Katarina Dei Ricci Barek Masan
Universitas Nusa Cendana

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENINGKATAN LITERASI MEMBACA SISWA KELAS VI SEKOLAH DASAR MELALUI KEGIATAN MEMBACA 15 MENIT SEBELUM PEMBELAJARAN DIMULAI Katarina Dei Ricci Barek Masan; Briezky Jones Saputra Mooy; Dietrick Michelle Aurelia Pellondou; Sofia Yulin; Jimylton Dethan
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 01 (2025): Volume 12 No. 01 Maret 2026
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i01.11192

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi membaca siswa kelas VI sekolah dasar melalui kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Latar belakang penelitian ini berangkat dari rendahnya minat baca dan kemampuan literasi siswa, yang dipengaruhi kurangnya fasilitas literasi dan minimnya kebiasaan membaca di sekolah. Program membaca 15 menit merupakan bagian dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang menekankan pembiasaan membaca sebagai langkah awal membangun budaya literasi. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dengan subjek siswa kelas VI semester ganjil tahun ajaran 2025/2026. Setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, tes pemahaman bacaan, serta dokumentasi, kemudian ffdianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan membaca 15 menit dapat meningkatkan partisipasi, kedisiplinan, kemandirian, dan fokus membaca siswa. Wawancara dengan siswa dan guru memperlihatkan bahwa kegiatan ini membantu meningkatkan motivasi dan kesiapan belajar siswa. Hasil tes pemahaman bacaan menunjukkan 60% siswa berada pada kategori baik dan 40% kategori cukup. Dengan demikian, kegiatan membaca 15 menit terbukti efektif dalam meningkatkan literasi membaca dan perlu dilaksanakan secara berkelanjutan.
DAMPAK PENGGUNAAN GADGET BERLEBIHAN TERHADAP INTERAKSI SOSIAL ANAK Katarina Dei Ricci Barek Masan; Sisilia Mei Sketsi Meler Laka; Destri Fitriani Meno; Sahaja Tefbana; Rista Apriliya Devi
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 Nomor 02, Juni 2026 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.15317

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak penggunaan gadget berlebihan terhadap interaksi sosial anak muda serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perubahan pola komunikasi sosial. Penelitian menggunakan metode studi literatur (library research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui penelaahan berbagai jurnal, buku, artikel ilmiah, dan hasil penelitian yang relevan mengenai penggunaan gadget dan interaksi sosial. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis isi (content analysis) dengan mengelompokkan temuan berdasarkan tema-tema tertentu. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan gadget yang berlebihan dapat menurunkan kualitas interaksi sosial anak muda, mengurangi frekuensi komunikasi tatap muka, menurunkan kemampuan komunikasi interpersonal, mengurangi rasa empati, serta mendorong munculnya perilaku individualis. Selain itu, penggunaan gadget yang tidak terkontrol juga berpotensi memengaruhi aspek pendidikan, kesehatan, dan perkembangan emosional. Namun demikian, gadget juga memiliki dampak positif apabila digunakan secara bijak, seperti memudahkan komunikasi jarak jauh, memperluas jaringan pertemanan, serta meningkatkan akses terhadap informasi dan pembelajaran. Faktor-faktor yang memengaruhi interaksi sosial meliputi pola asuh orang tua, lingkungan sosial, hubungan dengan teman sebaya, dan penggunaan gadget. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan, pembatasan waktu penggunaan gadget, serta peningkatan kesadaran dalam memanfaatkan teknologi secara seimbang agar interaksi sosial anak muda tetap berkembang secara optimal.