Sumiati
Muhammadiyah University of Makassar

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Manajemen Kurikulum Lembaga Pendidikan Islam Sitti Muthmainnah; Sumiati
Referensi Islamika: Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2023): DECEMBER
Publisher : Academic Bright Collaboration

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61220/ri.v1i2.2044

Abstract

Tujuan dari pembuatan artikel ini untuk memahami pengertian dari manajemen kurikulum pendidikan islam, kemudian untuk mengetahui ruang lingkup dan komponen-komponen kurikulum pendidikan islam serta untuk memahami fungsi manajemen kurikulum dan pengembangan kurikulum. Hal itu diangkat dari permasalahan yaitu apa pengertian manajemen kurikulum, kemudian mengenai yang lingkup dan komponen-komponennya serta apa fungsi dari manajemen kurikulum. Dalam tulisan ini penulis menggunakan jenis kualitatif dalam menyusun tulisan ini yang mana sumbernya diambil dari sumber yang kredibel berupa buku dan website.
Manajemen Pendidikan Teori Manajemen Pendidikan Islam Dari Klasik Hingga Kontemporer Saiyed Mahmuddin Assaqqaf; Muzakkir; Achmad Ichsan Darwis; Sumiati
AL-URWATUL WUTSQA: Kajian Pendidikan Islam Vol. 5 No. 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri evolusi dan perkembangan teori manajemen pendidikan Islam dalam lintasan sejarah, mulai dari periode klasik (abad pertengahan) hingga era kontemporer (masa kini). Studi ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan historis-filosofis untuk menganalisis berbagai literasi primer dan sekunder yang relevan. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa teori manajemen pendidikan Islam telah mengalami perkembangan yang dinamis dan kontekstual. Pada periode klasik, konsep manajemen pendidikan lebih bersifat intuitif dan terintegrasi penuh dengan nilai-nilai keislaman, yang tercermin dari praktik kepemimpinan di lembaga-lembaga seperti kuttab, masjid, dan madrasah. Konsep-konsep Kunci seperti al-Imamah (kepemimpinan), al-‘Adl (keadilan), Syura (musyawarah), dan Amanah (tanggung jawab) menjadi landasan utamanya, yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran para filsuf dan cendekiawan Muslim seperti Al-Ghazali dan Al-Mawardi. Periode pertengahan menandai fase formalisasi dan sistematisasi dengan berdirinya lembaga pendidikan formal seperti Madrasah Nizamiyah, yang membutuhkan struktur organisasi dan manajemen yang lebih kompleks. Sementara itu, pada era kontemporer, teori manajemen pendidikan Islam mengalami proses integrasi dan adaptasi. Teori-teori manajemen modern dari Barat (seperti Manajemen Berbasis Sekolah, Total Quality Management, dan Strategic Management) diadopsi dan disinergikan dengan prinsip-prinsip dan etika Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Hal ini melahirkan paradigma manajemen pendidikan yang tidak hanya mengejar efisiensi dan efektivitas duniawi, tetapi juga bermuara pada pencapaian tujuan ukhrawi (falah). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa teori manajemen pendidikan Islam bukanlah sebuah entitas yang statis. Ia merupakan sebuah tradisi intelektual yang terus berkembang, merespons perubahan zaman melalui dialog yang kritis dan kreatif antara warisan normatif Islam dengan tuntutan modernitas. Sinergi antara prinsip ilahiah dan ilmu manajemen modern menjadi kunci bagi pengembangan lembaga pendidikan Islam yang unggul dan relevan di masa depan.
Struktur Organisasi Pendidikan Islam: Telaah Teologis, Model dan Deskripsi Jabatan Jamaluddin; Mustakim Muhallim; Abd. Rahmat; Sumiati
AL-URWATUL WUTSQA: Kajian Pendidikan Islam Vol. 5 No. 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji landasan teologis, prinsip, model, dan implementasi deskripsi pekerjaan dalam struktur organisasi pendidikan Islam. Permasalahan pokoknya adalah bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat merancang struktur organisasi yang tidak hanya efisien secara manajerial tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai Islam (tauhid, amanah, syura, dan keadilan). Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, menganalisis literatur primer dan sekunder terkait manajemen dan teologi organisasi Islam (An-Nahlawi, 1992; Terry, 2019; dan M. Quraish Shihab, 2000). Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur organisasi pendidikan Islam memiliki empat model utama: sentralistik (cocok untuk pesantren tradisional), desentralistik (cocok untuk UIN/SIT), fungsional, dan matriks. Temuan utama dari studi ini adalah perlunya integrasi deskripsi pekerjaan (job description) yang spesifik ke dalam struktur, di mana setiap jabatan kunci (Kepala Lembaga, Wakil Kepala) harus menjalankan peran ganda sebagai Educator, Manager, Administrator, Supervisor, Leader, Innovator, dan Motivator (EMASLIM) dengan landasan nilai amanah dan profesionalisme (itqan). Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan lembaga pendidikan Islam ditentukan oleh struktur yang adaptif terhadap modernitas dan konsisten dalam menjalankan prinsip teologis dalam setiap aspek tata kelolanya.
Sejarah Manajemen Pendidikan Islam dari Masa Awal Islam Hingga Modern Ahsan Taqwim; Wahyuni; Sumiati
