p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Al Urwatul Wutsqa
Muh Ali Bakri
Muhammadiyah University of Makassar

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Transhumanisme dan Krisis Eksistensial: Reorientasi Tujuan Pendidikan Islam Berdasarkan QS. Adz-dzariyat [51]: 56 di Era Society 5.0 Muzakkir; Rosmalina Kemala; Sumiati; Muh Ali Bakri
AL-URWATUL WUTSQA: Kajian Pendidikan Islam Vol. 6 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan Society 5.0 memperkuat konvergensi ruang fisik dan siber sekaligus membuka peluang peningkatan kapasitas manusia melalui kecerdasan buatan, bioteknologi, dan antarmuka manusia-mesin. Dalam kerangka transhumanisme, teknologi tidak lagi diposisikan sekadar sebagai alat, tetapi sebagai sarana untuk melampaui keterbatasan biologis, termasuk penyakit, penuaan, dan kematian. Artikel ini bertujuan menganalisis bias ontologis transhumanisme, menjelaskan bentuk krisis eksistensial yang ditimbulkannya, serta merumuskan reorientasi tujuan pendidikan Islam berdasarkan QS. Adz-Dzariyat [51]: 56. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis filosofis-hermeneutis. Sumber primer meliputi ayat Al-Qur’an dan tafsir kontemporer, sedangkan sumber sekunder mencakup literatur transhumanisme, eksistensialisme, etika teknologi, dan filsafat pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa reduksi manusia menjadi pola informasi, determinisme teknologi, dan desakralisasi kematian berpotensi melemahkan identitas, kehendak bebas, serta orientasi makna. Makna liya‘budun dalam QS. Adz-Dzariyat [51]: 56 menawarkan sauh eksistensial yang menempatkan manusia sebagai ‘abd sekaligus khalifah. Berdasarkan sintesis tersebut, artikel menawarkan empat pilar reorientasi pendidikan Islam, yaitu tauhid eksistensial, integrasi epistemologi tauhid, cyber-adab, dan resiliensi spiritual. Keempatnya diarahkan untuk membentuk manusia yang fasih secara digital, kokoh secara ontologis, bertanggung jawab secara moral, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Tanggung Jawab Negara Vs Otonomi Pesantren: Analisis Kebijakan Pendidikan Islam Di Indonesia Ramlianto; Agil Husain Abdulah; Sumiati; Muh Ali Bakri
AL-URWATUL WUTSQA: Kajian Pendidikan Islam Vol. 6 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dari masyarakat dan selama berabad-abad memiliki otonomi dalam mengelola sistem pendidikan, kurikulum, serta otoritas keilmuan yang berpusat pada kiai. Namun, dinamika kebijakan pendidikan nasional, khususnya setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, menghadirkan relasi baru antara negara dan pesantren yang memunculkan dialektika antara tanggung jawab negara dalam menjamin mutu pendidikan dengan upaya mempertahankan otonomi pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relasi kuasa antara negara dan pesantren dalam kebijakan pendidikan Islam di Indonesia, mengkaji pergeseran otoritas dalam Tri Sentra Pendidikan Islam kontemporer, serta merumuskan model hubungan yang ideal antara negara dan pesantren. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) melalui analisis kebijakan (critical policy analysis). Data diperoleh dari dokumen kebijakan, terutama Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren, serta berbagai literatur ilmiah yang relevan. Analisis dilakukan menggunakan teori relasi kuasa Michel Foucault dan didukung konsep hegemoni Antonio Gramsci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan negara telah memberikan rekognisi, afirmasi, dan fasilitasi terhadap pesantren melalui perlindungan hukum, pendanaan, serta integrasi ke dalam sistem pendidikan nasional. Namun demikian, kebijakan tersebut juga menghadirkan mekanisme standardisasi, akreditasi, dan birokratisasi yang berpotensi menggeser sebagian otoritas kharismatik kiai menuju otoritas rasional-legal negara. Oleh karena itu, diperlukan paradigma kemitraan yang egaliter, di mana negara menjalankan fungsi fasilitatif dan penjaminan mutu tanpa mengintervensi independensi epistemologis serta kekhasan tradisi keilmuan pesantren sebagai bagian dari Tri Sentra Pendidikan Islam.
Rekonstruksi Pembelajaran Berdiferensiasi Pendidikan Agama Islam Berbasis Kognisi Qur'ani dan Neurosains: Model SAFA Rasihun; Irsyadah Ibrahim; Sumiati; Muh Ali Bakri
AL-URWATUL WUTSQA: Kajian Pendidikan Islam Vol. 6 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran berdiferensiasi dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) masih sering dipraktikkan dengan mengelompokkan peserta didik ke dalam tipe visual, auditori, atau kinestetik. Praktik tersebut bermasalah karena hipotesis pencocokan gaya belajar tidak memperoleh dukungan empiris yang memadai dan berpotensi membatasi pengalaman belajar peserta didik. Artikel ini bertujuan merekonstruksi diferensiasi pembelajaran PAI melalui dialog antara QS. An-Nahl [16]: 78, psikologi kognitif, dan neurosains pembelajaran. Penelitian menggunakan metode kepustakaan kualitatif dengan pendekatan integratif-konseptual. Sumber primer meliputi ayat Al-Qur'an, karya tafsir, dan literatur psikologi Islam; sedangkan sumber sekunder berupa artikel peer-reviewed tentang gaya belajar, integrasi multisensori, pembelajaran multimedia, dan diferensiasi. Data dianalisis melalui pembacaan tekstual, pengodean tematik, perbandingan antarperspektif, dan sintesis model. Hasil kajian menunjukkan tiga temuan. Pertama, preferensi modalitas perlu dibedakan dari klaim bahwa hasil belajar meningkat ketika metode mengajar dicocokkan dengan label VAK. Kedua, QS. An-Nahl [16]: 78 menggambarkan arsitektur kognisi yang integratif melalui as-sam', al-abshar, dan al-af'idah dengan orientasi syukur. Ketiga, sintesis kedua perspektif menghasilkan Model SAFA: Sam' sebagai penerimaan-dialog, Abshar sebagai observasi-representasi, Fu'ad sebagai integrasi makna dan penilaian moral-spiritual, serta Amal sebagai aktualisasi pengetahuan. Model ini mengarahkan diferensiasi pada variasi representasi, dukungan, aktivitas, dan produk belajar tanpa pelabelan tetap. Artikel menyimpulkan bahwa pembelajaran PAI yang evidence-informed sekaligus berorientasi wahyu perlu bersifat multimodal, reflektif, kontekstual, dan transformatif.