Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

BENTUK DAN FUNGSI SAWANAN UNTUK IBU HAMIL DAN BAYI BAGI MASYARAKAT DESA NGELUK, KEC. PENAWANGAN : KAJIAN FOLKLOR Endang Astuti; Harjito
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 04 (2025): Volume 11 No. 04 Desember 2025 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i04.10272

Abstract

Beliefs and protective practices for pregnant women and infants in Javanese society constitute a living folkloric system that persists to the present day. This study examines the forms and functions of sawanan for pregnant women and infants in Ngeluk Village, Penawangan District, Grobogan Regency. The research focuses on the use of bengkle and dlingu plants as media of protection against supernatural disturbances. A folkloristic approach was employed using ethnographic methods, including observation, interviews, and the exploration of local belief data. The findings indicate that sawanan functions as a cultural mechanism to avert supernatural threats, strengthen social solidarity, and maintain cosmological balance within Javanese families. The bengkle and dlingu plants are not merely herbal rhizomes but symbols of apotropaic energy believed to protect pregnant women and infants from interference by supernatural beings. This study demonstrates that such beliefs remain enduring because they provide a sense of security and explanations for phenomena that are difficult to comprehend through everyday rationality.
PERAN MITOS KOYEIDABA DALAM MEMBENTUK PANDANGAN HIDUP MASYARAKAT SUKU MEE PAPUA Happy Dwi Prihartanti; Harjito
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 01 (2025): Volume 12 No. 01 Maret 2026
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i01.10786

Abstract

This study examines the role of the Koyeidaba Myth in shaping the worldview of the Mee Tribe in Papua. The Koyeidaba Myth is a messianic narrative transmitted orally and regarded as a source of moral values, social ethics, and the concept of salvation for the Mee people. This research employed a descriptive qualitative method with data collected through interviews, observations, and documentation involving tribal elders, religious leaders, and local residents in Topo Village, Nabire. The findings reveal that the Koyeidaba Myth significantly influences the Mee people's understanding of life, particularly regarding the values of abundance (mobu), safety (aji), respect for nature, and adherence to moral principles such as prohibitions against killing, stealing, lying, jealousy, and adultery. The myth also serves as a conceptual bridge between traditional Mee beliefs and Christianity. However, the study found a generational shift in which younger Mee individuals no longer know the story in full, although they still practice its underlying values. This research concludes that the Koyeidaba Myth is a fundamental structure that maintains the identity, morality, and worldview of the Mee community
TAHAPAN DAN PERSEPSI PETANI TERHADAP TRADISI NGAMBENG PARI DI DESA KEJENE Bambang Yoga Pranoto; Harjito
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 01 (2025): Volume 12 No. 01 Maret 2026
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i01.10958

Abstract

This study examines the methik and ngambeng pari traditions as part of the local wisdom upheld by the farming community of Dukuh Beber, Desa Kejene, which remain preserved within the rice cultivation cycle. These traditions are rooted in strong agrarian cultural values and are performed through meaningful ritual stages. The purpose of this research is to describe the procedural stages of the traditions and to understand farmers’ perceptions of the moral, social, and religious values embedded in them. The study employs a descriptive qualitative approach using observation, semi-structured interviews, and documentation, analyzed through the Miles and Huberman model. The findings show that the methik tradition is performed in the rice field using symbolic offerings called cokbakal, while the ngambeng tradition involves a communal feast held at home after the harvest arrives. Interviews reveal that farmers regard the traditions as expressions of gratitude and ancestral heritage that must be preserved even though they do not technically affect crop yields. The discussion links these findings with previous studies that demonstrate similar harvest rituals across Indonesia. The study concludes that these traditions hold significant spiritual and social functions for the community and remain relevant as part of the cultural identity that deserves preservation.
Pelaksanaan Supervisi Akademik Kepala Sekolah dalam Pengembangan Profesional Guru: Studi Kasus Sekolah Dasar Sri Iin Andriyati; Harjito; Maryanto
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 15 No. 1 Februari (2026): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.3863

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam pelaksanaan supervisi akademik kepala sekolah di SD Negeri 1 Plosoharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan tindak lanjut supervisi akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian terdiri atas satu kepala sekolah dan lima guru sekolah dasar yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan teknik, member check, serta peer debriefing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa supervisi akademik di SD Negeri 1 Plosoharjo dilaksanakan secara terencana, dialogis, dan reflektif, dengan menekankan pembinaan profesional guru melalui pendampingan, umpan balik konstruktif, dan tindak lanjut berkelanjutan. Supervisi akademik tidak hanya berfungsi sebagai pengawasan pembelajaran, tetapi juga sebagai sarana pengembangan profesional guru dan penguatan peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam memperkaya kajian supervisi akademik serta implikasi praktis bagi kepala sekolah dalam mengembangkan supervisi akademik yang lebih efektif dan kontekstual di sekolah dasar.
Pembelajaran Diferensiasi dalam Kurikulum Merdeka: Analisis Kompetensi Pedagogik Guru Sekolah Dasar Dewi Marya Susanti; Harjito; Maryanto
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 15 No. 1 Februari (2026): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.3864

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompetensi pedagogik guru dalam implementasi pembelajaran diferensiasi di SD Negeri 3 Krangganharjo, Kecamatan Toroh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru kelas tinggi, dan peserta didik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi pembelajaran, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah mengimplementasikan pembelajaran diferensiasi secara adaptif dengan memadukan pengelompokan fleksibel, variasi aktivitas belajar, pemberian bimbingan tambahan bagi siswa yang mengalami kesulitan, serta penyediaan tantangan lanjutan bagi siswa yang memiliki kesiapan belajar lebih tinggi. Praktik diferensiasi tidak hanya tercermin dalam perencanaan pembelajaran, tetapi juga terealisasi dalam proses pembelajaran di kelas melalui diferensiasi konten, proses, dan produk. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik guru tidak hanya berperan dalam penerapan pembelajaran diferensiasi, tetapi juga menjadi faktor kunci dalam kemampuan guru menyesuaikan pengelompokan belajar, variasi aktivitas, serta pendampingan dan tantangan belajar sesuai kesiapan peserta didik. Temuan ini memperkuat kajian pembelajaran diferensiasi di sekolah dasar dan menjadi rujukan pengembangan praktik pedagogik guru dalam Kurikulum Merdeka.