AL-URWATUL WUTSQA: Kajian Pendidikan Islam Vol. 5 No. 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini membahas perkembangan historis manajemen pendidikan Islam dari masa awal Islam hingga era modern dengan menelusuri perubahan orientasi, sistem, dan dinamika kelembagaan pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan menggambarkan perkembangan manajemen pendidikan Islam dari masa Rasulullah Saw., masa klasik dan pertengahan, hingga masa modern. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan analisis historis yang memetakan perkembangan manajemen pendidikan berdasarkan konteks sosial-politik dan perubahan pemikiran dalam masyarakat Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada masa awal Islam, manajemen pendidikan berpusat pada Masjid Nabawi dengan model pendidikan berbasis keteladanan dan sistem pembelajaran yang holistik. Pada masa klasik, pendidikan Islam berkembang pesat melalui lembaga seperti Bayt al-Hikmah dan Madrasah Nizamiyah dengan dukungan manajemen wakaf dan profesionalisme pengajar. Pada masa pertengahan, terjadi kemunduran akibat lemahnya struktur politik, namun pesantren di Nusantara menjadi pengecualian yang mempertahankan model manajemen pendidikan yang mandiri dan berkelanjutan. Masa modern ditandai dengan reformasi pendidikan oleh para pembaru Islam dan penguatan manajemen berbasis integrasi ilmu, teknologi, dan prinsip Total Quality Management. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa manajemen pendidikan Islam selalu mengalami transformasi sesuai tantangan zaman tanpa kehilangan nilai dasar keislamannya.
Transhumanisme dan Krisis Eksistensial: Reorientasi Tujuan Pendidikan Islam Berdasarkan QS. Adz-dzariyat [51]: 56 di Era Society 5.0 Muzakkir; Rosmalina Kemala; Sumiati; Muh Ali Bakri
AL-URWATUL WUTSQA: Kajian Pendidikan Islam Vol. 6 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan Society 5.0 memperkuat konvergensi ruang fisik dan siber sekaligus membuka peluang peningkatan kapasitas manusia melalui kecerdasan buatan, bioteknologi, dan antarmuka manusia-mesin. Dalam kerangka transhumanisme, teknologi tidak lagi diposisikan sekadar sebagai alat, tetapi sebagai sarana untuk melampaui keterbatasan biologis, termasuk penyakit, penuaan, dan kematian. Artikel ini bertujuan menganalisis bias ontologis transhumanisme, menjelaskan bentuk krisis eksistensial yang ditimbulkannya, serta merumuskan reorientasi tujuan pendidikan Islam berdasarkan QS. Adz-Dzariyat [51]: 56. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis filosofis-hermeneutis. Sumber primer meliputi ayat Al-Qur’an dan tafsir kontemporer, sedangkan sumber sekunder mencakup literatur transhumanisme, eksistensialisme, etika teknologi, dan filsafat pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa reduksi manusia menjadi pola informasi, determinisme teknologi, dan desakralisasi kematian berpotensi melemahkan identitas, kehendak bebas, serta orientasi makna. Makna liya‘budun dalam QS. Adz-Dzariyat [51]: 56 menawarkan sauh eksistensial yang menempatkan manusia sebagai ‘abd sekaligus khalifah. Berdasarkan sintesis tersebut, artikel menawarkan empat pilar reorientasi pendidikan Islam, yaitu tauhid eksistensial, integrasi epistemologi tauhid, cyber-adab, dan resiliensi spiritual. Keempatnya diarahkan untuk membentuk manusia yang fasih secara digital, kokoh secara ontologis, bertanggung jawab secara moral, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Tanggung Jawab Negara Vs Otonomi Pesantren: Analisis Kebijakan Pendidikan Islam Di Indonesia Ramlianto; Agil Husain Abdulah; Sumiati; Muh Ali Bakri
AL-URWATUL WUTSQA: Kajian Pendidikan Islam Vol. 6 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dari masyarakat dan selama berabad-abad memiliki otonomi dalam mengelola sistem pendidikan, kurikulum, serta otoritas keilmuan yang berpusat pada kiai. Namun, dinamika kebijakan pendidikan nasional, khususnya setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, menghadirkan relasi baru antara negara dan pesantren yang memunculkan dialektika antara tanggung jawab negara dalam menjamin mutu pendidikan dengan upaya mempertahankan otonomi pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relasi kuasa antara negara dan pesantren dalam kebijakan pendidikan Islam di Indonesia, mengkaji pergeseran otoritas dalam Tri Sentra Pendidikan Islam kontemporer, serta merumuskan model hubungan yang ideal antara negara dan pesantren. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) melalui analisis kebijakan (critical policy analysis). Data diperoleh dari dokumen kebijakan, terutama Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren, serta berbagai literatur ilmiah yang relevan. Analisis dilakukan menggunakan teori relasi kuasa Michel Foucault dan didukung konsep hegemoni Antonio Gramsci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan negara telah memberikan rekognisi, afirmasi, dan fasilitasi terhadap pesantren melalui perlindungan hukum, pendanaan, serta integrasi ke dalam sistem pendidikan nasional. Namun demikian, kebijakan tersebut juga menghadirkan mekanisme standardisasi, akreditasi, dan birokratisasi yang berpotensi menggeser sebagian otoritas kharismatik kiai menuju otoritas rasional-legal negara. Oleh karena itu, diperlukan paradigma kemitraan yang egaliter, di mana negara menjalankan fungsi fasilitatif dan penjaminan mutu tanpa mengintervensi independensi epistemologis serta kekhasan tradisi keilmuan pesantren sebagai bagian dari Tri Sentra Pendidikan Islam.