Claim Missing Document
Check
Articles

Religiositas Pelayan Perjamuan Kudus Pada Masa Pandemi Covid-19 Joseph Christ Santo; Ary Prasetyo
Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v3i2.405

Abstract

Peristiwa pandemi Covid-19 yang mulai melanda dunia sejak akhir 2019 tidak hanya berdampak pada kesehatan manusia. Peraturan pemerintah di berbagai negara termasuk Indonesia untuk membatasi kegiatan masyarakat telah memberikan dampak sosial lainnya. Pembatasan kegiatan ibadah sedikit banyak berpengaruh terhadap religiositas seseorang, tidak menutup kemungkinan religiositas pelayan perjamuan kudus GBIS Kepunton juga terdampak. Penelitian ini berusaha menjawab bagaimana aktivitas religius pelayan-pelayan perjamuan kudus GBIS Kepunton selama pembatasan kegiatan ibadah, dan bagaimana religiositas pelayan-pelayan perjamuan kudus GBIS Kepunton pada masa pandemi Covid-19. Dengan pendekatan fenomenologi, penelitian ini mengambil data primer berupa hasil wawancara 8 orang dari 20 orang pelayan perjamuan kudus GBIS Kepunton. Fokus penelitian ini adalah religiositas para pelayan perjamuan kudus GBIS Kepunton, dengan sub-fokus pada empat dimensinya, yaitu keyakinan religius, praktik religius, pengalaman religius, dan pengetahuan religius. Kesimpulan dari penelitian ini adalah aktivitas religius yang dilakukan para pelayan perjamuan kudus GBIS Kepunton selama pemerintah memberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat adalah mengikuti ibadah secara daring. Aktivitas ini menunjukkan bahwa para pelayan perjamuan kudus menjaga religiositas mereka.
Kerukunan sosial internal dalam jemaat: Refleksi teologis 1 Korintus 1:10-13 Sumiwi, Asih Rachmani Endang; Sembodo, Joko; Santo, Joseph Christ
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.339

Abstract

Harmony in society is an important thing that needs to be realized as an effort to suppress conflict with the nuances of SARA (ethnicity, religion, race, inter-group). The church needs to have sensitivity in contributing to realizing this harmony. Starting from the internal harmony of Christians, this harmony extends to social harmony. This article seeks to answer how Christians realize social harmony with regard to Paul's message on 1 Corinthians 1:10-13. This research was conducted with a qualitative literature approach, using an interpretive descriptive method on the text of 1 Corinthians 1: 10-13. The conclusion of this paper is that Christians need to participate in building social harmony starting from the internal harmony of the congregation, which is done in three ways: speaking the same things, which means having agreement; being closely united, which means being bound together; and having one mind, which means having similarities in thinking and considering. AbstrakKerukunan dalam bermasyarakat merupakan hal penting yang perlu diwujudkan sebagai upaya untuk menekan konflik dengan nuansa SARA. Gereja perlu memiliki sensitivitas dalam turut mewujudkan kerukunan tersebut. Diawali dari kerukunan intern umat Kristen, kerukunan ini meluas kepada kerukunan sosial. Artikel ini berusaha menjawab bagaimana orang Kristen mewujudkan kerukunan sosial berkenaan dengan pesan Paulus melalui 1 Korintus 1:10-13. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif literatur, menggunakan metode deskriptif interpretatif atas teks 1 Korintus 1:10-13. Kesimpulan dari tulisan ini adalah, orang Kristen perlu turut membangun kerukunan sosial, yang dimulai dari kerukunan internal jemaat, dengan menerapkan tiga hal, yaitu: seia sekata, yang berarti memiliki kesepakatan; erat bersatu, yang berarti terikat bersama; dan sehati sepikir, yang berarti memiliki kesamaan dalam berpikir dan mempertimbangkan.
Sikap terhadap Kaum Liyan: Refleksi Teologis Penglihatan Rasul Petrus di Yope Joseph Christ Santo
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 6, No 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v6i1.564

