Claim Missing Document
Check
Articles

Kemerdekaan Menurut Roma 6:1-14 dan Penerapannya bagi Generasi Z Tuan, Monika; Santo, Joseph Christ; Putri, Agustin Soewitomo
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 2 No 1 (2022): Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v2i1.294

Abstract

Independence is a person's freedom against something that makes him feel oppressed, shackled and even bound to a forced rule. Christians who live in sin are slaves to sin. Man's attachment to sin makes his life without freedom in life. Generation Z is a generation that lives in a world where everything is instantaneous, has great innovation and creativity, even this generation can make their own money. The application of freedom according to Romans 6:1-14 in generation Z is important. By using a hermeneutic approach and linking the meaning of freedom according to Romans 6:1-14 with generation Z, the researchers came to the conclusion that generation Z needs to understand that they have been baptized into Christ, need to crucify the old man, should not commit themselves to sin, and must live for God. in Christ Jesus.Kemerdekaan merupakan kebebasan seseorang terhadap sesuatu yang membuat dirinya merasa tertindas, terbelenggu bahkan terikat akan suatu aturan yang dipaksakan. Orang Kristen yang hidup di dalam dosa adalah budak dosa. Keterikatan manusia akan dosa membuat hidupnya tidak memiliki kebebasan dalam hidup. Generasi Z adalah generasi yang hidup di dalam dunia yang serba ada yang tersedia segala sesuatunya yang instan, memiliki inovasi dan kreativitas yang hebat, bahkan generasi ini dapat menghasilkan uang sendiri. Penerapan kemerdekaan menurut Roma 6:1-14 pada generasi Z merupakan hal yang penting. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutik dan menghubungkan makna kemerdekaan menurut Roma 6:1-14 dengan generasi Z, peneliti sampai pada kesimpulan bahwa generasi Z perlu memahami telah dibaptis dalam Kristus, perlu menyalibkan manusia lama, tidak boleh menghambakan diri pada dosa, dan harus hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.
Sikap terhadap Kaum Liyan: Refleksi Teologis Penglihatan Rasul Petrus di Yope Santo, Joseph Christ
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 6 No. 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v6i1.564

Abstract

Indonesia is a country with various diversity, one of which is the diversity of beliefs. The potential for blind fanaticism exists in every belief. Even in Christianity there can be blind fanaticism, thus viewing oneself exclusively towards people from other groups. It is recorded in the Bible that God gave a vision to the Apostle Peter in Joppa, so that he would welcome the arrival of Cornelius' messenger, a group that differed in nationality and creed. The idea of accepting others as a theological reflection of Peter's vision has never been reported in previous research and is interesting to examine to bring about diversity tolerance. With a qualitative approach that uses the hermeneutic method of the biblical text, theological principles are found from the vision of the Apostle Peter. The implication of these theological principles is the need for the proper attitude of Christians in welcoming others, that is, a church that converts, a church that continues to learn, and a church that accepts others without prejudice. Indonesia adalah negara dengan berbagai keragaman, salah satunya adalah keragaman keyakinan. Potensi terjadinya fanatisme buta ada pada setiap keyakinan. Bahkan dalam kekristenan pun dapat terjadi fanatisme buta, sehingga memandang diri eksklusif terhadap orang dari kelompok lain. Dicatat dalam Alkitab bahwa Tuhan memberikan penglihatan kepada Rasul Petrus di Yope, agar ia mau menyambut kedatangan utusan Kornelius, kelompok yang berbeda dari segi kebangsaan dan keyakinan. Gagasan penerimaan kaum liyan sebagai refleksi teologis dari penglihatan Petrus belum pernah dilaporkan dalam penelitian sebelumnya, dan menarik untuk diteliti dalam rangka mewujudkan toleransi keberagaman. Dengan pendekatan kualitatif yang menggunakan metode hermeneutika terhadap teks Alkitab, ditemukan prinsip-prinsip teologis dari penglihatan Rasul Petrus tersebut. Implikasi dari prinsip-prinsip teologis ini adalah perlunya sikap yang tepat dari orang Kristen dalam menyambut kaum liyan, yaitu gereja yang bertobat, gereja yang terus belajar, dan gereja yang menerima kaum liyan tanpa prasangka. 
NILAI-NILAI KEMANUSIAAN YANG MELINTAS BATAS KEAGAMAAN DALAM NARASI ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI Santo, Joseph Christ
Manna Rafflesia Vol. 11 No. 1 (2024): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v11i1.487

