Dadan Suwarna
Media Bahasa, Sastra, Dan Budaya Wahana

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

SIMBOLISME KERIS SEBAGAI REPRESENTASI PERLAWANAN DALAM “PEREMPUAN YANG MENGAWINI KERIS” KARYA WAYAN SUNARTA Dadan Suwarna; Agatha Trisari Swastikanthi
Triangulasi: Jurnal Pendidikan Kebahasaan, Kesastraan, Dan Pembelajaran Vol 2, No 2 (2022): Volume 02 Nomor 02, November 2022
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNPAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55215/triangulasi.v2i2.6736

Abstract

Abstrak. Perlawanan manusia tidak selalu dilangsungkan secara langsung melainkan juga tidak langsung. Simbolisme adalah perlawanan tidak langsung melalui seperangkat tanda. Gambar atau banda adalah suatu cara manusia mengekspresikan sikap di balik perlawanannya. Dalam tradisi Bali, keris bukan hanya simbolisme status, juga adalah harkat dan harga diri manusia. Keris kemudian jadi cara merperesantsikan bahwa seseorang itu ada atau dipaksa ada. Semiotik mempelajari simbol sebagai cara menjelaskan maksud sesuatu.Kata kunci: simbolisme, keris, semiotika Abstract. Human resistance is not always carried out directly but also indirectly. Symbolism is indirect resistance through a set of signs. Pictures or bands are a way for humans to express the attitude behind their resistance. In Balinese tradition, a keris is not only a symbol of status, it is also human dignity and worth. The keris then becomes a way of conveying that someone exists or is forced to exist. Semiotics studies symbols as a way of explaining the meaning of something.Keywords: simbolism, keris, semiotika 
SIMBOLISME KERIS SEBAGAI REPRESENTASI PERLAWANAN DALAM PEREMPUAN YANG MENGAWINI KERIS” KARYA WAYAN SUNARTA Dadan Suwarna; Agatha Trisari Swastikanthi
Triangulasi: Jurnal Pendidikan Kebahasaan, Kesastraan, Dan Pembelajaran Vol 2, No 2 (2022): Triangulasi: Jurnal Pendidikan Kebahasaan, Kesastraan, dan Pembelajaran
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNPAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55215/triangulasi.v2i2.6736

Abstract

Abstrak. Perlawanan manusia tidak selalu dilangsungkan secara langsung melainkan juga tidak langsung. Simbolisme adalah perlawanan tidak langsung melalui seperangkat tanda. Gambar atau banda adalah suatu cara manusia mengekspresikan sikap di balik perlawanannya. Dalam tradisi Bali, keris bukan hanya simbolisme status, juga adalah harkat dan harga diri manusia. Keris kemudian jadi cara merperesantsikan bahwa seseorang itu ada atau dipaksa ada. Semiotik mempelajari simbol sebagai cara menjelaskan maksud sesuatu.Kata kunci: simbolisme, keris, semiotika Abstract. Human resistance is not always carried out directly but also indirectly. Symbolism is indirect resistance through a set of signs. Pictures or bands are a way for humans to express the attitude behind their resistance. In Balinese tradition, a keris is not only a symbol of status, it is also human dignity and worth. The keris then becomes a way of conveying that someone exists or is forced to exist. Semiotics studies symbols as a way of explaining the meaning of something.Keywords: simbolism, keris, semiotika 
Fenomena Alih Kode dan Campur Kode pada Tindak Tutur Anak Muda Indonesia: Studi Kasus Wawancara Anindita Hidayat di Kanal Youtube TruezID Indonesia Dadan Suwarna
Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.826 KB) | DOI: 10.33751/jsalaka.v4i1.5723