Abstract

Indonesia is a country with various diversity, one of which is the diversity of beliefs. The potential for blind fanaticism exists in every belief. Even in Christianity there can be blind fanaticism, thus viewing oneself exclusively towards people from other groups. It is recorded in the Bible that God gave a vision to the Apostle Peter in Joppa, so that he would welcome the arrival of Cornelius' messenger, a group that differed in nationality and creed. The idea of accepting others as a theological reflection of Peter's vision has never been reported in previous research and is interesting to examine to bring about diversity tolerance. With a qualitative approach that uses the hermeneutic method of the biblical text, theological principles are found from the vision of the Apostle Peter. The implication of these theological principles is the need for the proper attitude of Christians in welcoming others, that is, a church that converts, a church that continues to learn, and a church that accepts others without prejudice. Indonesia adalah negara dengan berbagai keragaman, salah satunya adalah keragaman keyakinan. Potensi terjadinya fanatisme buta ada pada setiap keyakinan. Bahkan dalam kekristenan pun dapat terjadi fanatisme buta, sehingga memandang diri eksklusif terhadap orang dari kelompok lain. Dicatat dalam Alkitab bahwa Tuhan memberikan penglihatan kepada Rasul Petrus di Yope, agar ia mau menyambut kedatangan utusan Kornelius, kelompok yang berbeda dari segi kebangsaan dan keyakinan. Gagasan penerimaan kaum liyan sebagai refleksi teologis dari penglihatan Petrus belum pernah dilaporkan dalam penelitian sebelumnya, dan menarik untuk diteliti dalam rangka mewujudkan toleransi keberagaman. Dengan pendekatan kualitatif yang menggunakan metode hermeneutika terhadap teks Alkitab, ditemukan prinsip-prinsip teologis dari penglihatan Rasul Petrus tersebut. Implikasi dari prinsip-prinsip teologis ini adalah perlunya sikap yang tepat dari orang Kristen dalam menyambut kaum liyan, yaitu gereja yang bertobat, gereja yang terus belajar, dan gereja yang menerima kaum liyan tanpa prasangka. 
Memahami Hukuman Salib dalam Perspektif Intertestamental sampai dengan Perjanjian Baru Yonatan Alex Arifianto; Joseph Christ Santo
SOTIRIA (Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 3, No 1: Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan, Sumatra Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47166/sot.v3i1.20

Abstract

The crucifixion of Jesus in Golgotha is an event that has an important significance in Christianity. But little is known about how crucifixion could have taken place in a Jewish environment where the matter of crucifixion was never mentioned expensively in the Old Testament. This paper intends to answer questions about the history of the penalty of the cross from the Intertestamental era to the crucifixion experienced by Jesus during the New Testament. Through literature studies, it was revealed that the punishment of the cross came from Persia adopted by the Greeks, and the Romans continued it as a punishment for the rebels by making the prisoners suffered greatly before his death. For Christianity, the punishment of the cross experienced by Jesus has more meaning than the punishment carried out by innocent people, that is as a substitute punishment that should be experienced by sinful humans. Abstrak Penyaliban Yesus di Golgota merupakan peristiwa yang memiliki makna penting dalam kekristenan. Namun tidak banyak diketahui bagaimana penyaliban bisa terjadi di lingkungan bangsa Yahudi yang mana hal penyaliban tidak pernah disebut secara ekspilis dalam kitab Perjanjian Lama. Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan mengenai sejarah hukuman salib sejak era Intertestamental hingga penyaliban yang dialami oleh Yesus pada masa Perjanjian Baru. Melalui studi pustaka dikemukakan bahwasanya hukuman salib berasal dari Persia yang diadopsi oleh bangsa Yunani, dan bangsa Romawi meneruskannya sebagai hukuman bagi para pemberontak dengan membuat pesakitan sangat menderita sebelum kematiannya. Bagi kekristenan, hukuman salib yang dialami Yesus memiliki makna lebih dari sekadar hukuman yang ditangung oleh orang yang tidak bersalah, yaitu sebagai hukuman penganti yang seharusnya dialami oleh manusia yang berdosa.
Sikap terhadap Kaum Liyan: Refleksi Teologis Penglihatan Rasul Petrus di Yope Santo, Joseph Christ
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 6, No 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v6i1.564