Abstract

The narrative of the Good Samaritan as written in the Gospel of Luke is a familiar narrative among Christians. Some researchers have raised this narrative in terms of ethnic differences, but researchers are interested in examining this narrative from another point of view, namely religious differences. The dispute between the Jews and the Samaritans implied in this narrative is not only due to ethnic differences but also to religious differences. One of the religious conflicts that has occurred before is the imposition of Judaism on the Samaritans that occurred in Hyrcanus' time. Using a descriptive analysis approach, the researcher came to the conclusion that the narrative contains human values in terms of equality, compassion, and totality.
Implementation of the Role of Peacemakers in Bridging Differences in Beliefs: A Christian Educator's Perspective La'ia, Dewi; Santo, Joseph Christ
Didache: Journal of Christian Education Vol. 6 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46445/djce.v6i1.936

Abstract

Indonesia is a nation significantly rich in cultural, ethnic, and religious diversity. While this diversity is a source of strength, it also presents challenges in fostering social harmony. This study examines the implementation of the peacemaker concept in bridging differences in beliefs, based on Jesus' teachings in Matthew 5:9. Using a qualitative method with a literature review approach (library research), the research explores relevant websites, journals, and books to analyze the biblical meaning of "peacemakers" and how Christian educators can apply this principle in Indonesia’s religiously plural society. Findings indicate that being a peacemaker requires active engagement in fostering peace rather than merely living in passive harmony. Key implementation strategies include developing interfaith empathy, applying conflict mediation techniques rooted in Christian values, and adopting a collaborative approach to community service. This study concludes that Christian educators play a vital role as peacemakers, with a responsibility to bridge differences, facilitate interfaith dialogue, and promote tolerance and inclusivity within Indonesia’s diverse society.
Dari Areopagus ke Nusantara: Teologi Apologetik Paulus dalam Merumuskan Moderasi Beragama di Indonesia Prabowo, Yusak Sigit; Sumiwi, Asih Rachmani Endang; Santo, Joseph Christ
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol. 4 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/miktab.v4i1.566

