Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Efektivitas LRT Palembang Sebagai Inovasi Pelayanan Publik Berbasis Teknologi: Tinjauan Literatur Vini Anggun Pratiwi; Aisa Rosa; Pratama, Ahmad Yusuf; Desi Nurmasari; Dinda Triyani; Rudy Kurniawan; Suci Wahyu Fajriani; Lisya Septiani Putri
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.5136

Abstract

Transportasi publik merupakan komponen penting dalam pembangunan perkotaan karena berperan dalam meningkatkan mobilitas masyarakat dan mengurangi permasalahan kemacetan. Light Rail Transit (LRT) Palembang hadir sebagai salah satu inovasi pelayanan publik berbasis teknologi yang bertujuan meningkatkan efektivitas sistem transportasi perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas LRT Palembang sebagai inovasi pelayanan publik berbasis teknologi melalui pendekatan tinjauan literatur. Metode yang digunakan adalah studi literature review dengan menganalisis berbagai penelitian terdahulu yang berkaitan dengan transportasi publik, kualitas pelayanan, integrasi transportasi, serta pemanfaatan teknologi dalam sistem transportasi perkotaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberadaan LRT berkontribusi dalam meningkatkan mobilitas masyarakat, mengurangi kemacetan lalu lintas, serta memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat perkotaan. Selain itu, kualitas pelayanan, integrasi antar moda transportasi, serta penerapan konsep smart city dan smart mobility menjadi faktor penting dalam meningkatkan efektivitas layanan LRT. Meskipun demikian, optimalisasi pemanfaatan LRT masih memerlukan peningkatan kualitas pelayanan, penguatan integrasi transportasi, serta pemanfaatan teknologi digital secara berkelanjutan. Oleh karena itu, pengembangan LRT sebagai inovasi pelayanan publik perlu didukung oleh kebijakan transportasi yang terintegrasi dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Flexing sebagai Simulakra Status Sosial di Era Digital Nandea Khodijah; Vini Anggun Pratiwi; Maulana, Ridho Adji; Sununianti, Vieronica Varbi; Istiqoma Istiqoma; Kurniawan, Deni Aries
RISOMA : Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Mei: RISOMA : Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan
Publisher : Asosiasi Ilmuwan Pendidikan, Sosial, dan Humaniora Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/risoma.v4i3.1701

Abstract

This study aims to analyze the phenomenon of flexing on social media as a representation of social status in digital society through the perspectives of Jean Baudrillard’s simulacra theory and Erving Goffman’s self-presentation theory. The research employs a qualitative method using content analysis of social media posts, particularly on Instagram and TikTok, that display flexing practices. The research data consist of photos and videos containing symbols of luxury, such as branded goods, luxury vehicles, exclusive locations, and consumptive lifestyles. The findings reveal that flexing is not merely an act of showing off, but also a conscious self-representation strategy used to construct a particular social image. The luxury symbols displayed often do not fully reflect reality, but rather represent identity constructions that have been selectively curated and manipulated according to the desired image. From the perspective of simulacra, these representations have replaced reality itself, causing the boundary between reality and representation to become increasingly blurred. Furthermore, the phenomenon of flexing is closely related to consumer culture, the need for social recognition, and personal branding strategies in the digital era. Exposure to flexing content also encourages social comparison, which may lead to psychological pressure among audiences. Therefore, flexing can be understood as a multidimensional phenomenon reflecting changes in how individuals construct identity, perceive reality, and gain social legitimacy within digital society.