Abstract

Indonesia is a country with various diversity, one of which is the diversity of beliefs. The potential for blind fanaticism exists in every belief. Even in Christianity there can be blind fanaticism, thus viewing oneself exclusively towards people from other groups. It is recorded in the Bible that God gave a vision to the Apostle Peter in Joppa, so that he would welcome the arrival of Cornelius' messenger, a group that differed in nationality and creed. The idea of accepting others as a theological reflection of Peter's vision has never been reported in previous research and is interesting to examine to bring about diversity tolerance. With a qualitative approach that uses the hermeneutic method of the biblical text, theological principles are found from the vision of the Apostle Peter. The implication of these theological principles is the need for the proper attitude of Christians in welcoming others, that is, a church that converts, a church that continues to learn, and a church that accepts others without prejudice. Indonesia adalah negara dengan berbagai keragaman, salah satunya adalah keragaman keyakinan. Potensi terjadinya fanatisme buta ada pada setiap keyakinan. Bahkan dalam kekristenan pun dapat terjadi fanatisme buta, sehingga memandang diri eksklusif terhadap orang dari kelompok lain. Dicatat dalam Alkitab bahwa Tuhan memberikan penglihatan kepada Rasul Petrus di Yope, agar ia mau menyambut kedatangan utusan Kornelius, kelompok yang berbeda dari segi kebangsaan dan keyakinan. Gagasan penerimaan kaum liyan sebagai refleksi teologis dari penglihatan Petrus belum pernah dilaporkan dalam penelitian sebelumnya, dan menarik untuk diteliti dalam rangka mewujudkan toleransi keberagaman. Dengan pendekatan kualitatif yang menggunakan metode hermeneutika terhadap teks Alkitab, ditemukan prinsip-prinsip teologis dari penglihatan Rasul Petrus tersebut. Implikasi dari prinsip-prinsip teologis ini adalah perlunya sikap yang tepat dari orang Kristen dalam menyambut kaum liyan, yaitu gereja yang bertobat, gereja yang terus belajar, dan gereja yang menerima kaum liyan tanpa prasangka. 
METODE BERTEOLOGI PAULUS MENURUT 1 KORINTUS 9:1-23 DALAM KONTEKS MASA KINI Wijaya, E. Chrisna; Sumiwi, Asih Rachmani Endang; Santo, Joseph Christ
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 1 (2023): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i1.350

Abstract

The method of theology used by a person in providing theological understanding has a uniqueness or distinctiveness that can be judged and even imitated by other theological learners. What the Apostle Paul had and did became an example for believers in his time and today, amid the demands of a society that is increasingly moderate and increasingly sensitive to the gospel message, not only in terms of setting an example of life but also setting an example in terms of theology. The author uses qualitative research methods in discussing and studying specifically 1 Corinthians 9:1-23 in order to examine and discover Paul's theological method. In the study, the author found three theological methods used by the Apostle Paul in this context: the rhetoric method, the apologetics method, and the contextual method. In today's context, the rhetorical method enables effective speech by choosing words, terms, expressions, and sentences that can attract the attention and sympathy of the listener. The apologetic method pays attention to the substance of the true truth of the Christian faith without getting bogged down in the demands of the perspective of the average society. The contextual method pays attention to the condition of society, culture, and all its characteristics, with the aim that the gospel is preached and people in that context can accept and know Christ.
Penerapan Konsep Tubuh Kristus Menurut 1 Korintus 12 dalam Mengelola Keberagaman Warga Jemaat Repaningrum, Eko Lestijo Wening; Santo, Joseph Christ
Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v4i2.514

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep tubuh Kristus yang menggambarkan satu kesatuan organ-organ tubuh sebagai metafora dari kesatuan anggota warga jemaat. Artikel membahas bahwa berbagai keragaman warga jemaat tetap pada satu tubuh, yaitu Kristus sebagai tubuh dan gereja sebagai anggota tubuh dan hal ini perlu harus diketahui dengan benar agar tidak menjadi suatu pandangan yang salah dalam memahami konsep kesatuan anggota tubuh Kristus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif literatur dengan mengumpulkan data-data baik berupa Alkitab, artikel, dan buku untuk mempertajam pembahasan.Hasil Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep tubuh Kristus menurut 1 Korintus 12 : 12-13 adalah Keberagaman yang harus bersatu pada kesatuan tubuh Kristus yang benar. Penerapan konsep tubuh Kristus adalah Pertama, Kesatuan Tubuh Kristus Pada Banyak Anggota, Kedua, Sudah Dibaptis Menjadi Satu Tubuh, Ketiga, Diberi Minum Dari Satu Roh
Penerapan Eklesiologi Dalam 1 Petrus 2 Bagi Pembinaan Rohani Jemaat Putra, Yulius Subari; Santo, Joseph Christ
Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v5i1.757

