didasari penuh dengan Roh akan membentuk relasi yang baik antarwarga jemaat, dan pada akhirnya menghasilkan keharmonisan umat Allah.
Makna Ragi Dalam Ajaran Tuhan Yesus tentang Kewaspadaan
Joseph Christ Santo
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 1, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (403.607 KB)
|
DOI: 10.34081/fidei.v1i1.4
Ajaran Tuhan Yesus ada yang berbentuk kalimat lugas dan ada yang kiasan. Penggunaan kata “ragi†dalam beberapa kalimat yang disampaikan Tuhan Yesus tentang kewaspadaan adalah dalam makna kiasan. Itu sebabnya perlu dicari makna kata tersebut sesuai prinsip-prinsip eksegesis.Metode eksegesis yang digunakan meliputi penetapan teks Alkitab yang akan dieksegesis, yaitu Matius 16:6, analisis struktur kalimat dan menyusun terjemahan, analisis konteks penggunaan ragi pada masa itu, penggalian pokok-pokok teologis berdasarkan arti kata dan susunan kata dalam kalimat, dan penerapan eksegesis kepada konteks masa kini.Kesimpulan dari penelitian ini adalah, Yesus menggunakan istilah ragi karena ragi adalah sesuatu yang umum digunakan dalam masyarakat, sehingga arti simboliknya dengan mudah ditarik berdasarkan apa yang dipahami oleh masyarakat. Ragi menggambarkan ajaran, dan ada kesamaan karakteristik ragi dan karakteristik ajaran; pembusukan yang disebabkan oleh sejumlah kecil ragi tidak nampak prosesnya namun nyata perubahannya, demikian pula cukup sedikit ajaran yang tidak sehat yang dibiarkan mengkontaminasi memiliki potensi untuk merusak seluruh karakter seseorang. Ajaran yang harus diwaspadai adalah pengutamaan terhadap hal-hal yang lahiriah lebih daripada yang rohani, termasuk di dalamnya keangkuhan, kemunafikan, dan pandangan duniawi.
Kajian Biblika Makna Ibadah yang Murni dalam Yakobus 1:26-27 Dan Implikasinya Bagi Orang Percaya Masa Kini
Paulus Kunto Baskoro;
Joseph Christ Santo
Predica Verbum: Jurnal Teologi dan Misi Vol 1 No 2 (2021): Jurnal Predica Verbum Vol. 1 No. 2 (December) 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (407.028 KB)
|
DOI: 10.51591/predicaverbum.v1i2.18
Worship is an important part of the life of a believer. Worship cannot be replaced with anything in this life. Because worship is part of the lifestyle of every believer. When it comes to worship, it is immediately focused on the concept of praise, worship and listening to God’s Word in church buildings, retreats or commission services. This is not wrong; indeed, the essence of worship is to perform religious rituals to meet God. But there is something interesting in James 1:26-27 mention of true worship. In order to obtain accurate and accountable data, in this study authors used the method of writing descriptive literature. The purpose of this writing is Frist, to reveal and straighten out an incorrect understanding of a concept of worship according to the truth of God’s Word. Second, contribute to believers in thinking to be able to be role models in society. Third, it provides a nuance of the mindset of believers to reflect practical worship into a holistic form of service.