Asnika Putri Simanjuntak
Sosial Ekonomi Perikanan, Universitas Riau

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PEMBERDAYAAN REMAJA SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI MELALUI PROGRAM KIE DENGAN METODE PENYULUHAN INTERAKTIF Aidil Akbar; Asnika Putri Simanjuntak; Alltop Amri Ya Habib; Nita Andrini; Rahmanita Sinaga
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 3 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i3.38843

Abstract

Abstrak: Permasalahan kesehatan reproduksi remaja masih ditandai oleh keterbatasan pengetahuan, rasa malu untuk bertanya, dan rendahnya keberanian mengakses informasi yang benar. Pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan remaja sekolah tentang kesehatan reproduksi melalui program Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE). Kegiatan dilaksanakan pada 40 remaja sekolah dengan metode penyuluhan interaktif, diskusi, tanya jawab, pre-test, post-test, dan evaluasi melalui angket. Evaluasi dilakukan berdasarkan respons instrumen yang terkumpul. Hasil menunjukkan rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 91,0 menjadi 98,0 atau naik 7,7%. Sebanyak 65% responden mengalami peningkatan skor, 35% tetap, dan tidak ada yang mengalami penurunan. Selain itu, 79,2% peserta menilai kegiatan sangat baik dan 20,8% menilai baik. Program KIE efektif meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kenyamanan remaja dalam memahami kesehatan reproduksi.Abstract: Adolescent reproductive health problems are still characterized by limited knowledge, embarrassment in asking questions, and low confidence in accessing accurate information. This community service aimed to improve students’ knowledge of reproductive health through a Communication, Information, and Education (CIE) program. The activity involved 40 students and was conducted through interactive counseling, discussion, question-and-answer sessions, pre-test, post-test, and questionnaire-based evaluation. The evaluation was based on returned responses. The results showed that the mean knowledge score increased from 91.0 to 98.0, or by 7.7%. A total of 65% of respondents improved their scores, 35% remained unchanged, and none showed a decrease. In addition, 79.2% of participants rated the activity as very good and 20.8% as good. The CIE program effectively improved adolescents’ knowledge, awareness, and comfort in understanding reproductive health.
Budidaya Perikanan Skala Mikro Terintegrasi untuk Penguatan Ketahanan Pangan dan Ekonomi Masyarakat Pascabencana Di Nagari Koto Kaciak, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat Rizki Oktavian; Desi Rahmadani Siagian; Asnika Putri Simanjuntak; Santi Ramayani
BATOBO: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 1: BATOBO: Juni 2026
Publisher : Jurusan Teknik Elektro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/batobo.4.1.28-35

Abstract

Bencana banjir dan longsor di Nagari Koto Kaciak, Kabupaten Agam, membuat ekonomi warga sulit. Sekitar 68% keluarga mitra mengalami penurunan penghasilan sebesar 25–40% setiap bulan. Masalah lainnya adalah banyak ikan yang mati saat dipelihara (hanya 55–65% yang bertahan hidup) dan hasil usaha kecil (UMKM) sangat sedikit, yaitu di bawah 15 kg per minggu karena alat-alat yang rusak. Program pengabdian ini bertujuan membantu warga kembali mandiri dengan mengenalkan cara budidaya ikan di lahan sempit yang digabung dengan pemasaran digital. Tim mahasiswa dan dosen bekerja sama langsung dengan 100 keluarga dari Kelompok Pokdarwis Sirantiah dan UMKM Cita Rasa. Warga diberikan 110 unit alat "akuaponik-damber" (sistem pelihara ikan di dalam ember yang menyatu dengan tanaman sayur). Hasilnya, ikan yang hidup meningkat menjadi di atas 75% dengan potensi total panen mencapai 440 kg per periode. Warga juga berhasil membuat produk baru bernama "LEMBUKU" (lele bumbu kuning) yang kini dijual melalui toko online di Shopee dan Tokopedia. Selain jangkauan pasar yang meluas hingga ke luar daerah, usaha warga kini sudah memiliki izin resmi (NIB dan PIRT) sehingga lebih dipercaya pembeli. Kegiatan ini membuktikan bahwa penggunaan teknologi sederhana dan penjualan online sangat membantu warga untuk bangkit kembali setelah bencana.
EDUKASI HIV BERBASIS SEKOLAH UNTUK PENCEGAHAN PERILAKU BERISIKO PADA REMAJA Sofyan Andri; Asnika Putri Simanjuntak; Dhini Aiyulie Novri; Cantika Anakita; Donel S.; Renardy Reza Razali
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i2.37760

Abstract

Abstrak: Remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap risiko penularan HIV akibat keterbatasan pengetahuan dan masih adanya sikap serta perilaku berisiko. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan HIV pada remaja melalui edukasi berbasis sekolah. Metode yang digunakan berupa penyuluhan dan diskusi interaktif tentang HIV yang dilaksanakan kepada 240 siswa sebagai mitra kegiatan. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan HIV setelah kegiatan, yang terdiri dari 61 pertanyaan. Hasil menunjukkan bahwa 52,5% peserta memiliki tingkat pengetahuan baik, 58,8% menunjukkan sikap positif terhadap pencegahan HIV, dan 84,6% telah menerapkan perilaku pencegahan yang baik. Capaian ini menunjukkan bahwa edukasi HIV berbasis sekolah berkontribusi positif dalam memperkuat literasi kesehatan dan mendorong pencegahan perilaku berisiko pada remaja. Program ini berpotensi menjadi model intervensi promotif dan preventif di lingkungan sekolah.Abstract: Adolescents are a vulnerable group for HIV transmission due to limited knowledge and the persistence of risky attitudes and behaviors. This community service program aimed to enhance knowledge, attitudes, and HIV preventive behaviors among adolescents through school-based education. The program was conducted through health education sessions and interactive discussions involving 240 students as program partners. Evaluation was carried out using a questionnaire assessing knowledge, attitudes, and HIV-related preventive behaviors after the activity, consisting of 61 questions. The results indicated that 52.5% of participants had good knowledge, 58.8% demonstrated positive attitudes toward HIV prevention, and 84.6% reported good preventive behaviors. These findings suggest that school-based HIV education contributes to improved health literacy and supports the reduction of risky behaviors among adolescents. This program has the potential to serve as a promotive and preventive model for HIV education in school settings.