Abstract

This research focuses on the application of ecclesiology in 1 Peter 2 to the spiritual formation of the church, identifying how the church's identity as a chosen nation and the holy priesthood supports a strong theological foundation in the life of the church. In this theological context, there is a gap in the understanding of the practical application of ecclesiology teachings in contemporary ecclesiastical life. The research methodology used is descriptive qualitative with descriptive analysis and exegesis approaches. The main results show that the church's identity as a chosen nation, a royal priesthood, a holy nation, and a people belonging to God strengthens the foundation of the faith of the congregation, encourages active participation in social and ecclesiastical life, and builds a strong character in the face of life's challenges. This research reveals that the integration of ecclesiology teachings in church practice can strengthen the spiritual foundation of the congregation and guide them in living their Christian vocation. The implications of this research make a significant contribution to theological literature by offering a new approach in understanding and applying ecclesiology in the spiritual development of the congregation. Penelitian ini berfokus pada penerapan eklesiologi dalam 1 Petrus 2 untuk pembinaan rohani jemaat, mengidentifikasi bagaimana identitas gereja sebagai bangsa pilihan dan imamat yang kudus mendukung fondasi teologis yang kuat dalam kehidupan jemaat. Dalam konteks teologis ini, terdapat kesenjangan dalam pemahaman aplikasi praktis ajaran eklesiologi dalam kehidupan gerejawi kontemporer. Metodologi penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisa deskriptif dan eksegesis. Hasil utama menunjukkan bahwa identitas gereja sebagai bangsa pilihan, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, dan umat kepunyaan Allah memperkuat fondasi iman jemaat, mendorong partisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan gerejawi, serta membangun karakter yang kokoh dalam menghadapi tantangan hidup. Penelitian ini mengungkapkan bahwa integrasi ajaran eklesiologi dalam praktik gereja dapat memperkuat fondasi spiritual jemaat dan membimbing mereka dalam menjalani panggilan Kristiani. Implikasi penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur teologi dengan menawarkan pendekatan baru dalam memahami dan mengaplikasikan eklesiologi dalam pembinaan rohani jemaat.
Sikap terhadap Kaum Liyan: Refleksi Teologis Penglihatan Rasul Petrus di Yope Santo, Joseph Christ
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 6 No. 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v6i1.564

Abstract

Indonesia is a country with various diversity, one of which is the diversity of beliefs. The potential for blind fanaticism exists in every belief. Even in Christianity there can be blind fanaticism, thus viewing oneself exclusively towards people from other groups. It is recorded in the Bible that God gave a vision to the Apostle Peter in Joppa, so that he would welcome the arrival of Cornelius' messenger, a group that differed in nationality and creed. The idea of accepting others as a theological reflection of Peter's vision has never been reported in previous research and is interesting to examine to bring about diversity tolerance. With a qualitative approach that uses the hermeneutic method of the biblical text, theological principles are found from the vision of the Apostle Peter. The implication of these theological principles is the need for the proper attitude of Christians in welcoming others, that is, a church that converts, a church that continues to learn, and a church that accepts others without prejudice. Indonesia adalah negara dengan berbagai keragaman, salah satunya adalah keragaman keyakinan. Potensi terjadinya fanatisme buta ada pada setiap keyakinan. Bahkan dalam kekristenan pun dapat terjadi fanatisme buta, sehingga memandang diri eksklusif terhadap orang dari kelompok lain. Dicatat dalam Alkitab bahwa Tuhan memberikan penglihatan kepada Rasul Petrus di Yope, agar ia mau menyambut kedatangan utusan Kornelius, kelompok yang berbeda dari segi kebangsaan dan keyakinan. Gagasan penerimaan kaum liyan sebagai refleksi teologis dari penglihatan Petrus belum pernah dilaporkan dalam penelitian sebelumnya, dan menarik untuk diteliti dalam rangka mewujudkan toleransi keberagaman. Dengan pendekatan kualitatif yang menggunakan metode hermeneutika terhadap teks Alkitab, ditemukan prinsip-prinsip teologis dari penglihatan Rasul Petrus tersebut. Implikasi dari prinsip-prinsip teologis ini adalah perlunya sikap yang tepat dari orang Kristen dalam menyambut kaum liyan, yaitu gereja yang bertobat, gereja yang terus belajar, dan gereja yang menerima kaum liyan tanpa prasangka. 
Penerapan Konsep Tubuh Kristus Menurut 1 Korintus 12 dalam Mengelola Keberagaman Warga Jemaat Repaningrum, Eko Lestijo Wening; Santo, Joseph Christ
Angelion Vol 4 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v4i2.514

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep tubuh Kristus yang menggambarkan satu kesatuan organ-organ tubuh sebagai metafora dari kesatuan anggota warga jemaat. Artikel membahas bahwa berbagai keragaman warga jemaat tetap pada satu tubuh, yaitu Kristus sebagai tubuh dan gereja sebagai anggota tubuh dan hal ini perlu harus diketahui dengan benar agar tidak menjadi suatu pandangan yang salah dalam memahami konsep kesatuan anggota tubuh Kristus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif literatur dengan mengumpulkan data-data baik berupa Alkitab, artikel, dan buku untuk mempertajam pembahasan.Hasil Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep tubuh Kristus menurut 1 Korintus 12 : 12-13 adalah Keberagaman yang harus bersatu pada kesatuan tubuh Kristus yang benar. Penerapan konsep tubuh Kristus adalah Pertama, Kesatuan Tubuh Kristus Pada Banyak Anggota, Kedua, Sudah Dibaptis Menjadi Satu Tubuh, Ketiga, Diberi Minum Dari Satu Roh