Perkembangan Society 5.0 memperkuat konvergensi ruang fisik dan siber sekaligus membuka peluang peningkatan kapasitas manusia melalui kecerdasan buatan, bioteknologi, dan antarmuka manusia-mesin. Dalam kerangka transhumanisme, teknologi tidak lagi diposisikan sekadar sebagai alat, tetapi sebagai sarana untuk melampaui keterbatasan biologis, termasuk penyakit, penuaan, dan kematian. Artikel ini bertujuan menganalisis bias ontologis transhumanisme, menjelaskan bentuk krisis eksistensial yang ditimbulkannya, serta merumuskan reorientasi tujuan pendidikan Islam berdasarkan QS. Adz-Dzariyat [51]: 56. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis filosofis-hermeneutis. Sumber primer meliputi ayat Al-Qur’an dan tafsir kontemporer, sedangkan sumber sekunder mencakup literatur transhumanisme, eksistensialisme, etika teknologi, dan filsafat pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa reduksi manusia menjadi pola informasi, determinisme teknologi, dan desakralisasi kematian berpotensi melemahkan identitas, kehendak bebas, serta orientasi makna. Makna liya‘budun dalam QS. Adz-Dzariyat [51]: 56 menawarkan sauh eksistensial yang menempatkan manusia sebagai ‘abd sekaligus khalifah. Berdasarkan sintesis tersebut, artikel menawarkan empat pilar reorientasi pendidikan Islam, yaitu tauhid eksistensial, integrasi epistemologi tauhid, cyber-adab, dan resiliensi spiritual. Keempatnya diarahkan untuk membentuk manusia yang fasih secara digital, kokoh secara ontologis, bertanggung jawab secara moral, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Copyrights © 2026