Abstract

Globalisasi dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mengubah perilaku manusia, khususnya dalam tindak tutur. Penggunaan bahasa asing adalah hal yang lazim dilakukan. Di Indonesia, terdapat fenomen alih kode dan campur kode dalam tindak tutur anak muda Indonesia. Penelitian ini membahas alih kode dan campur kode dalam tindak tutur anak muda Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah Anindita Hidayat (selebgram). Penelitian ini mengamati wawancara Aninditas Hidayat di kanal YouTube TrueID Indonesia  pada episode Check In with Onad feat. Anindita Hidayat - TrueID Original Series”. Wawancara itu diunggah pada 11 Februari 2022. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat campur kode dan alih kode pada tindak tutur Anindita Hidayat. pada situasi tertentu, penutur seharusnya dapat menggunakan bahasa Indonesia, tetapi penutur menggunakan bahasa Inggris. Sementara itu, fenomena alih kode ditunjukkan pada peralihan kalimat. Misalnya, pada saat tertentu, penutur menggunakan kalimat dalam bahasa Indonesia, tetapi pada kalimat berikutnya penutur menggunakan bahasa Inggris.
RAGAM BAHASA, PENGAYAAN, DAN IMPLIKASINYA Dadan Suwarna
Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia Vol 3, No 1 (2021): Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.809 KB) | DOI: 10.33751/jsalaka.v3i1.3318

Abstract

Ragam bahasa memberi pengayaan pada bahasa Indonesia karena munculnya variasi kebahasaa dan beragam istilah. Keberagaman istilah itu memperkaya kata atau ekspresi bahasa Indonesia. Namun, pengayaan memiliki masalah. Masalah itu adalah keberterimaan penggunanya, misalnya, pilihan dan tingkat ia diproses, sebut saja secara adopsi ataukah translasi. Pilihan itu kemudian memenpatkan hal sepele, tetapi memiliki beragam konsekuensi. Efek di baliknya adalah kesesuaian fonetis ataukah fonologis. Artikel ini lebih mendeskripsikan masalah dalam keragaman dan pengayaan bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penyerapan dalam bentuk penerjemahan atau adopsi dalam bahasa Indonesia. Namun, penyerapan itu berimplikasi pada ketaksaan, keragaman, dan pengayaan bahasa Indonesia.Kata kunci: ragam bahasa; ragam istilah; serapan bahasa.
ANALISIS GENDER DAN KESADARAN PEREMPUAN DALAM NOVEL TEMPURUNG KARYA OKA RUSMINI Gina Purwanti; Agatha Trisari; Dadan Suwarna
Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia Vol 2, No 2 (2020): Volume 2 Nomor 2 Tahun 2020
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.563 KB) | DOI: 10.33751/jsalaka.v2i2.2540

Abstract

Artikel ini bertujuan mendeskripsikan unsur instrinsik, hasil analisis gender perempuan, dan kesadaran perempuan dalam novel Tempurung karya Oka Rusmini. Artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Objek penelitian ini adalah novel Tempurung karya Oka Rusmini. Artikel ini berfokus pada permasalahan yang berkaitan dengan ketidakadilan perempuan dan kesadaran perempuan yang dikaji dengan analisis gender. Data diperoleh dengan teknik membaca dan mencatat. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) struktur novel berupa unsur intrinsik yang difokuskan pada tema yaitu kehidupan perkawinan yang tidak sempurna juga peran perempuan yang tidak mudah, plot yang terbagi menjadi tahap awal , tahap tengah, dan tahap akhir, penokohan yaitu tokoh Aku” tambahan dan tokoh utama cerita, dan latar yang terbagi menjadi latar tempat, latar waktu, dan latar sosial-budaya; (2) analisis gender yang dibagi menjadi tiga fokus, yaitu subordinasi perempuan, kekerasan terhadap perempuan, dan ketidakadilan gender perempuan; (3) bentuk kesadaran perempuan berupa kesadaran akan tubuh, kemandirian, dan lepasnya perempuan dari tradisi yang mengekang mereka.Kata Kunci: gender; kesadaran perempuan; Oka Rusmini; Tempurung.