Abstract

Artikel ini mengkaji relevansi teologi apologetik Paulus dalam merumuskan konsep moderasi beragama di Indonesia yang multikultural dan plural. Latar belakang penelitian ini berangkat dari tantangan narasi keagamaan ekstremis yang kerap mengancam kohesi sosial dan kerukunan antar umat beragama di Nusantara. Sementara wacana moderasi beragama telah menjadi agenda nasional, landasan teologis yang kuat dan terintegrasi sering kali kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu, artikel ini menawarkan sebuah pendekatan teologis yang berakar pada orasi Paulus di Areopagus (Kis. 17:16-34) sebagai kerangka kerja untuk memperkaya dan memperkuat diskursus moderasi beragama. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemanfaatan analisis eksegetis terhadap orasi Paulus yang secara tradisional dipahami sebagai model misiologi atau apologetika, untuk kemudian diterapkan secara spesifik dalam konteks tantangan pluralisme kontemporer di Indonesia. Paulus tidak hanya mengkritik kekosongan spiritualisme Helenistik, tetapi ia juga menunjukkan sikap hormat terhadap keyakinan lokal – bahkan menggunakan altar "kepada Allah yang tidak dikenal" sebagai titik tolak untuk memperkenalkan Injil. Sikap ini merefleksikan sebuah model apologetika yang tidak konfrontatif, melainkan dialogis dan enkulturatif. Pendekatan ini merupakan antitesis terhadap narasi apologetika yang bersifat eksklusif dan cenderung menyalahkan tradisi keagamaan lain. Oleh karena itu, artikel ini berargumen bahwa prinsip-prinsip teologis Paulus ini – pengakuan terhadap kebaikan partikular dalam tradisi lain, pengalihan fokus dari perdebatan identitas keagamaan ke esensi spiritual, dan penggunaan bahasa yang empatik – adalah landasan teologis yang solid bagi moderasi beragama. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis prinsip-prinsip teologis dari orasi Paulus di Areopagus, kemudian mengkontekstualisasikannya menjadi seperangkat etika teologis untuk praktik moderasi beragama di Indonesia. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan sekadar kompromi sosiologis atau politik, melainkan juga memiliki legitimasi teologis yang kuat. Metode penelitian yang digunakan adalah studi teologis-biblika dengan pendekatan analisis naratif dan eksegetis terhadap teks Kisah Para Rasul 17:16-34. Hasil analisis ini kemudian dipadukan dengan analisis kontekstual terhadap isu-isu pluralisme dan moderasi beragama di Indonesia. Pendekatan interdisipliner ini memungkinkan penulis untuk menjembatani jurang antara teks suci dan realitas sosial, menghasilkan sebuah sintesis yang relevan dan praktis. Sebagai kesimpulan akhir, artikel ini menemukan bahwa teologi apologetik Paulus di Areopagus menyediakan blueprint bagi umat beragama di Indonesia untuk terlibat secara konstruktif dengan “yang lain.” Moderasi beragama, dalam perspektif ini, adalah ekspresi ketaatan yang mempromosikan kebenaran universal sambil tetap menghargai manifestasi iman dalam beragam bentuk. Dengan mengadopsi model Paulus, umat beragama dapat menjadi agen dialog dan perdamaian, bukan lagi agen konflik, dengan cara yang tetap setia pada ajaran iman mereka.
Sikap terhadap Kaum Liyan: Refleksi Teologis Penglihatan Rasul Petrus di Yope Santo, Joseph Christ
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 6 No. 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v6i1.564

Abstract

Indonesia is a country with various diversity, one of which is the diversity of beliefs. The potential for blind fanaticism exists in every belief. Even in Christianity there can be blind fanaticism, thus viewing oneself exclusively towards people from other groups. It is recorded in the Bible that God gave a vision to the Apostle Peter in Joppa, so that he would welcome the arrival of Cornelius' messenger, a group that differed in nationality and creed. The idea of accepting others as a theological reflection of Peter's vision has never been reported in previous research and is interesting to examine to bring about diversity tolerance. With a qualitative approach that uses the hermeneutic method of the biblical text, theological principles are found from the vision of the Apostle Peter. The implication of these theological principles is the need for the proper attitude of Christians in welcoming others, that is, a church that converts, a church that continues to learn, and a church that accepts others without prejudice. Indonesia adalah negara dengan berbagai keragaman, salah satunya adalah keragaman keyakinan. Potensi terjadinya fanatisme buta ada pada setiap keyakinan. Bahkan dalam kekristenan pun dapat terjadi fanatisme buta, sehingga memandang diri eksklusif terhadap orang dari kelompok lain. Dicatat dalam Alkitab bahwa Tuhan memberikan penglihatan kepada Rasul Petrus di Yope, agar ia mau menyambut kedatangan utusan Kornelius, kelompok yang berbeda dari segi kebangsaan dan keyakinan. Gagasan penerimaan kaum liyan sebagai refleksi teologis dari penglihatan Petrus belum pernah dilaporkan dalam penelitian sebelumnya, dan menarik untuk diteliti dalam rangka mewujudkan toleransi keberagaman. Dengan pendekatan kualitatif yang menggunakan metode hermeneutika terhadap teks Alkitab, ditemukan prinsip-prinsip teologis dari penglihatan Rasul Petrus tersebut. Implikasi dari prinsip-prinsip teologis ini adalah perlunya sikap yang tepat dari orang Kristen dalam menyambut kaum liyan, yaitu gereja yang bertobat, gereja yang terus belajar, dan gereja yang menerima kaum liyan tanpa prasangka. 
Eksplorasi Hubungan Antara Seni, Musik, dan Bentuk Ekspresi Kreatif dalam Ibadah Kristen Masa Kini Thusiapratama, Gabriel Levi; Santo, Joseph Christ
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 5 No 2 (2025): November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/tjt.v5i2.900

