Diyah Pratiwi
Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Kepulauan Riau

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KONSTRUKSI IDENTITAS KEISLAMAN NUSANTARA DALAM TAFSIR AL-FURQAN: ANALISIS HERMENEUTIK AYAT- AYAT SOSIAL (AL-BAQARAH ayat 177-243) KARYA A. HASAN ERA KOLONIAL PASCA KEMERDEKAAN Diyah Pratiwi; Muhith
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 01 (2025): Volume 12 No. 01 Maret 2026
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i01.10931

Abstract

Kajian tafsir Al-Qur’an di Nusantara tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial-historis yang melingkupi lahirnya karya tafsir tersebut. Tafsir Al-Furqan karya A. Hasan merupakan salah satu tafsir penting yang muncul pada masa transisi era kolonial menuju pasca kemerdekaan, sehingga memuat respons keislaman terhadap dinamika sosial, politik, dan kebangsaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi identitas keislaman Nusantara dalam Tafsir Al-Furqan melalui penafsiran ayat-ayat sosial Surah Al-Baqarah ayat 177–243 dengan pendekatan hermeneutik. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif interpretatif. Data dianalisis menggunakan hermeneutika historis-kontekstual dengan menelaah relasi antara teks Al-Qur’an, konteks sosial-historis penafsir, dan horizon pemaknaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa A. Hasan membangun identitas keislaman Nusantara yang bercorak rasional, purifikatif, dan berorientasi pada etika sosial, keadilan, serta tanggung jawab kolektif umat. Tafsir ini juga merefleksikan sikap kritis terhadap ketidakadilan kolonial sekaligus mendorong kesadaran sosial dan kebangsaan pada masa awal kemerdekaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tafsir Al-Furqan berperan penting dalam pembentukan identitas keislaman Nusantara yang kontekstual, dinamis, dan berakar pada nilai-nilai sosial Al-Qur’an.
MADZHAB LINTAS TAFSIR KONTEMPORER Diyah Pratiwi; Angga Rohmandani; Nur Syafiqoh Binti Nahlil; Abdul Rouf
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 01 (2025): Volume 12 No. 01 Maret 2026
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i01.11155

Abstract

The development of contemporary Qur’anic interpretation has generated diverse methodological approaches, resulting in various schools of tafsir with textual, contextual, rational, and thematic tendencies. While this diversity enriches Islamic intellectual discourse, it also poses the risk of fragmented religious understanding. Therefore, an integrative approach is needed to bridge these differences through the framework of cross madhhab contemporary tafsir. This study aims to analyze the concept, characteristics, and relevance of cross madhhab tafsir in addressing contemporary intellectual and socio religious challenges. The research employs a qualitative method with a library research approach, utilizing content analysis and comparative analysis of contemporary tafsir works across different schools. The findings reveal that cross madhhab contemporary tafsir emphasizes dialogical, integrative, and moderate principles in understanding the Qur’an, accommodating multiple interpretive approaches without undermining textual authority. In conclusion, cross madhhab contemporary tafsir represents a strategic approach to fostering inclusive, contextual, and relevant Islamic understanding in response to the dynamics of modern society.
KRITIK DAN RESPON ULAMA KLASIK TERHADAP PENDEKATAN HISTORIS MODERN DALAM TAFSIR AL-QUR’AN: ANTARA PENJAGAAN OTORITAS WAHYU DAN TUNTUTAN KONTEKSTUALISASI Zaimah; Diyah Pratiwi; Muhith
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 Nomor 02, Juni 2026 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.14198

Abstract

Penelitian ini membahas kritik ulama klasik dan respon pemikir modern terhadap pendekatan historis modern dalam tafsir Al-Qur’an. Pendekatan historis modern menekankan pentingnya konteks sosial, budaya, dan sejarah dalam memahami wahyu agar penafsiran Al-Qur’an tetap relevan dengan perkembangan zaman. Namun, pendekatan ini mendapat kritik dari ulama klasik karena dianggap berpotensi menimbulkan relativisme makna, desakralisasi wahyu, dan melemahkan otoritas Al-Qur’an sebagai kalam Allah yang universal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikir modern seperti Fazlur Rahman, Nasr Hamid Abu Zayd, dan Mohammed Arkoun berupaya menjembatani teks wahyu dan realitas modern melalui kontekstualisasi nilai-nilai universal Al-Qur’an. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dialog antara tafsir klasik dan pendekatan historis modern dapat menghasilkan paradigma tafsir moderat yang tetap menjaga otoritas wahyu sekaligus responsif terhadap tantangan kontemporer.