Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH FORMULASI TEPUNG SAGU DAN AIR TERHADAP KARAKTERISTIK SIRUP GLUKOSA Putri, Amalia Dwi Ardini; Moentamaria, Dwina; Dewi, Ernia Novika; Azkiya , Noor Isnaini
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 12 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v12i1.7732

Abstract

Sagu merupakan salah satu komoditas terbesar di Indonesia. Namun, pemanfaatannya masih terbatas pada produksi pati atau tepung sagu yang umumnya digunakan sebagai bahan pangan tradisional atau campuran dalam pembuatan kue dengan skala produksi yang relatif kecil. Padahal, sagu memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi yaitu 79%–80%, berpotensi sebagai bahan baku pembuatan sirup glukosa. Sirup glukosa merupakan gula cair yang dihasilkan melalui proses hidrolisis pati baik secara enzimatis maupun asam. Proses hidrolisis pada penelitian ini dilakukan secara enzimatis menggunakan enzim α-amilase dan glukoamilase. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh variasi perbandingan tepung sagu dan air terhadap karakteristik sirup glukosa yang dihasilkan. Proses pembuatan sirup glukosa diawali dengan tahap gelatinisasi pada suhu 70°C dengan perbandingan tepung sagu dan air sebesar 1:2, 1:4, 1:6, dan 1:8 (b/v). Selanjutnya dilakukan liquifikasi menggunakan enzim α-amilase pada suhu 90°C, dilanjutkan dengan proses sakarifikasi menggunakan enzim glukoamilase pada suhu 50°C selama 72 jam dan dilakukan pemurnian menggunakan karbon aktif. Tahap terakhir yaitu analisa sirup glukosa menggunakan spektrofotometer UV-Vis . Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa kadar glukosa yang diperoleh dari variasi perbandingan tepung sagu dan air berturut-turut sebesar 0,603%, 0,364%, 0,197%, dan 0,131%. Selain itu, kadar air sirup glukosa sebesar 13% telah memenuhi standar mutu berdasarkan SNI 01-2978-1992, dengan batas maksimum kadar air sebesar 20%.
Producing Precipitated Calcium Carbonate (PCC) from CO2 Emissions during OFMSW Bio-Drying through Carbonation: A Preliminary Study Naryono, Eko; Lusiani, Cucuk Evi; Iswara, Mochammad Agung Indra; Chalim, Abdul; Azkiya, Noor Isnaini; Putri, Amalia Dwi Ardini; Tyas, Allivia Retnaning; Kaliawan, Kaliawan
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol. 10 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v10i1.9573

Abstract

Capturing CO₂ emissions during the bio-drying process of organic fraction municipal solid waste (OFMSW) presents an alternative approach to reducing CO₂ emissions in municipal solid waste (MSW) management. Absorption using an aqueous solution of Ca(OH)₂ is a viable CO₂ capture technology that produces precipitated calcium carbonate (PCC), a value-added product. The objectives of this study are to assess the impact of bio-drying aeration flow rate and absorption time in the Ca(OH)₂ solution on CO₂ absorption efficiency, the conversion of Ca(OH)₂, and the mass of the PCC product. The absorption process was performed in a semi-continuous bubble reactor with 15 L of 0.019 M Ca(OH)₂ aqueous solution. At bio-drying aeration flow rates of 5.1, 4.6, and 3.9 L/min/kg of waste, with CO₂ concentrations ranging from 1286 to 4395 ppm and temperatures between 23 to 30°C over a bio-drying period of 96 hours, it was observed that higher flow rates resulted in lower conversion rates of Ca(OH)₂ and reduced CO₂ absorption efficiency. The highest recorded conversion rates for Ca(OH)₂ and CO₂ absorption were 97.3% and 16.4%, respectively, yielding a PCC product of 4.8 g/kg of waste at an aeration flow rate of 3.9 L/min/kg waste and an absorption duration of 48 hours. FTIR and SEM analysis confirmed the presence of both calcite and aragonite crystal forms in the PCC product, as well as hydrated CaCO₃.