Abstract

With developments in various aspects that continue to accelerate due to the influence of globalization, Christian worship is also experiencing transformation. Today's Christian worship involves various relationships between art, music, and other forms of creative expression which are packaged in such a way that it becomes Contemporary Worship. However, the use of art and creative expression in Christian worship does not always run smoothly. Today's Christian worship raises several issues including those related to the congregation's spiritual experience with contemporary worship packaging, challenges, and debates regarding the limits of the use of art in the context of worship, but some opportunities can be found from the existence of today's Christian Worship, as well as the relationship between the use of art in the context of worship. art in worship with increased congregational participation. The research method used is a literature review method that focuses on collecting and analyzing various literature relevant to exploring the relationship between art, music, and forms of creative expression in contemporary Christian worship. This research concludes that art, music, and different forms of creative expression have quite a large influence and need to receive attention in modern Christian worship. Keywords: art; music; creative expression; contemporary Christian worship
Model Bait Suci Yerusalem dan Penerapannya dalam Arsitektur Spiritual Rumah Retret Kristen Natania, Stefani Ester; Santo, Joseph Christ; Marlina, Avi
Angelion Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v6i2.1039

Abstract

This study aims to discuss the model of the Jerusalem Temple in the Old Testament and its relevance to the concept of spiritual architecture in the design of Christian Retreat Houses. The temple itself is understood to be arranged into three areas or space zones, namely the court, the holy room, and the most holy room. When associated with the approach of spiritual architecture, this model reflects the spiritual journey of man from the profane zone to the sacred zone closer to God. The method used is qualitative descriptive qualitative based on literature, by collecting and processing data in the form of Bible, books, and articles to deepen the discussion. Through the study of theological literature and architectural theory, this study examines how aspects of the site, space, ornaments, and furnishings of the Temple can be applied to a Christian Retreat House that is contextual and appropriate today. The results of this study show that the integration between Temple model and spiritual architectural principles can provide a design framework concept for the design of Christian Retreat Houses. The results of this research are expected to contribute to religious architecture in Indonesia, as well as provide a conceptual approach that is in accordance with the teaching of the Christian faith. Penelitian ini bertujuan untuk membahas model Bait Suci Yerusalem dalam Perjanjian Lama dan relevansinya terhadap konsep arsitektur spiritual pada perancangan Rumah Retret Kristen. Bait Suci sendiri dipahami tersusun menjadi tiga area atau zona ruang, yaitu pelataran, ruang kudus, dan ruang maha kudus. Jika dikaitkan dengan pendekatan arsitektur spiritual, model ini mencerminkan perjalanan spiritual manusia dari zona profan menuju ke zona sakral yang lebih dekat dengan Allah. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif berdasarkan literatur, dengan mengumpulkan dan mengolah data yang berupa Alkitab, buku, dan artikel untuk memperdalam pembahasan. Melalui kajian literatur teologis dan teori arsitektural, penelitian ini mengkaji bagaimana aspek tapak, ruang, ornamen, dan perabot pada Bait Suci dapat diterapkan ke dalam sebuah Rumah Retret Kristen yang kontekstual dan sesuai pada masa kini. Hasil dari kajian ini menunjukkan integrasi antara model Bait Suci dan prinsip arsitektur spiritual dapat memberikan konsep kerangka desain pada perancangan Rumah Retret Kristen. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi bagi arsitektur religius di Indonesia, sekaligus memberikan pendekatan konseptual yang sesuai dengan pengajaran iman Kristen.
Relevansi Aplikasi Radio Streaming dalam Pelayanan Pastoral Gereja di Era Masyarakat 5.0 Jatmiko, Yohanes; Santo, Joseph Christ
Angelion Vol 6 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v6i1.1051

Abstract

Perkembangan teknologi di jaman sekarang ini dibarengi dengan perubahan dalam masyarakat yang dikenal dengan masyarakat 5.0 yang sangat erat dalam penggunaan teknologi di bidang informasi dan komunikasi secara khusus penggunaan internet. Masyarakat perlu mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan dalam era masyarakat 5.0. Dalam hal ini di gereja sangat diharapkan dapat bersiap siap untuk menghadapi perubahan ini. Termasuk gereja harus mampu menggunakan perubahan ini khususnya teknologi internet supaya dapat memaksimalkan pelayanan pastoral. Sehingga pelayanan pastoral dengan memaksimalkan teknologi internet mampu menjadi suatu pendekatan kepada jemaat yang dilayani, karena dengan pendekatan seperti ini membawa sebuah perubahan pandangan tentang pelayanan yang tidak hanya bertemu secara fisik tetapi dapat juga melalui kemajuan teknologi pesan pelayanan pastoral dapat dirasakan oleh setiap jemaat yang dilayani. Tulisan ini bertujuan meneliti melalui observasi bagaimana peran aplikasi radio streaming dalam memaksimalkan pelayanan pastoral sebuah gereja. Objek yang diteliti adalah peran radio streaming dalam pelayanan pastoral. Hasil Penulis melalukan analisis dengan metode pendekatan analisis deskriptif berdasarkan literatur dan juga mempraktikkan di beberapa gereja sehingga menemukan kesimpulan bahwa aplikasi radio streaming mampu memaksimalkan pelayanan pastoral karena (1) sebagai sarana informasi kepada jemaat (2) sebagai sarana membangun komunikasi antara gereja dan jemaat (3) sebagai sarana pemberitaan Injil (4) sebagai sarana berbagi kesaksian atau pengalaman mengikut Tuhan.
Pengaruh Keteladanan Hidup Gembala Sidang terhadap Pertumbuhan Gereja Joseph Christ Santo; Dapot Tua Simanjuntak
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 2 No. 1: Juli 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v2i1.23

Abstract

Church growth is important, but not all churches experience good growth. The observation shows that one of the causes of the church not experiencing growth is the problem of the exemplary life of the pastor. This research was conducted to determine the effect of a pastor's living example on church growth. The conceptual and operational definitions of the pastor's living example are formulated based on the letter of 1 Peter, while the conceptual and operational definitions of church growth are formulated based on the growth of the early church. This research was carried out by distributing questionnaires to 125 respondents from four local churches from the Gereja Injili di Indonesia (Evangelical Church in Indonesia) in West Java Classes. With statistical calculations, the results show that there is the influence of the pastor's living example based on letter 1 Peter on the growth of the Gereja Injili di Indonesia in West Java Classes, and the effect is high. AbstrakPertumbuhan gereja adalah hal yang penting, tetapi tidak semua gereja mengalami pertumbuhan yang baik. Hasil observasi menunjukkan bahwa salah satu penyebab gereja tidak mengalami pertumbuhan adalah masalah keteladanan hidup gembala sidang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh keteladanan hidup gembala sidang terhadap pertumbuhan gereja. Definisi konseptual dan operasional keteladanan hidup gembala sidang dirumuskan berdasarkan surat 1 Petrus, sedangkan definisi konseptual dan operasional pertumbuhan gereja dirumuskan berdasarkan pertumbuhan gereja mula-mula. Penelitian ini dilakukan dengan mendistribusikan kuesioner atas 125 responden dari empat gereja lokal dari Gereja Injili di Indonesia Klasis Jawa Barat. Dengan perhitungan statistik diperoleh hasil bahwa ada pengaruh keteladanan hidup gembala sidang berdasarkan surat 1 Petrus terhadap pertumbuhan jemaat Gereja Injili Di Indonesia Klasis Jawa Barat, dan pengaruhnya adalah tinggi.